Banjarnegara—Di tengah hiruk-pikuk kegiatan kepemudaan yang sering kali diukur dari gegap gempita dan sorak sorai, sebuah proses justru tumbuh dalam diam. Tidak riuh, tidak pula banyak tepuk tangan. Namun dari keheningan itulah, lahir sebuah ketegasan yang kelak berdiri di depan khalayak mengatur ritme, menjaga marwah, dan memastikan setiap detik berjalan pada tempatnya.
Pendidikan dan Pelatihan Korps Protokol Pramuka yang kemudian dikenal sebagai KPP Patara tidak hanya menghadirkan pelatihan teknis. Ia menjadi ruang sunyi yang mengajarkan bagaimana kata disusun, suara dijaga, dan sikap dibentuk menjadi bahasa yang tak perlu banyak penjelasan.
Selama tiga hari, 14 hingga 16 Februari 2026, sebanyak 47 peserta menjalani proses yang tidak ringan. Mereka bukan sekadar datang untuk belajar, tetapi untuk ditempa. Bahkan dalam hal yang paling sederhana makan mereka tidak dilayani. Mereka memasak sendiri, meracik kebersamaan di dapur sederhana, belajar bahwa kemandirian adalah fondasi sebelum seseorang dipercaya memimpin jalannya sebuah acara.
Di antara asap dapur yang tipis dan langkah-langkah kaki yang diselaraskan, tumbuh satu kesadaran: bahwa menjadi protokol bukan hanya tentang tampil rapi di depan, melainkan tentang kesiapan dalam segala keadaan.
Materi demi materi disusun bukan sekadar untuk memenuhi jadwal, tetapi untuk membentuk karakter. Dari pemahaman upacara, etika keprotokolan, hingga pelatihan vokal dan public speaking, semuanya berkelindan menjadi satu kesatuan yang utuh sebuah orkestrasi tentang bagaimana seseorang hadir dengan makna. Hari-hari itu berjalan dalam disiplin yang nyaris seperti puisi: dimulai dari fajar yang masih dingin, hingga malam yang perlahan merunduk dalam kelelahan. Di sela jeda, di antara baris-berbaris dan latihan suara, ada satu hal yang perlahan tumbuh kesadaran bahwa peran kecil di depan podium sejatinya memegang kendali atas keseluruhan peristiwa.
Sugeng Wiyono, Kepala Pusdiklatcab Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Banjarnegara, tidak sekadar memberi materi. Ia seperti menulis sajak yang dibacakan perlahan di hadapan mereka yang sedang belajar memahami makna. “Menjadi protokol,” tuturnya dengan nada yang tenang, “adalah belajar hadir tanpa ingin terlihat. Engkau berdiri di depan, tetapi bukan untuk dirimu sendiri. Suaramu mengalir, tetapi bukan untuk dipuji.” Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada kata-kata itu untuk menetap. “Yang kita jaga bukan sekadar acara. Yang kita rawat adalah wibawa. Dan wibawa itu lahir dari ketenangan yang engkau latih hari ini.”
Sementara itu, Pujiono, dalam sesi pelatihan baris-berbaris, menyampaikan bahwa ketegasan bukanlah hasil dari suara keras, melainkan dari sikap yang konsisten. “Baris-berbaris itu bukan sekadar gerakan,” ujarnya, “tetapi tentang menyatukan langkah. Ketika langkah sudah selaras, maka komando sekecil apa pun akan memiliki kekuatan.”
Hal senada juga diungkapkan Hurip Rubi Astuti saat mengampu materi keprotokolan. Ia mengajak peserta memahami bahwa protokol bukan hanya aturan, tetapi rasa. “Protokol itu soal kepekaan,” katanya lembut. “Kapan harus bicara, kapan harus diam, kapan harus maju, dan kapan harus mundur. Di situ letak keindahannya ketika semua berjalan tanpa terasa dipaksa.”
Di ruang itu, intonasi tidak lagi hanya soal naik dan turun nada, tetapi tentang bagaimana sebuah kalimat mampu menyentuh tanpa meninggalkan bekas yang kasar. Suara dilatih agar tidak hanya terdengar, tetapi juga menghidupkan suasana. Dan ketika hari terakhir tiba, suasana tidak lagi sama. Ada yang berubah tidak kasat mata, tetapi terasa.
Dalam penutupan kegiatan Sagiyo, Wakil Ketua Bidang Humas dan Abdimas menyampaikan refleksi yang menegaskan bahwa proses ini bukanlah akhir. “Kalian mungkin merasa lelah,” ucapnya, dengan suara yang mengalir tenang, “tetapi percayalah, kelelahan ini adalah bagian dari perjalanan.
Apa yang kalian pelajari di sini bukan untuk disimpan, tetapi untuk dihidupkan.” Ia memandang para peserta sejenak, seolah memastikan setiap kata sampai. “Protokol itu bukan sekadar tugas. Ia adalah kepercayaan. Dan kepercayaan itu tidak diberikan, tetapi dibangun dari sikap, dari latihan, dari kesungguhan yang kalian tunjukkan selama tiga hari ini.”
Di akhir kegiatan, tidak ada sorak yang berlebihan. Tidak ada euforia yang meledak-ledak. Yang ada hanyalah senyap yang penuh makna sebuah tanda bahwa sesuatu telah tumbuh di dalam diri mereka. KPP Patara tidak hanya melahirkan petugas protokol. Ia melahirkan penjaga ritme.
Mereka yang berdiri di batas antara keteraturan dan kekacauan, antara suara dan makna, antara hadir dan menghilang. Dan mungkin, di sanalah letak keistimewaannya. Di saat banyak orang berlomba untuk tampil, mereka justru dilatih untuk menahan diri. Di saat dunia sibuk mencari sorotan, mereka belajar menjadi cahaya yang tidak perlu disebutkan. Karena dalam setiap upacara yang berjalan khidmat, dalam setiap acara yang tertata rapi, selalu ada mereka yang bekerja dalam diam, namun menentukan segalanya.
Dan dari Banjarnegara, dalam sunyi yang terlatih itu, lahirlah sebuah keyakinan baru: bahwa wibawa bukanlah sesuatu yang ditunjukkan, melainkan sesuatu yang dirasakan.***(abenn29_pusdatin)





















Memimpin atau dipimpin? Pramuka tahu jawabannya dalam bentuk tindakan. Protokol salah satu bentuk kepemimpinan Pramuka!