Banjarnegara – Di bawah cahaya pagi yang jatuh lembut di halaman MI Akhsanul Ulum, semangat itu terasa berbeda. Ada getar yang tak kasat mata, seolah udara ikut menyimpan doa-doa kecil yang mengangkasa. Jum’at, 13 Februari 2026, menjadi hari yang ditandai bukan sekadar oleh seremoni, melainkan oleh tekad yang dilahirkan kembali.
Sebanyak 64 Pramuka Siaga—40 putra dan 24 putri—resmi dilantik dalam kegiatan Pelantikan Pramuka Garuda Siaga Gugus Ir. Soekarno. Aula sekolah yang biasanya sunyi oleh rutinitas pelajaran, pagi itu menjelma ruang sakral: bendera berkibar perlahan, suara langkah teratur, dan dada-dada kecil yang menyimpan harap.
Nama besar Ir. Soekarno tidak sekadar menjadi identitas gugus. Ia menjadi simbol api perjuangan. Dan api itu, pada pagi yang khidmat, seperti berpindah dari sejarah ke dada anak-anak yang berdiri tegap.
Pelantikan dipimpin oleh Vijanti Marzuki dengan nada suara yang tegas namun hangat. Dalam sambutannya ia berkata,
“Perjalanan ini bukan akhir, melainkan awal dari langkah yang lebih besar. Semoga semangat Garuda Siaga selalu tumbuh dalam hati dan mengantarkan pada prestasi-prestasi berikutnya.”
Namun lebih dari sekadar kata-kata, ada keyakinan yang terasa hidup. Seolah setiap kalimat yang terucap menjadi mantra peneguh, menyalakan keberanian dalam jiwa-jiwa muda yang sedang belajar mencintai tanah airnya.
Ketua panitia, Wahyu Anom Suseno menyampaikan bahwa pelantikan ini bukan hanya agenda tahunan, melainkan momentum pembentukan karakter.
“Kami tidak sekadar melantik. Kami sedang menanam. Yang ditanam hari ini adalah keberanian, kedisiplinan, dan cinta pada kebaikan. Semoga kelak tumbuh menjadi pohon keteladanan.”
Sementara itu, Wiwi Sugiastuti yang memberikan sekapur sirih sekaligus tergabung dalam Tim Prada, menuturkan dengan mata berbinar,
“Anak-anak ini bukan hanya peserta didik. Mereka adalah cahaya kecil yang akan menerangi sekelilingnya. Tugas kita menjaga agar cahaya itu tak redup.”
MC acara, Bunda Yulis Mandasari dengan suara lembut namun berenergi, menghidupkan suasana sejak awal.
“Hari ini kita tidak hanya menyaksikan pelantikan. Kita menyaksikan lahirnya janji-janji yang disimpan dalam dada paling tulus.”
Felix, sang pembawa bendera, melangkah penuh kehormatan. Dalam kesederhanaannya, ia menjadi simbol bahwa tugas sekecil apa pun adalah bagian dari kehormatan besar.
“Saya bangga bisa membawa bendera hari ini. Rasanya seperti membawa kepercayaan,” ujarnya singkat namun penuh arti.
Doa dipimpin oleh Naswa Rosidana yang melantunkan harap dengan suara bergetar khusyuk.
“Semoga setiap langkah mereka dijaga, setiap niat diluruskan, dan setiap perjuangan diberkahi.”
Kegiatan berlangsung lancar dan khidmat. Namun di balik kelancaran itu, ada gelombang rasa yang tak mudah dijelaskan: haru orang tua yang menyaksikan, bangga guru yang membimbing, dan semangat anak-anak yang seperti baru menemukan sayapnya.
Pelantikan ini bukan sekadar seremoni administratif. Ia adalah kisah tentang cinta—cinta pada nilai, cinta pada disiplin, cinta pada negeri. Ada asmara yang menggelora dalam semangat kebersamaan, membakar jiwa-jiwa muda agar tak mudah padam oleh zaman.
Di aula sederhana itu, sejarah kecil ditulis. Bukan dengan tinta, melainkan dengan keberanian. Bukan dengan sorotan besar, melainkan dengan kesungguhan hati.
Dan ketika acara usai, yang tertinggal bukan hanya dokumentasi atau daftar hadir. Yang tertinggal adalah getaran: bahwa generasi ini sedang tumbuh, sedang ditempa, dan sedang belajar mencintai masa depan dengan penuh sukacita.
Hari itu, Garuda tidak sekadar dilantik. Ia diterbangkan—dari aula sederhana menuju langit cita-cita yang tak berbatas. ***(abenn29_pusdatin)


















