BANJARNEGARA – Lapangan Desa Gumiwang, Jumat pagi (6/11/2026), bukan sekadar hamparan tanah tempat anak-anak berkumpul. Di ruang terbuka itu, semangat persaudaraan menemukan tempatnya, sementara tunas-tunas muda kepramukaan mendapat kesempatan untuk tumbuh melalui pengalaman yang tak selalu bisa diperoleh di dalam ruang kelas.
Sejak pukul 07.30 WIB, Pramuka Siaga dari SDN 1 Gumiwang, SDN 2 Gumiwang, SDN 3 Gumiwang, dan SDN 4 Gumiwang berkumpul dalam kegiatan Perkemahan Sehari (Persari) Kwartir Ranting (Kwarran) Purwanegara. Empat pangkalan, dengan latar pengalaman masing-masing, dipertemukan dalam satu ruang pendidikan yang dibangun di atas semangat kebersamaan.
Ada sesuatu yang istimewa dari pendidikan kepramukaan. Anak-anak tidak hanya diajak memahami nilai melalui kata-kata, tetapi juga diberi kesempatan untuk merasakannya. Kebersamaan mengajarkan persaudaraan, kegiatan bersama menumbuhkan kepedulian, sementara pengalaman di lapangan perlahan membentuk keberanian dan kemandirian.
Persari menjadi salah satu ruang penting bagi proses itu. Di sana, anak-anak belajar bahwa menjadi Pramuka bukan semata-mata mengenakan seragam, memasang hasduk, atau mengikuti kegiatan di luar sekolah. Lebih dari itu, kepramukaan adalah proses menanamkan karakter, membangun kebiasaan baik, dan mengenalkan arti tanggung jawab sejak usia dini.
Pertemuan empat pangkalan di Gumiwang juga menghadirkan pesan sederhana yang layak dirawat: persaudaraan tidak dibangun karena semua berasal dari tempat yang sama, melainkan karena setiap orang bersedia berjalan bersama dalam semangat yang sama.
Kegiatan yang berlangsung hingga selesai tersebut berjalan lancar dan aman. Namun, makna sebuah Persari tentu tidak berhenti pada selesainya kegiatan. Ada pengalaman yang dibawa pulang, ada keberanian yang mungkin mulai tumbuh, dan ada kenangan kebersamaan yang kelak menjadi bagian dari perjalanan anak-anak mengenal dunia kepramukaan.
Sebab, pendidikan karakter memang tidak selalu tumbuh dari peristiwa besar. Terkadang, ia berawal dari pertemuan sederhana di sebuah lapangan desa, dari sapaan antarteman, dan dari pengalaman kecil yang kelak menjelma menjadi bekal kehidupan.
Di Gumiwang, Jumat itu, benih-benih persaudaraan kembali ditanam. Semoga kelak tumbuh menjadi generasi yang bukan hanya cakap dalam keterampilan, tetapi juga kuat dalam karakter dan luhur dalam pengabdian.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber & Dokumentasi : Triprasetyo Adewibowo



















