Pagedongan—Sabtu pagi itu, 14 Februari 2026, langit seperti turut menunduk, menyaksikan satu perayaan yang bukan sekadar kegiatan, melainkan denyut harapan. Di halaman SMPN 1 Pagedongan, ratusan seragam cokelat muda berbaur dalam semangat yang sama: menjadi lebih baik, menjadi lebih kuat, menjadi generasi yang kelak mengisi negeri dengan cahaya.
Pesta Siaga Ranting Pagedongan Tahun 2026 bukan hanya pertemuan 480 anak dari 29 barung putra dan 31 barung putri. Ia adalah kisah tentang perjumpaan, tentang kerinduan yang terobati oleh tawa, tentang semangat yang menjelma menjadi energi yang tak terlihat, namun terasa di setiap langkah kecil kaki-kaki mungil itu.
Di setiap sudut lapangan, terdengar suara riang. Seolah setiap anak membawa cerita masing-masing, dan hari itu, mereka menuliskannya bersama.
Lebih dari Sekadar Lomba, Ini Tentang Rasa
Di balik perlombaan yang berlangsung, tersimpan makna yang lebih dalam. Anak-anak belajar tentang kerja sama, keberanian, kejujuran, dan tentang bagaimana menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Dan di saat itulah, Pagedongan seakan berubah menjadi ruang yang penuh cinta—cinta pada teman, pada kebersamaan, pada masa depan yang sedang mereka bangun tanpa sadar.
Hasil Kejuaraan: Prestasi yang Menggema
Kemeriahan itu mencapai puncaknya saat hasil kejuaraan diumumkan. Tepuk tangan menggema, bukan hanya untuk pemenang, tetapi untuk setiap usaha yang telah diberikan.
Putra
- Tergiat 1 : SDN 2 Gunungjati
- Tergiat 2 : SDN 1 Duren
- Tergiat 3 : SDN 1 Twelagiri
Putri
- Tergiat 1 : SDN 2 Gunungjati
- Tergiat 2 : SDN 2 Kebutuhduwur
- Tergiat 3 : SDN 1 Gentansari
Namun, di balik podium dan piala, tersimpan pelajaran bahwa kemenangan sejati adalah keberanian untuk mencoba dan kebahagiaan untuk berbagi.
Suara Tokoh: Harapan yang Mengalir
Camat Pagedongan sekaligus Kamabiran, Purwanto, S.Sos., M.Si., menatap kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Dalam suaranya terselip keyakinan yang dalam.
“Kegiatan ini adalah tonggak penting dalam membentuk karakter generasi Indonesia yang lebih baik. Di sini, anak-anak tidak hanya belajar tentang keterampilan kepramukaan, tetapi juga tentang nilai kehidupan—tentang saling menghargai, tentang kepedulian, tentang tanggung jawab. Saya percaya, dari kegiatan seperti inilah lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Kita sedang menanam sesuatu yang kelak akan tumbuh besar untuk negeri ini.”
Ketua Kwartir Ranting, Ardi Hermawan, M.Pd., melihat lebih jauh—tentang hubungan yang terjalin sejak dini.
“Pramuka adalah ruang yang mempertemukan hati-hati muda dalam satu semangat. Di sini mereka belajar berkomunikasi, memahami satu sama lain, dan membangun kebersamaan tanpa sekat. Ini penting, karena masa depan bangsa ini bergantung pada generasi yang mampu bekerja sama, mandiri, disiplin, dan memiliki kecerdasan yang utuh. Saya berharap, pengalaman hari ini akan melekat dalam ingatan mereka, menjadi bekal yang akan mereka bawa hingga dewasa.”
Ketua panitia, Efa Novianti, S.Pd.SD, berbicara dengan nada yang penuh harap, seolah menyelipkan doa di setiap kata.
“Kami mengusung tema CINTA—Ceria, Disiplin, dan Taqwa. Tema ini bukan sekadar slogan, tetapi harapan yang kami titipkan kepada setiap peserta. Kami ingin mereka pulang bukan hanya membawa pengalaman, tetapi juga nilai. Semoga keceriaan hari ini menjadi kenangan indah, kedisiplinan menjadi kebiasaan, dan ketakwaan menjadi pegangan hidup mereka. Kami percaya, dari hal-hal kecil seperti inilah perubahan besar dimulai.”
Suara Peserta: Bahagia yang Sederhana
Di antara riuhnya kegiatan, seorang peserta bernama Habibah menyampaikan perasaan yang begitu jujur, begitu sederhana, namun justru paling dalam.
“Saya sangat senang bisa ikut kegiatan ini. Rasanya seperti punya banyak teman baru. Bisa bertemu dengan teman-teman dari sekolah lain itu menyenangkan sekali. Kami bisa bermain, belajar, dan tertawa bersama. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus ada, karena saya ingin merasakan kebahagiaan ini lagi.”
Kalimatnya sederhana. Namun di situlah letak keindahannya. Kebahagiaan anak-anak tidak membutuhkan hal yang rumit—cukup kebersamaan, cukup perhatian, cukup kesempatan untuk tumbuh.
Pagedongan dan Sebuah Cerita tentang Rindu
Menjelang sore, satu per satu barung mulai meninggalkan lokasi. Langkah kaki kecil itu menjauh, namun jejaknya tertinggal—di tanah, di ingatan, dan di hati.
Pesta Siaga ini bukan sekadar peristiwa satu hari. Ia adalah cerita yang akan terus dikenang. Tentang tawa yang pernah mengisi udara, tentang persahabatan yang tumbuh tanpa rencana, tentang rindu yang mungkin akan muncul ketika mereka mengingat hari itu.
Karena pada akhirnya, kegiatan ini bukan hanya tentang Pramuka.
Ia tentang cinta—yang hadir dalam bentuk paling sederhana, namun paling abadi.***(abenn29_pusdatin)
Narasumber : ardi hermawan
Dokumentasi : Kwarran Pagedongan



















