Langit pagi di Desa Gumelem Wetan masih menyisakan kelabu ketika kabar itu menyebar—tanah longsor menutup akses jalan kabupaten, memutus urat nadi aktivitas warga. Jalan yang sehari-hari dilalui anak-anak menuju sekolah, para petani menuju ladang, dan warga menuju pasar, kini tertimbun tanah basah yang seakan menyimpan luka alam.
Minggu, 22 Februari 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi warga RT 2/10, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. Di tengah kecemasan dan keterbatasan, harapan itu datang dengan langkah-langkah sederhana namun penuh makna. Delapan personil Pramuka Peduli hadir, membawa bukan hanya tenaga, tetapi juga kepedulian yang tulus.
Tanpa banyak kata, mereka langsung menyatu dengan tanah yang runtuh, mengangkat, membersihkan, dan membuka kembali jalur yang sempat terputus. Di antara lumpur yang melekat di sepatu dan peluh yang menetes di dahi, ada semangat yang tak pernah padam: membantu sesama adalah panggilan jiwa.
Proses penanganan berlangsung dengan penuh kehati-hatian. Setiap ayunan cangkul dan sekop menjadi simbol perlawanan terhadap keadaan. Jalan perlahan mulai terbuka, seakan memberi napas baru bagi desa yang sempat terhenti.
Di tengah kegiatan, suara haru datang dari perwakilan pemerintah desa. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia menyampaikan rasa syukur yang mendalam.
“Kami benar-benar tidak menyangka bantuan datang secepat ini. Di saat kami masih berusaha memahami situasi, saudara-saudara dari Pramuka Peduli sudah hadir lebih dulu, bekerja tanpa pamrih. Ini bukan sekadar membantu membersihkan longsor, tetapi menghidupkan kembali harapan warga kami. Terima kasih atas ketulusan yang tidak bisa kami balas dengan apa pun,” tuturnya, lirih namun penuh makna.
Bagi para relawan, apa yang mereka lakukan bukanlah sesuatu yang luar biasa. Justru dalam kesederhanaan itulah nilai pengabdian menemukan bentuknya.
Slamet Riyadi, salah satu petugas di lapangan, mengungkapkan bahwa setiap bencana selalu membawa dua cerita: kehilangan dan kepedulian.
“Bencana memang tidak pernah kita minta, tapi di dalamnya selalu ada ruang untuk saling menguatkan. Kami hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan—hadir, membantu, dan memastikan warga tidak merasa sendiri. Ketika jalan ini kembali terbuka, kami tahu bahwa harapan juga ikut terbuka,” ujarnya dengan nada tenang.
Hal senada disampaikan oleh M. Mukhlis. Baginya, kebersamaan adalah kekuatan utama dalam menghadapi bencana.
“Yang paling kami rasakan bukan beratnya pekerjaan, tapi hangatnya kebersamaan. Warga ikut membantu, saling menyemangati. Di situ kami sadar, bahwa kepedulian itu menular. Ketika satu orang bergerak, yang lain akan ikut tergerak. Dan di situlah kekuatan kita sebagai manusia,” ungkapnya.
Hari itu, longsor memang sempat menutup jalan. Namun, ia tidak mampu menutup kepedulian. Dari tanah yang runtuh, justru tumbuh solidaritas yang mengakar kuat.
Di Desa Gumelem Wetan, cerita ini bukan sekadar tentang bencana. Ia adalah kisah tentang manusia yang memilih untuk tetap peduli, bahkan ketika keadaan tidak berpihak. Karena sejatinya, di balik setiap musibah, selalu ada tangan-tangan yang tak lelah untuk saling menguatkan.***(abenn29_pusdatin)
Narasumber : Slamet Riyadi
Dokumentasi : Slamet Riyadi





















Ada untuk sesama, tak ada bicara selain bertindak!