BAWANG – Ada pagi-pagi yang berlalu seperti biasa. Tetapi ada pula pagi yang kelak akan dicari kembali oleh ingatan, karena di dalamnya tersimpan sesuatu yang tak mungkin diulang. Sabtu (29/8) di SMK Negeri 1 Bawang adalah salah satunya. Tiga puluh Pramuka Penegak berdiri dalam upacara pelantikan setelah menempuh empat bulan perjalanan menuju predikat Pramuka Penegak Garuda. Namun yang paling lama tinggal dari upacara itu barangkali bukanlah seremoni, melainkan sepasang mata orang tua yang basah ketika tangan mereka sendiri menyematkan tanda kehormatan ke dada anak-anaknya.
Tiga puluh nama itu datang dari empat pangkalan: SMA Negeri 1 Wanadadi sebanyak 13 peserta, SMK Negeri 1 Bawang 10 peserta, MA Negeri 1 Banjarnegara enam peserta, dan SMK Negeri 2 Bawang satu peserta. Mereka bertemu dalam satu proses yang menuntut lebih dari sekadar kemampuan teknis. Ada portofolio yang diverifikasi, kecakapan khusus yang diuji, karakter yang dinilai dan pengabdian kepada masyarakat yang harus dibuktikan. Di sana, Pramuka Garuda tidak diberikan kepada mereka yang sekadar ingin tampak hebat, melainkan kepada mereka yang bersedia bertahan dalam proses.
Empat bulan mungkin hanya sebuah angka jika ditulis dalam laporan kegiatan. Tetapi bagi seorang remaja, empat bulan adalah ratusan hari yang dipenuhi latihan, kewajiban, koreksi, kegagalan, perbaikan dan keputusan untuk kembali mencoba. Bagi orang tua, empat bulan itu mungkin berarti menunggu anak pulang, memastikan kebutuhan latihan terpenuhi, mengantar ketika diperlukan, kemudian membiarkan mereka tumbuh dengan pengalaman yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata. Karena itulah ketika tanda Garuda akhirnya sampai di dada, yang bergetar bukan hanya kebanggaan anak-anak itu.
Ketua Kwarran Bawang, Kak Almuhdi, yang memimpin upacara sebagai Pembina Upacara, menempatkan predikat Garuda pada makna yang lebih dalam. Tanda kehormatan tersebut bukan sekadar penanda bahwa seseorang telah mencapai tingkat tertentu dalam kepramukaan, tetapi juga panggilan untuk menjadi teladan. Ada konsekuensi moral di balik simbol. Ada kewajiban untuk menjaga apa yang telah dicapai dan mengubahnya menjadi manfaat bagi orang lain.
Lalu tibalah satu prosesi yang mengubah suasana lapangan menjadi begitu sunyi dan dalam. Orang tua dipersilakan maju. Tidak ada jarak yang berarti antara seragam Pramuka dan pakaian orang tua. Mereka berdiri berhadapan, seperti dua bagian dari perjalanan yang sama. Sang anak telah menempuh ujian; orang tua telah menemani dari kejauhan. Ketika jemari orang tua menyematkan Tanda Pramuka Garuda, seolah empat bulan yang panjang itu menemukan tempat pulangnya.
Air mata pecah. Bukan karena sedih, melainkan karena bahagia yang terlalu penuh untuk disimpan. Di sana, sebuah tanda kehormatan mendadak berubah menjadi simbol dari sesuatu yang lebih tua dan lebih kuat: doa. Doa yang barangkali tidak pernah disebut dalam setiap latihan, tetapi selalu hadir di belakang setiap keberanian anak untuk melangkah.
Itulah sebabnya pencapaian 30 Pramuka Penegak tersebut tidak cukup dibaca sebagai angka keberhasilan. Ia adalah kisah tentang proses. Tentang empat sekolah yang memilih berjalan bersama. Tentang anak-anak muda yang belajar bahwa kehormatan tidak datang dengan mudah. Dan tentang orang tua yang pada akhirnya memperoleh kesempatan untuk menyentuh sendiri hasil dari perjalanan yang selama ini mereka dukung.
Kak Ossa, pendamping gabungan empat pangkalan, menyebut keberhasilan tersebut sebagai buah dari perjuangan panjang. “Perjuangan panjang selama empat bulan ini akhirnya terbayar tuntas. Sangat membanggakan melihat kalung dan tanda Garuda resmi melingkar di dada mereka,” katanya.
Di tengah zaman yang sering mengukur keberhasilan dari seberapa cepat seseorang tiba di tujuan, tiga puluh Pramuka Penegak itu justru mengingatkan bahwa ada perjalanan yang memang harus ditempuh perlahan. Sebab karakter tidak lahir dalam sehari. Keteguhan tidak tumbuh dari tepuk tangan. Dan kehormatan tidak dapat diwariskan hanya melalui nama.
Hari itu, Garuda tersemat di dada mereka. Tetapi jika diperhatikan lebih lama, ada sesuatu yang lain yang seakan ikut tersemat: harapan orang tua, kepercayaan para pembina dan masa depan yang masih panjang. Barangkali itulah rahasia sebuah pelantikan. Ia tidak benar-benar selesai ketika upacara ditutup. Sebagian ruhnya justru mulai berjalan pulang bersama mereka, menempel pada langkah, berdiam di dada, dan sesekali datang kembali sebagai kerinduan pada sebuah pagi ketika tangan orang tua dan cita-cita seorang anak bertemu dalam satu tanda kehormatan.
Dari Bawang, tiga puluh Pramuka Penegak pulang membawa Garuda. Namun yang sesungguhnya mereka bawa jauh lebih besar dari sebuah tanda: keyakinan bahwa perjuangan yang dijalani dengan setia pada akhirnya selalu menemukan seseorang yang bersedia menyaksikan, merestui, dan berkata dalam diam bahwa semua lelah itu ternyata tidak pernah sia-sia. .***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber & Dokumentasi : BayOss


















