BANJARNEGARA – Pagi Idulfitri , Jumat (20/3/2026), di Alun-Alun Banjarnegara tidak hanya dipenuhi gema takbir yang mengalun syahdu, tetapi juga denyut kerja sunyi para anggota Pramuka Peduli yang bergerak lincah, nyaris tanpa suara, namun penuh makna. Di tengah ribuan jamaah yang memadati lapangan, mereka hadir sebagai penjaga keteraturan sekaligus pelayan ketulusan.
Sejak fajar belum sepenuhnya merekah, para relawan berseragam cokelat dan oranye itu telah menapaki rumput basah, membentangkan sajadah panjang berlapis-lapis, memastikan setiap jengkal tempat siap menyambut sujud umat. Tangan-tangan muda itu bekerja cepat namun teratur menggelar, merapikan, dan menata arah saf agar tetap lurus dan rapi.
Di sudut lain, beberapa anggota terlihat membantu jamaah, terutama lansia dan perempuan, menemukan tempat terbaik untuk beribadah. Dengan senyum sederhana dan gestur sopan, mereka mengarahkan, mempersilakan, bahkan sesekali menuntun langkah.
Tak berhenti di situ, selepas salat, peran mereka berlanjut. Sejumlah anggota Pramuka Peduli turun ke jalur pejalan kaki, membagikan selebaran, membantu mengatur arus keluar jamaah, hingga menjaga kebersihan area. Ada yang menyapa, ada yang mengulurkan tangan, ada pula yang sekadar memastikan setiap orang pulang dengan rasa nyaman.
Momen paling hangat justru tampak saat interaksi kecil terjadi ketika seorang anggota menyerahkan sesuatu kepada jamaah dengan penuh hormat, disambut senyum tulus yang seolah menjadi bahasa universal Idulfitri: saling memaafkan dan berbagi kebahagiaan.
Kehadiran tenda layanan di sekitar alun-alun juga menjadi penanda kesiapsiagaan mereka. Di sana, Pramuka Peduli bersiaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan bantuan, menjadikan kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan wujud nyata pengabdian.
Ada sesuatu yang nyaris tak kasat mata namun terasa kuat: semangat gotong royong yang hidup. Pramuka Peduli tidak sekadar membantu secara teknis, tetapi menghadirkan suasana membingkai Idulfitri dengan ketenangan, keteraturan, dan kehangatan.
Di tengah riuh takbir dan langkah kaki yang saling bersilangan, mereka menjadi simpul yang mengikat semuanya: antara ibadah dan kemanusiaan, antara tradisi dan pelayanan, antara kerja dan keikhlasan.
Dan pagi itu, di Banjarnegara, Idulfitri tidak hanya dirayakan ia dirawat. Oleh tangan-tangan muda yang bekerja dalam diam, namun meninggalkan jejak yang terasa lama di hati.***(abenn29_pusdatin)
Dokumentasi : Pramuka Peduli Banjarnegara

























