Susukan, Banjarnegara — Pagi itu, Sabtu 14 Februari 2026, matahari seakan turun lebih rendah untuk menyapa Lapangan Desa Karangjati. Di hamparan tanah yang masih menyimpan embun, seragam cokelat muda berbaris rapi, tawa kanak-kanak berpendar seperti cahaya kecil yang tak pernah lelah menyala. Di sanalah, Pesta Siaga Garuda dan Non-Garuda Kwartir Ranting Susukan digelar—bukan sekadar lomba, melainkan perayaan karakter.
Sejak pukul 08.00 WIB, 50 barung putra dan 50 barung putri dari 50 gugus depan pangkalan memadati arena. Mereka datang bukan hanya membawa nomor undian, melainkan mimpi, semangat, dan keyakinan kecil bahwa hari itu akan menjadi kenangan yang disimpan sepanjang hidup.
Di bawah langit yang bersahabat, kegiatan berlangsung penuh warna. Di Taman Ketakwaan, doa-doa harian dilafalkan dengan khusyuk; suara kecil yang mungkin lirih, tetapi sarat makna. Di Taman Tanda Pengenal, atribut Pramuka dipasang dengan teliti—sebuah pelajaran tentang identitas dan kebanggaan.
Anak-anak itu lalu diuji ingatannya di Taman KIM, menuliskan nama-nama pahlawan nasional hanya dalam hitungan detik. Seolah sejarah tak lagi menjadi buku tebal di rak perpustakaan, melainkan denyut yang hidup dalam dada mereka. Di sudut lain, simpul mati, simpul anyam, dan ikatan jangkar dirajut di Taman Simpul dan Ikatan, mengajarkan bahwa kekuatan lahir dari keterampilan dan ketekunan.
Kompas diputar, arah mata angin disebutkan dengan mantap di Taman Kompas—sebuah simbol bahwa generasi ini tak boleh kehilangan arah. Teriakan riang menggema saat estafet bola di Taman Lembotangkang berlangsung seru; kerja sama menjadi napas yang menyatukan.
Tak kalah memukau, Taman Wawasan Kebangsaan mempertemukan anak-anak dengan rumah adat dan senjata tradisional dari seluruh Nusantara. Dan ketika tari kreasi daerah ditampilkan di Taman Seni Budaya, gerak kecil mereka menjelma bahasa cinta untuk Indonesia. Bahkan kepedulian pun ditanamkan lewat Taman Bumbung Kemanusiaan, saat setiap anak menyisihkan sebagian rezekinya—pelajaran sederhana tentang berbagi.
Sementara itu, di ruang sekretariat, Taman Siaga Garuda menjadi ruang sunyi yang penuh makna—portofolio, buku SKU, SKK, dan sertifikat diperiksa, menandai kesungguhan proses panjang menjadi Pramuka Garuda.
Hasil yang Menggetarkan
Dari kompetisi yang ketat dan sportif, lahirlah para tergiat.
Untuk kategori Non-Garuda Putra, Tergiat I diraih SDN 3 Panerusan Wetan dengan nilai 693.
Kategori Non-Garuda Putri, Tergiat I diraih SDN Piasa Wetan dengan nilai 689.
Pada kategori Garuda Putra, Tergiat I diraih SDN 8 Gumelem Kulon dengan nilai 796.
Sementara Garuda Putri, Tergiat I diraih SDN 1 Gumelem Wetan dengan nilai 794.
Mereka yang menjadi Tergiat I berhak mewakili Kwarran Susukan ke tingkat Kwarcab Banjarnegara—membawa nama, harapan, dan kebanggaan seluruh ranting.
Namun seperti yang berulang kali digaungkan, kemenangan bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang membangun karakter.

Suara yang Menyentuh Hati
Camat Susukan selaku Kamabiran, Siti Izzati, yang bertindak sebagai pembina upacara, menyampaikan pesan yang meneduhkan.
“Pesta Siaga adalah ruang belajar yang dibalut kegembiraan. Di sinilah anak-anak kita berlatih disiplin, keberanian, kerja sama, dan cinta tanah air. Nilai-nilai itu bukan sekadar teori, melainkan fondasi kehidupan. Saya bangga melihat semangat dan wajah ceria mereka hari ini. Kemenangan itu indah, tetapi karakter jauh lebih mulia. Jadilah anak-anak yang berani mencoba, tidak mudah menyerah, dan selalu siap menolong sesama.”
Dengan penuh keyakinan, ia membuka kegiatan tersebut seraya berharap semangat Siaga akan terus menyala melampaui hari itu.
Ketua Kwarran Susukan, Baryono, menegaskan bahwa Pesta Siaga bukan sekadar agenda rutin.
“Kegiatan ini adalah ikhtiar bersama untuk menumbuhkan generasi yang terampil dan berakhlak. Tahun ini, alhamdulillah, 11 gudep putri dan 10 gudep putra telah berstatus Garuda. Harapan kami, ke depan seluruh gugus depan di Susukan dapat menyandang predikat itu. Cuaca yang cerah pagi ini seperti doa yang dikabulkan—semoga dari sini lahir perwakilan terbaik untuk Kwarcab Banjarnegara.”
Sementara Ketua Panitia, Rohadi, menuturkan dengan mata berbinar bahwa kerja keras panitia terbayar lunas.
“Kami ingin Pesta Siaga menjadi ruang yang memotivasi anak-anak untuk tumbuh kreatif, produktif, dan percaya diri. Mereka adalah tunas bangsa yang kelak memikul estafet pembangunan. Hari ini mereka bermain dan berlomba, esok mereka memimpin.”
Salah satu pembina, Eka Mulyati, pun tak mampu menyembunyikan rasa haru.
“Semua gugus depan hadir lengkap dengan dua barung. Ini bukan hanya tentang lomba, tetapi tentang kebersamaan. Melihat para Kamabigus mendampingi sejak upacara hingga akhir kegiatan, terasa betul bahwa pendidikan karakter adalah kerja kolektif.”
Lebih dari Sekadar Lomba
Pesta Siaga Susukan 2026 adalah mozaik kecil tentang Indonesia: keberagaman, kerja sama, kegembiraan, dan harapan. Di lapangan itu, anak-anak belajar bahwa menjadi hebat bukan hanya soal nilai tertinggi, melainkan tentang keberanian mencoba dan ketulusan berbagi.
Ketika matahari beranjak condong dan upacara penutupan digelar, Lapangan Karangjati tak lagi sekadar ruang terbuka. Ia berubah menjadi saksi lahirnya cerita—tentang barung-barung kecil yang berlari dengan mimpi besar.
Dan mungkin, bertahun-tahun ke depan, ketika anak-anak itu telah dewasa, mereka akan mengenang hari ini dengan senyum yang sama: hari ketika mereka belajar bahwa menjadi Siaga berarti selalu ceria, berani, dan siap menolong siapa saja.***(abenn29_pusdatin)
Narasumber : HMD_pusdatin
Dokumentasi : Pusdatin.Bna





















