Ramadan selalu datang membawa keheningan yang sarat makna bulan ketika langit terasa lebih dekat, doa-doa melambung lebih khusyuk, dan manusia berlomba menghadirkan kebaikan. Tahun ini, dari tanggal 19 Februari hingga 15 Maret 2026, denyut kebaikan itu terasa hangat di Purwareja Klampok. Bukan sekadar ibadah personal, tetapi gerakan bersama yang menjelma menjadi ikhtiar membangun sumber daya manusia sejak dini.
Di tengah suasana sahur yang sederhana dan senja yang dihiasi lantunan ayat suci, Pramuka Penegak hadir sebagai pelita. Mereka mengambil peran nyata dalam Program Bina Masyarakat, menjangkau 21 titik pembelajaran TPQ, LPQ, Madin, pondok, hingga mushola yang tersebar di wilayah Purwareja Klampok. Di tempat-tempat sederhana itulah, masa depan bangsa sedang dirawat dengan penuh ketulusan.
Adalah Azzahra Aisyah Risma Dianti, Ketua Dewan Kerja Ranting Purwareja Klampok, yang menjadi penggerak semangat ini. Dengan keyakinan bahwa pemuda bukan hanya pewaris masa depan, tetapi juga penjaga nilai hari ini, ia menggandeng Pramuka Penegak dari berbagai pangkalan. Dari SMA N 1, SMK HKTI 1, SMK HKTI 2, SMK Bina Mandiri, hingga MA Al Hidayah semuanya bersatu dalam satu tekad: mengabdi.
Dari kolaborasi itu, lahirlah 105 personel Sangga Kerja. Mereka bukan sekadar relawan, melainkan penjaga cahaya ilmu. Setiap sore hingga malam, mereka mendampingi santri dan santriwati, mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur’an, membimbing akhlak, sekaligus menanamkan semangat belajar yang penuh harapan.
Di balik angka-angka itu, tersimpan kisah-kisah kecil yang menghangatkan. Tentang santri yang mulai lancar membaca ayat suci, tentang tawa anak-anak di sela-sela belajar, hingga tentang keikhlasan para Penegak yang rela berbagi waktu di bulan penuh berkah. Ramadan menjadi ruang perjumpaan antara pengabdian dan harapan antara mereka yang mengajar dan mereka yang belajar, keduanya sama-sama tumbuh.
Dukungan penuh datang dari Slamet Kurniadi, Ketua Kwartir Ranting Purwareja Klampok. Ia menaruh harapan besar pada para Penegak agar menjalankan tugas dengan sepenuh hati. “Selama Ramadan, adik-adik Penegak diharapkan dapat bertugas semaksimal mungkin, menjaga sikap, serta mampu membawa diri di lingkungan tempat mereka mengabdi,” pesannya. Sebuah pengingat bahwa pengabdian bukan hanya tentang apa yang dilakukan, tetapi juga bagaimana nilai itu dihidupi.
Program ini bukan sekadar kegiatan, melainkan gerakan sunyi yang sarat makna. Di tengah dunia yang bergerak cepat, para Penegak memilih untuk berhenti sejenak menjadi bagian dari proses panjang membangun manusia. Mereka hadir bukan untuk dilihat, tetapi untuk memberi arti.
Ramadan di Purwareja Klampok pun menjadi lebih dari sekadar ritual tahunan. Ia menjelma menjadi ruang belajar, ruang berbagi, dan ruang menumbuhkan harapan. Di tangan-tangan muda itu, cahaya kebaikan disemai, menjalar pelan namun pasti, menembus batas-batas desa, dan mungkin suatu hari akan menerangi masa depan yang lebih baik.
Karena sejatinya, pembangunan tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang, ia lahir dari suara pelan seorang Penegak yang mengajari huruf hijaiyah, dari langkah kaki yang menyusuri mushola ke mushola, dan dari hati yang memilih untuk peduli.
Dan di Ramadan ini, Purwareja Klampok telah membuktikan bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu menemukan jalannya untuk menjadi cahaya.***(abenn29_pusdatin)
Narasumber : Anggita
Dokumentasi : Anggita



















