Banjarnegara — Embun pagi yang menetes di dedaunan Argasoka seolah turut menyapa ratusan peserta Jambore Kwartir Ranting Banjarnegara. Di balik tenda-tenda yang berjajar rapi, senyum para pramuka muda merekah, seakan semesta ikut bersukacita menyambut sebuah perjalanan belajar yang tak hanya menambah keterampilan, tetapi juga mengikat rasa kebersamaan.
Hari kedua jambore menjadi lebih berwarna. Riuh tawa berpadu dengan rasa ingin tahu ketika anak-anak pramuka diajak menyelami kearifan lokal Banjarnegara. Di aula Kelurahan Argasoka, aroma pandan dan santan menyeruak, menyatukan nostalgia akan minuman khas tanah ini: Dawet Ayu Banjarnegara.
Dengan penuh kelembutan, Ibu Andisi, pegiat minuman tradisional dari Desa Wanasari, memandu setiap langkah membuat dawet. Tepung beras yang lembut, hijau pandan yang menyejukkan mata, serta manisnya gula kelapa berpadu dengan segarnya santan, menjelma dalam gelas sederhana yang menyimpan kisah panjang budaya Banjarnegara.
Lurah Argasoka, Fajar, menyelipkan pesan penuh makna.
“Dawet ayu bukan sekadar minuman. Ia adalah cerita tentang kecantikan budaya kita. Tradisi yang harus kita jaga, karena di dalam setiap tegukannya ada sejarah, ada doa, dan ada cinta pada Banjarnegara,” ujarnya teduh, seakan mengukir keyakinan di hati para peserta bahwa melestarikan budaya adalah bagian dari tugas generasi muda.
Dia menambahkan, saat ini dawet ayu Banjarnegara mudah ditemukan di berbagai kota. Perpaduan yang tepat antara cendol beraroma pandan, santan yang dipadu dengan gula aren dan durian merupakan cita rasa khas dawet ayu Banjarnegara. Ada cerita lama yang melegenda, bahwa nama “Ayu” (cantik) pada Dawet Ayu berasal dari seorang penjual dawet berparas jelita, atau dari istri penjual yang juga cantik.
Koordinator kegiatan, Wiwi Sugi Astuti, menegaskan, “Keunikan cita rasa khas ini adalah bagian dari identitas budaya masyarakat Banjarnegara yang wajib dilestarikan. Karena itu, anak-anak pramuka diharapkan tidak hanya mencicipi, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki dan cinta terhadap kearifan lokal Banjarnegara.”
Tak jauh dari sana, di aula Kecamatan Banjarnegara, kelompok lain larut dalam seni mengolah kedelai menjadi tempe. Dengan tangan mungil penuh semangat, para pramuka mencoba, bertanya, dan bereksperimen. Mereka belajar bahwa dari bahan sederhana bisa lahir pangan yang mulia, menyehatkan, dan menjadi bagian dari identitas bangsa.
Koordinator kegiatan, Wiwi Sugi Astuti, juga mengungkapkan harapannya, “Lewat dawet ayu dan tempe, kita belajar bahwa budaya adalah jati diri. Anak-anak ini bukan hanya menikmati, tetapi juga merawat, melestarikan, bahkan mencintai Banjarnegara dengan cara mereka.”
Di sela kegiatan, tampak wajah kecil penuh keceriaan. Jasmine Sabhria Qisya, putri Bupati Banjarnegara Amalia Desiana, tersenyum lebar setelah meneguk dawet buatannya sendiri. Dengan polos ia berseru, “Wah, dawet ayu Banjarnegara segeeeerrrr…” Kalimat sederhana itu menjadi gema kebahagiaan, menular pada semua yang hadir.
Lebih dari sekadar keterampilan, jambore ini membentuk karakter: kemandirian, kepemimpinan, dan kepedulian. Setiap anak diajak merasakan bahwa pramuka bukan hanya tentang baris-berbaris atau tali-temali, tetapi tentang menumbuhkan cinta: pada sesama, pada budaya, dan pada tanah air.
Di bawah cahaya senja yang jatuh di lapangan Argasoka, jambore hari itu menutup dengan rasa syukur. Ada peluh yang terbayar dengan tawa, ada lelah yang luruh dalam kebersamaan, dan ada keyakinan bahwa generasi muda Banjarnegara tengah ditempa menjadi pribadi tangguh—cerdas, peduli, dan berjiwa pemimpin.
Jambore Kwarran Banjarnegara kali ini bukan sekadar perkemahan. Ia adalah kisah asmara. Ada pertemuan, ada kehangatan, ada janji yang diam-diam terucap di hati anak-anak pramuka: untuk menjaga warisan, merawat persaudaraan, dan tumbuh menjadi manusia yang penuh cinta. Ada peluh yang berganti senyum, ada lelah yang terbayar tawa, dan ada keyakinan bahwa generasi muda Banjarnegara sedang belajar sesuatu yang jauh lebih indah: mencintai budaya, mencintai tanah air, dan mencintai sesama.
Jambore ini adalah perkemahan, tetapi sejatinya ia lebih dari itu. Ia adalah madrasah kehidupan. Tempat di mana anak-anak belajar bukan hanya dengan pikiran, tetapi dengan hati. Karena sesungguhnya, jambore ini adalah panggung kecil di mana hati-hati muda sedang belajar—bagaimana rasanya benar-benar jatuh cinta.
Narasumber : Sunarti
Editor : abenn29_pusdatin.bna





