PURWANEGARA – Ada masa ketika manusia baru memahami betapa berharganya air setelah suara sumur tak lagi menjawab timba. Tanah mengeras, halaman rumah menyimpan debu, dan hari-hari berjalan dengan pertanyaan yang sama: kapan hujan kembali pulang? Di sejumlah desa di Kecamatan Purwanegara, pertanyaan itu masih menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Namun pada Rabu, 2 September 2026, sebuah jawaban datang bukan dari langit, melainkan dari jalan yang dilalui kendaraan pembawa air bersih.
Pramuka Peduli Kwartir Ranting Purwanegara bergerak sejak pagi. Dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, sebanyak 32.000 liter air bersih disalurkan ke Desa Petir Kaliajir, Karanganyar, Merden, Parakan, dan Kalitengah. Bantuan itu didistribusikan dengan aman dan lancar kepada masyarakat yang berada di wilayah terdampak kekeringan.
Angka 32.000 liter terdengar seperti statistik jika dibaca dari kejauhan. Tetapi bagi rumah-rumah yang sedang menunggu air, angka itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih intim. Ia menjadi beberapa hari ketenangan. Menjadi air untuk memasak. Menjadi kesempatan bagi seorang ibu untuk mencuci tanpa menghitung berkali-kali sisa air di ember. Menjadi suara kecil yang mengatakan bahwa kehidupan masih mempunyai alasan untuk terus berjalan.
Barangkali begitulah cara kemanusiaan bekerja. Ia tidak selalu datang dengan pidato panjang atau peristiwa besar. Kadang ia hadir dalam bentuk kendaraan yang berhenti di sebuah desa, selang yang mulai mengalir, dan warga yang datang membawa wadah-wadah kosong. Yang kosong kemudian terisi. Yang gelisah perlahan tenang. Dan yang semula hanya menunggu, kembali menemukan sedikit ruang untuk berharap.
Di balik gerak sederhana itu terdapat Pramuka Peduli sebuah wajah pengabdian yang memilih berada di dekat masyarakat ketika keadaan sedang tidak mudah. Kak Agus Suyitno mendampingi kegiatan tersebut, bersama Anran Andimas dari unsur Humas Kwarran Purwanegara dan Pramuli Kwarran Purwanegara. Mereka tidak sedang mengubah musim. Mereka hanya sedang memastikan bahwa kemarau tidak sepenuhnya mengubah nasib manusia menjadi penantian.
Ada sesuatu yang nyaris tak terlihat dalam perjalanan air itu. Semacam ruh yang ikut tertiup bersama angin kemarau: kerinduan manusia kepada hujan, kepada tanah yang kembali lembut, kepada sumur yang suatu hari nanti penuh lagi. Air yang datang mungkin akan habis. Tangki akan kembali kosong. Jalan-jalan akan kembali sunyi. Tetapi kenangan tentang seseorang yang pernah datang membawa pertolongan sering kali tinggal lebih lama daripada air itu sendiri.
Karena itu, 32.000 liter air pada hari itu bukan sekadar jumlah. Ia adalah 32.000 liter kepedulian yang menyeberangi jarak antara mereka yang membutuhkan dan mereka yang memilih membantu. Ia adalah cara sederhana untuk mengatakan bahwa ketika langit belum juga menurunkan hujan, manusia masih bisa menyalakan harapan dari tangannya sendiri.
Dan di Purwanegara, pada sebuah Rabu yang panjang di bulan September, air kembali menemukan jalannya. Bukan hanya menuju ember-ember warga, tetapi menuju sesuatu yang lebih dalam: ingatan bahwa di tengah kemarau selalu ada manusia yang tidak membiarkan manusia lainnya merasa sendirian.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber : Triprasetyo Adewibowo
Dokumentasi : Kwarran Purwanegara




















