Banjarnegara — Siang itu, langit Argasoka berwarna biru terang. Panas matahari memantul dari hamparan lapangan, namun tak mampu meluruhkan semangat ratusan peserta yang tengah menutup perjalanan tiga hari Jambore Ranting Kwaran Banjarnegara, Sabtu 23/8/2025.
Sejak pagi, denyut kegiatan mengalir tanpa henti. Usai menunaikan ibadah Subuh berjamaah, peserta larut dalam senam pagi, menyambut hari terakhir dengan gerak penuh riang. Dari wajah-wajah belia itu terpancar energi yang tak lekang meski teriknya siang semakin menggigit.
Puncak ketekunan terlihat dalam Scout Rally. Dengan penuh kesungguhan, peserta membangun tenda, mengikat simpul, hingga merayap di lintasan halang rintang. Ada keringat, ada tawa, dan ada pula rasa percaya diri yang kian tumbuh. “Latihan ini bukan sekadar uji keterampilan, tetapi upaya menumbuhkan kemandirian dan karakter yang tangguh,” tutur Hari Prabowo, koordinator kegiatan, sambil menyaksikan antusiasme peserta.
Menjelang tengah hari, panggung seni kembali hidup. Tari tradisional, musik, hingga paduan suara lagu Pramuka menyalakan suasana. Anak-anak yang semalam menari di sekitar api unggun, kini tampil kembali dengan sorot mata yang berbinar. Pertunjukan itu seakan menegaskan, jambore bukan hanya soal tenda dan barisan, tetapi juga perayaan budaya dan kebersamaan.
Wiwi Sugi Astuti, ketua koordinator, mengingatkan bahwa ajang ini tak pernah dimaksudkan untuk mencari juara. “Yang kami tekankan adalah apresiasi: tercekatan, terdemokratis, ternasionalis, terreligius, terhumanis. Itulah nilai yang akan mereka bawa pulang,” ucapnya, lirih namun penuh makna.
Lalu, tibalah momen klimaks. Mobil pemadam kebakaran memasuki lapangan dengan sirine yang memecah siang. Bapak Eling, perwakilan Dinas Pemadam Kebakaran Banjarnegara, berbicara tentang pentingnya kesiapsiagaan. Bahwa Damkar bukan sekadar penjaga api, tetapi garda terdepan dalam penyelamatan. Peserta menyimak dengan khidmat, sebelum akhirnya, semburan air deras menari di udara, mengguyur anak-anak yang sontak bersorak dan berjoget gembira.
Air itu bukan sekadar pelepas panas siang, melainkan simbol penutup yang menyatukan: keringat, tawa, dan kenangan. Dari balik guyuran, terlihat wajah-wajah basah namun bahagia, seolah setiap tetesnya menyegel persaudaraan yang terjalin tiga hari penuh.
Dan ketika semua usai, lapangan Argasoka kembali lengang. Bekas pijakan kaki masih membekas di tanah, sisa pancang tenda sudah dibereskan, dan suara riang perlahan larut bersama angin siang. Namun jejak jambore tak hilang begitu saja; ia melekat dalam ingatan setiap peserta—tentang kebersamaan, tentang karakter, dan tentang mimpi yang baru saja mereka ikrarkan.
Jambore Kwaran Banjarnegara pun resmi ditutup. Tapi kisahnya akan terus hidup, dalam hati anak-anak yang pulang dengan mata berbinar, membawa pulang bukan sekadar cerita, melainkan api semangat yang akan tumbuh di masa depan.***abenn29_pusdatin.bna
Narasumber : Sunarti
Dokumentasi : awan
Editor : abenn29_pusdatin.bna







