BANJARNEGARA — Sebanyak 340 Pramuka Siaga Garuda dan 27 Pramuka Penggalang Garuda resmi dilantik dalam sebuah upacara khidmat yang digelar Kwartir Ranting (Kwarran) Gerakan Pramuka Banjarmangu, Sabtu pagi, di SMP Negeri 1 Banjarmangu. Pelantikan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 11.30 WIB itu menjadi penanda bahwa proses pembinaan karakter melalui kepramukaan terus menunjukkan arah yang positif dan berkelanjutan.
Kegiatan pelantikan Pramuka Garuda—tingkatan tertinggi dalam golongan Siaga dan Penggalang—diikuti oleh peserta dari 24 pangkalan SD/MI dan 2 pangkalan SMP/MTs. Jumlah ini mencerminkan meningkatnya kesadaran satuan pendidikan dan orang tua bahwa Pramuka Garuda bukan sekadar simbol prestasi, melainkan buah dari proses panjang pembinaan sikap, keterampilan, dan keteladanan.
Camat Banjarmangu sekaligus Kamabiran, Gaba Tri Sumbar Wanto, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Kwarran Banjarmangu yang secara konsisten menyelenggarakan pelantikan Pramuka Garuda dari tahun ke tahun dengan kualitas yang terus dijaga.
“Saya mengucapkan selamat kepada Kwarran Banjarmangu. Dari tahun ke tahun, jumlah Pramuka Garuda yang dilantik terus meningkat. Ini menunjukkan pembinaan yang berjalan, bukan instan. Selamat kepada anak-anak yang hari ini dilantik. Setelah menjadi Garuda, tanggung jawabnya justru lebih besar: menjadi contoh, menjadi teladan, dan menjadi inspirasi bagi teman-temannya, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah,” ujar Kamabiran.
Ia menegaskan bahwa Pramuka Garuda sejatinya adalah anak-anak pilihan yang lahir dari proses, bukan dari sekadar ambisi popularitas atau kebanggaan semu. Menurutnya, Pramuka Garuda harus hadir sebagai wajah generasi muda desa yang berkarakter, disiplin, dan peduli.
Sementara itu, Ketua Kwarran Banjarmangu, Sudaryono, menekankan bahwa pelantikan ini bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab moral yang lebih besar. Dengan gaya khas yang membumi, ia mengingatkan bahwa keteladanan justru dimulai dari hal-hal paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Menjadi Pramuka Garuda itu bukan hanya soal lencana di dada. Jaga salatnya, rajin belajar, hormati orang tua. Makan masakan ibu dengan syukur, bantu orang tua di rumah—cuci baju sendiri, buatkan minum ayah dan bunda, cuci piring, dan jaga kebersihan sekolah. Garuda itu terlihat dari sikap, bukan dari seragam,” tutur Sudaryono.
Ia bahkan menegaskan bahwa gelar Garuda mengandung konsekuensi nilai.
“Kalau tidak menjalankan nilai-nilai itu, silakan orang tua atau guru melaporkan. Garuda yang tidak memberi teladan, lebih baik dilepas bajunya. Karena Pramuka Garuda harus menjadi contoh hidup, bukan sekadar gelar kehormatan,” tegasnya.
Pelantikan ini diselenggarakan oleh panitia yang diketuai Aan Titik, dengan Toto sebagai sekretaris dan Endang Retno sebagai bendahara. Acara dipandu oleh Debby sebagai MC, didukung dokumentasi oleh Alfi, serta pengelolaan barisan peserta oleh Rhoma. Kegiatan berjalan tertib, penuh semangat, dan sarat nilai edukatif.
Lebih dari sekadar seremoni, pelantikan Pramuka Garuda di Banjarmangu menjadi pengingat bahwa membentuk generasi unggul tidak bisa ditempuh secara instan. Ia membutuhkan proses panjang, keteladanan pembina, dukungan orang tua, serta konsistensi nilai dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah tantangan zaman, Pramuka Garuda diharapkan hadir sebagai penjaga nilai, generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kokoh secara moral—menjadi Garuda yang membumi, berakar pada keluarga, sekolah, dan masyarakat.***(abenn29_pusdatin)
Dokumentasi : Kwarran Banjarmangu
Narasumber : Imam Budiyanto























