BANJARNEGARA — Kepramukaan tidak lahir dari seremoni. Ia tumbuh dari proses panjang, dari kesediaan untuk belajar, ditempa, dan setia pada nilai. Semangat itulah yang menghidupkan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) Kwartir Cabang Banjarnegara yang dilaksanakan di SD Negeri 2 Pagentan, pada 8, 12, 13, 14, dan 15 Januari 2026.
Sebanyak 88 peserta dari Kwarran Pagentan, Pejawaran, dan Batur mendaftar dan mengikuti proses KMD. Tiga peserta mengundurkan diri di tengah jalan, namun 85 peserta bertahan hingga akhir, menuntaskan setiap tahapan kursus dengan disiplin dan kesungguhan. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cermin komitmen: bahwa menjadi pembina pramuka bukan pilihan mudah, tetapi panggilan pengabdian.
Camat Pagentan selaku Ketua Majelis Pembimbing Ranting (Kamabiran), Andri Sulistiyo, menegaskan bahwa kualitas Gerakan Pramuka sangat ditentukan oleh kualitas pembinanya.
“Pramuka yang kuat pasti bermula dari pembina yang hebat. KMD ini bukan sekadar pelatihan teknis atau rutinitas organisasi, melainkan ikhtiar nyata untuk membangun pendidik kepramukaan yang profesional, berkarakter, dan berintegritas. Di tangan para pembina inilah nilai disiplin, kejujuran, kepedulian sosial, dan cinta tanah air diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya lugas.
Menurut Andri, pembina pramuka di sekolah tidak cukup hanya hadir secara administratif. Mereka harus menjadi figur teladan yang hidup bersama nilai-nilai yang diajarkan—hadir sebagai panutan, bukan sekadar pengajar.
Ketua Kwarran Pagentan, Toto Kusnindar, mengingatkan peserta bahwa menjadi pembina adalah proses belajar tanpa garis akhir.
“Tugasmu bukan menunggu tahu, tapi bergerak untuk menjadi tahu. Pembina pramuka tidak boleh berhenti pada apa yang sudah dimiliki. Ia harus terus bergerak, membuka diri, dan belajar dari lapangan, karena anak-anak belajar dari keteladanan, bukan dari ceramah panjang,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Pusdiklatcab Banjarcahyana, Sugeng Wiyono, menekankan bahwa kepramukaan dibangun dari tindakan nyata, bukan slogan.
“Bertindak jauh lebih bermakna daripada berkata-kata. KMD Pagentan adalah bukti bahwa kepramukaan masih dirawat dengan kerja nyata, disiplin, dan kesungguhan. Di sinilah pembina ditempa untuk menjadi contoh hidup—bukan hanya pandai berbicara, tetapi mampu menunjukkan laku yang patut diteladani,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pembina pramuka sejatinya adalah pendidik karakter yang bekerja dalam diam, namun meninggalkan jejak panjang dalam kehidupan anak didik.
Bagi peserta, KMD Pagentan menjadi ruang refleksi sekaligus perjalanan batin. Galuh Miftah Fadilah, salah satu peserta, mengaku mendapatkan perspektif baru tentang makna membina.
“KMD membuka mata saya bahwa membina pramuka bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi sebuah seni dalam membentuk karakter. Kami belajar menjadi pembina yang relevan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan kode kehormatan. Kami pulang membawa bekal dan semangat untuk menghidupkan kembali gairah kepramukaan di pangkalan masing-masing,” katanya.
KMD Pagentan bukan sekadar agenda pelatihan. Ia adalah pertemuan antara idealisme dan pengabdian, antara nilai lama yang dijaga dan tantangan zaman yang dihadapi. Dari ruang kelas sederhana di Pagentan, api kepramukaan dirawat—agar tetap menyala, menerangi, dan membentuk generasi yang tangguh, berkarakter, serta berjiwa pengabdian.***(abenn29_pusdatin)
Dokumentasi : Kwarran Pagentan























Semoga sesudah KMD ini:
1. Mereka semakin bingung, supaya rajin mencari jawaban.
2. Pembinaan Pramuka di Pagentan tidak berjalan tetapi berlari.