Batur, 12 Februari 2026 — Di pelukan alam Batur yang mempesona, ketika kabut pagi masih menggantung manja di punggung bukit dan mentari perlahan meneteskan cahaya ke halaman SMA Negeri 1 Batur, sejarah kecil yang agung sedang ditulis. Bukan dengan tinta, melainkan dengan janji. Bukan di atas kertas, melainkan di dada-dada muda yang bergetar penuh keyakinan.
Kwartir Cabang Banjarnegara melalui Kwartir Ranting Batur menggelar Pelantikan dan Pengukuhan Pramuka Garuda golongan Siaga, Penggalang, dan Penegak dalam dua tahap: Rabu (11/2) dan Kamis (12/2). Dua pagi yang berbeda, namun satu semangat yang sama—melahirkan generasi tangguh berjiwa Garuda.
Pada tahap pertama, 209 calon Pramuka Garuda golongan Siaga berdiri tegap di hamparan halaman sekolah yang dikelilingi udara sejuk pegunungan. Sehari berselang, 189 calon lainnya mengikuti prosesi sakral, terdiri atas 171 Siaga, 9 Penggalang, dan 9 Penegak.
Dari dua hari yang sarat khidmat itu, lahirlah 398 Pramuka Garuda—angka yang bukan sekadar jumlah, melainkan gema harapan.
Upacara dipimpin dengan wibawa oleh Agung Hermawan, S.IP., M.E., Kamabiran Batur, selaku Pembina Upacara. Dalam amanatnya yang tenang namun menggetarkan, ia menyampaikan bahwa menjadi Garuda adalah kehormatan yang tak boleh berhenti pada selempang dan tanda kecakapan.
“Garuda bukan hanya simbol di dada. Ia adalah sikap dalam tindakan. Terbanglah setinggi cita-cita kalian, tetapi jangan pernah lupa akar nilai yang menumbuhkan kalian,” tuturnya, dengan suara yang menyatu bersama desir angin Batur.
Suasana semakin semarak ketika Ketua Tim Pengembang Pramuka Garuda Kwartir Cabang Banjarnegara, Sugeng Wiyono, memberikan pesan yang tegas sekaligus membakar semangat.
“Rugi seorang pramuka yang tidak menyelesaikan kecakapan sampai Pramuka Garuda,” ujarnya lantang. “Garuda adalah puncak ikhtiar. Ia menandai kesungguhan, ketekunan, dan cinta pada proses. Jangan berhenti di tengah jalan, karena di ujung perjuangan ada kemuliaan karakter.”
Kata-katanya disambut tepuk tangan yang bergemuruh, memantul pada dinding-dinding bukit seolah alam pun mengamini.
Ketua Panitia, Nur Hakim, menyampaikan laporan dengan nada penuh keyakinan. Baginya, pelantikan bukan garis akhir, melainkan awal tanggung jawab yang lebih dalam.
“Pramuka Garuda harus memiliki kecakapan yang dijalankan sebelum dan sesudah dilantik. Tanda ini bukan hiasan, melainkan pengingat. Ia menuntut konsistensi dalam sikap, keteladanan dalam perilaku, dan keberanian dalam pengabdian,” ungkapnya, suaranya mengalir seperti mata air yang jernih dan tak pernah lelah.
Di antara barisan tamu yang hadir, seorang ibu berdiri dengan mata berkaca-kaca. Lestari, orang tua dari salah satu Pramuka Garuda, tak mampu menyembunyikan rasa harunya.
“Pramuka Garuda menumbuhkan karakter dari masing-masing anak. Saya melihat perubahan itu—lebih disiplin, lebih bertanggung jawab, lebih peduli. Ini bukan sekadar kegiatan, ini perjalanan jiwa,” katanya lembut, sembari memandang anaknya yang kini berdiri lebih tegak dari biasanya.
Rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan hangat. Dwi Erma KustianidanSutriono memandu acara dengan penuh semangat, menyulam setiap jeda menjadi alur yang hidup. Ajudan Afif Hilmi sigap mendampingi jalannya prosesi, sementara M. Kasfa Ariza Kamil sebagai pembawa bendera melangkah mantap, seakan mengibarkan bukan hanya Merah Putih, tetapi juga harapan yang berkibar di dada setiap peserta.
Langit Batur siang itu tampak lebih biru. Atau mungkin mata yang memandangnya sedang dipenuhi cahaya kebanggaan.
Di lereng yang sunyi namun saksi, 398 anak bangsa telah resmi menyandang nama Garuda. Mereka bukan lagi sekadar peserta didik. Mereka adalah janji yang hidup—tentang integritas, tentang ketekunan, tentang cinta pada tanah air.
Dan ketika prosesi usai, ketika barisan dibubarkan dan tepuk tangan mereda, satu hal tetap tinggal di udara Batur yang sejuk:
Bahwa karakter tidak lahir dari kemudahan, tetapi dari kesungguhan.
Bahwa Garuda tidak sekadar terbang, ia menjaga langit nilai agar tetap biru.
Di Batur, dua pagi itu, kita tidak hanya menyaksikan pelantikan.
Kita menyaksikan masa depan yang sedang jatuh cinta pada prosesnya sendiri.***(abenn29_pusdatin)
Narasumber : M.Romadhon
Dokumentasi : Kwarran Batur























Berdiri tegak, melangkah dengan tegas, berjalan ke arah yang tepat, keberhasilan akan tergenggam!