Pesta Siaga Kwartir Ranting Punggelan Tahun 2026 yang digelar di Lapangan Desa Tlaga, Sabtu (11/4/2026), tidak sekadar menjadi ajang kompetisi kepramukaan. Kegiatan yang diikuti 1.096 peserta dari pangkalan SD dan MI ini justru menghadirkan dimensi lain: ujian nyata terhadap daya tahan, adaptasi, dan semangat kolektif peserta.
Kondisi lapangan yang becek akibat cuaca menjadi tantangan tersendiri. Namun, situasi tersebut tidak mengurangi intensitas kegiatan. Peserta tetap mengikuti seluruh rangkaian lomba dengan antusias, sementara para pembina memastikan jalannya kegiatan tetap tertib dan aman.
Ketua Kwartir Ranting Punggelan, Imam Purwanto, S.Pd.SD, menilai kondisi ini sebagai bagian penting dari proses pendidikan.
“Ketika anak-anak dihadapkan pada kondisi yang tidak ideal, di situlah nilai kepramukaan diuji. Mereka belajar bertahan, beradaptasi, dan tetap bekerja sama. Ini adalah pembelajaran kontekstual yang sangat efektif dalam membentuk karakter,” ujarnya.
Ketua panitia, Kartiah, S.Pd, melihat kegiatan ini sebagai proses pembelajaran yang berlangsung secara alami dan menyenangkan.
“Anak-anak tidak merasa sedang ‘dididik’, tetapi mereka tumbuh melalui pengalaman. Mereka belajar berani, belajar bersaudara, dan menemukan kebahagiaan dalam setiap proses. Itu yang membuat kegiatan ini memiliki dampak jangka panjang,” katanya.
Dalam aspek kompetisi, hasil yang diperoleh mencerminkan kualitas pembinaan di masing-masing pangkalan. Pada kategori putra, SDN 1 Punggelan menempati posisi Tergiat Utama I, diikuti SDN 2 Kecepit dan MIM Kecepit. Kelompok Madya diisi oleh SDN 1 Mlayu, SDN 2 Karangsari, dan MIC Purwasana, sedangkan kelompok Purwa ditempati SDN 1 Kecepit, SDN 2 Punggelan, serta MIM Sambong.
Untuk kategori putri, dominasi juga ditunjukkan SDN 1 Punggelan sebagai Tergiat Utama I, diikuti SDN 1 Sidarata dan SD IT Insan Mandiri. Pada kelompok Madya, SDN 1 Kecepit memimpin, disusul SDN 2 Kecepit dan SDN 2 Tribuana. Sementara itu, kelompok Purwa diisi oleh SDN 1 Tribuana, MIM Kecepit, dan SDN 1 Karangsari.
Meski hasil kompetisi menunjukkan capaian yang terukur, esensi kegiatan ini tidak berhenti pada peringkat.
Afifah Hasna Safitri Ramadhani, salah satu peserta, mengungkapkan bahwa pengalaman yang didapat justru lebih berkesan dibanding hasil lomba.
“Lapangan becek tidak jadi masalah. Kami tetap semangat. Yang penting bisa belajar, kompak dengan teman, dan merasakan kebersamaan,” ujarnya.
Pesta Siaga Punggelan tahun ini memperlihatkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu membutuhkan kondisi ideal. Justru melalui keterbatasan, nilai-nilai seperti ketangguhan, kerja sama, dan semangat pantang menyerah dapat tumbuh lebih kuat.
Lapangan becek di Desa Tlaga, dalam konteks ini, bukan hambatan melainkan medium pembelajaran yang efektif bagi generasi muda.***(abenn29_pusdatin.bna)


















