Banjarnegara—Semangat pengabdian dan jiwa kerelawanan menggema dari Sanggar Pramuka Banjarnegara, Sabtu (21/1/2025). Sebanyak 65 peserta mengikuti Orientasi Anggota Baru Pramuka Peduli Kwartir Cabang Banjarnegara, sebuah momentum yang bukan sekadar kegiatan pembinaan, tetapi menjadi titik awal lahirnya relawan-relawan muda yang siap mengabdi dengan hati dan aksi nyata.
Dalam suasana hangat namun sarat makna, para peserta dibekali berbagai materi dasar yang menjadi fondasi gerakan kemanusiaan. Mulai dari kepramulian sebagai ruh pengabdian, kerelawanan sebagai panggilan jiwa, hingga keterampilan teknis seperti reportase lapangan, pertolongan pertama, dan pengaturan lalu lintas. Setiap materi disampaikan dengan pendekatan yang membangun kesadaran, bahwa menjadi relawan bukan hanya soal kemampuan, tetapi juga ketulusan.
Kegiatan ini terasa semakin istimewa karena berada dalam suasana menyambut Hari Baden Powell, tokoh pendiri gerakan kepanduan dunia, Baden-Powell. Semangat Be Prepared yang diwariskannya seolah hadir di tengah peserta, mengalir dalam setiap proses pembelajaran, meneguhkan bahwa Pramuka adalah tentang kesiapsiagaan dan kepedulian tanpa batas.
Lebih dari itu, orientasi ini juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi Karya Bhakti Lebaran, sebuah agenda kemanusiaan yang menuntut kehadiran relawan di tengah masyarakat. Dari pengamanan arus mudik hingga layanan pertolongan, Pramuka Peduli diharapkan menjadi garda terdepan yang menghadirkan rasa aman dan kepedulian.
Wakil Ketua Humas dan Abdimas Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Banjarnegara, Sagiyo, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal dalam membentuk karakter relawan yang tangguh dan berintegritas.
“Orientasi ini bukan akhir, melainkan pintu masuk untuk perjalanan panjang pengabdian. Kami berharap anggota baru Pramuka Peduli Banjarnegara dapat tumbuh menjadi relawan yang sigap, kuat, dan berintegritas. Relawan yang tidak hanya hadir saat dibutuhkan, tetapi mampu menjadi harapan bagi masyarakat,” ujarnya penuh keyakinan.
Ia menambahkan bahwa dalam setiap tugas kemanusiaan, relawan harus membawa lebih dari sekadar kemampuan.
“Kita tidak hanya membawa keterampilan, tetapi juga membawa hati. Ketika kita membantu sesama, sejatinya kita sedang menjaga kemanusiaan. Dari sinilah karakter Pramuka diuji—tentang keikhlasan, ketangguhan, dan kepedulian,” lanjutnya.
Sagiyo juga menekankan pentingnya memaknai Hari Baden Powell sebagai refleksi diri.
“Baden Powell mengajarkan kita untuk selalu siap. Maka relawan Pramuka Peduli harus siap dalam segala kondisi—siap membantu, siap berkorban, dan siap berdiri di garis depan ketika masyarakat membutuhkan,” tegasnya.
Sementara itu, Dwi Cahyo Ariwidodo Sekretaris Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Banjarnegara memperkuat semangat tersebut dengan menekankan bahwa peringatan Hari Baden Powell bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk meneguhkan kembali nilai-nilai dasar kepramukaan.
“Hari Baden Powell adalah saat kita bercermin. Kita tidak hanya mengenang sosok Baden-Powell, tetapi bagaimana kita melanjutkan nilai-nilai yang beliau wariskan—tentang kesiapsiagaan, kepedulian, dan keberanian bertindak,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa prinsip Be Prepared harus menjadi nafas setiap relawan.
“Relawan Pramuka Peduli harus selalu siap dalam segala situasi. Siap membantu tanpa diminta, hadir tanpa pamrih, dan menjadi garda terdepan dalam aksi kemanusiaan. Inilah esensi Pramuka yang sesungguhnya,” lanjutnya.
Lebih jauh, Dwi Cahyo Ariwidodo juga mengaitkan kegiatan ini sebagai bagian dari kesiapan menghadapi Karya Bhakti Lebaran.
“Karya Bhakti Lebaran adalah ujian nyata bagi relawan. Di sanalah kita hadir di tengah masyarakat, membantu kelancaran arus mudik, memberikan pertolongan, dan menjadi wajah kepedulian. Maka orientasi ini adalah bekal penting agar setiap relawan mampu bertugas dengan sigap, terampil, dan profesional,” jelasnya.
Ia pun berharap para anggota baru tidak hanya sekadar mengikuti kegiatan, tetapi benar-benar menjadikan relawan sebagai jalan pengabdian.
“Saya berharap dari kegiatan ini lahir relawan yang tidak hanya kuat secara keterampilan, tetapi juga memiliki hati yang tulus. Karena dalam setiap aksi kemanusiaan, yang paling utama adalah keikhlasan. Ketika hati terpanggil, maka tidak ada lelah dalam mengabdi,” tuturnya.
Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh anggota untuk menjaga semangat pengabdian dalam setiap langkah.
“Jadilah relawan yang tetap hadir meski tak selalu terlihat. Karena pengabdian sejati adalah tentang ketulusan, bukan pengakuan,” pungkasnya.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa semangat Gerakan Pramuka terus tumbuh dan berdenyut di Banjarnegara. Dari sebuah sanggar sederhana, lahir harapan besar—bahwa di masa depan, akan semakin banyak relawan muda yang siap hadir, membantu, dan mengabdi untuk sesama.
Di Banjarnegara, api itu telah dinyalakan.
Dan kini, nyalanya menjelma menjadi gerakan—bergerak untuk kemanusiaan, mengabdi tanpa batas.***(abenn29_pusdatin)
Narasumber : Slamet Riyadi
Dokumentasi : Slamet Riyadi





















“Gila” nya Pramuka lebih waras jika jiwa pengabdiannya semakin membara!