BANJARNEGARA — Suasana GOR Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Kamis (8/1/2026), terasa khidmat dan sarat emosi. Derap langkah kecil Pramuka Siaga berpadu dengan sikap tegap Penggalang dan Penegak, mengiringi Uji Keteladanan dan Pelantikan Pramuka Garuda. Sebanyak 180 Pramuka resmi dilantik, terdiri dari 169 Pramuka Siaga, 9 Pramuka Penggalang, dan 2 Pramuka Penegak.
Pelantikan ini menjadi tonggak penting bagi Gerakan Pramuka di Pandanarum. Untuk pertama kalinya, Kwartir Ranting Pandanarum melantik Pramuka Penggalang dan Penegak Garuda, menandai keberhasilan pembinaan berjenjang dari usia dini hingga remaja.
Upacara adat dipimpin Lulut Fianto sementara prosesi pelantikan dipandu Rifqia Sandra Nastiti Penyematan tanda Garuda dilakukan langsung oleh Joko Susilo, Ketua Kwartir Ranting Pandanarum. Tepuk tangan membahana, disusul isak haru orang tua yang menyaksikan anak-anak mereka berdiri tegap dengan lambang Garuda tersemat di dada.
Ketua Mabiran Pandanarum, Agung Dwi Antoko, menegaskan bahwa Pramuka Garuda bukan sekadar pencapaian simbolik.
“Anak-anak Pramuka Garuda harus menjadi contoh dan teladan, tidak hanya saat berseragam, tetapi di sekolah, di rumah, dan di lingkungan masyarakat. Yang paling utama adalah kejujuran. Tanpa kejujuran, prestasi setinggi apa pun akan kehilangan makna,” ujarnya.
Menurut Agung, Pramuka Garuda harus berani berkata benar, bertanggung jawab, serta konsisten antara ucapan dan perbuatan, meskipun pilihan itu tidak selalu populer.
Lebih jauh, pelantikan ini juga menegaskan bahwa Pramuka Garuda lahir dari proses panjang, bukan jalan pintas. Sejak tahap paling awal, anak-anak ditempa melalui kebiasaan sederhana—mulai dari membantu tata upacara, belajar tertib barisan, disiplin waktu, melaksanakan tugas gugus depan, hingga membiasakan diri mengamalkan nilai Dwi Satya, Dwi Darma, Tri Satya, dan Dasa Darma dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu dinilai secara berkelanjutan oleh pembina, sekolah, dan lingkungan.
Ketua Kwartir Ranting Pandanarum, Joko Susilo menegaskan bahwa pihaknya menjaga marwah Pramuka Garuda agar tidak terjebak pada seremonial belaka.
“Pramuka Garuda tidak dibentuk secara instan, bukan hasil imitasi, apalagi sekadar mengejar adu gengsi, banyak-banyakan jumlah, atau popularitas. Kami lebih memilih kualitas daripada kuantitas. Garuda adalah puncak proses pendidikan karakter,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa pelantikan massal tanpa pembinaan yang sungguh-sungguh justru berisiko menghilangkan ruh Pramuka Garuda itu sendiri.
Joko menambahkan, anak yang dilantik adalah mereka yang telah menunjukkan keteladanan nyata, bukan hanya prestasi di atas kertas. “Yang kami lihat adalah keseharian mereka—sikap, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial,” ujarnya.
Nuansa haru semakin terasa dari barisan orang tua. Riswati, ibunda Alya Ramadani dari pangkalan SD Negeri 2 Lawen, mengaku bangga sekaligus terharu menyaksikan putrinya dilantik.
“Saya berharap Alya menjadi anak yang jujur, disiplin, dan rendah hati. Semoga nilai-nilai Pramuka yang ia pelajari tidak berhenti hari ini, tetapi menjadi bekal hidupnya sampai dewasa,” tuturnya lirih.
Pramuka Garuda merupakan tingkatan tertinggi dalam Gerakan Pramuka. Untuk meraihnya, peserta harus memenuhi syarat kecakapan umum dan khusus, aktif dalam kegiatan sosial, menunjukkan keteladanan sikap, serta mendapatkan rekomendasi pembina dan gugus depan. Proses ini menuntut ketekunan, konsistensi, dan integritas—bukan sekadar pencapaian administratif.
Di akhir upacara, 180 Pramuka Garuda berdiri berjajar dengan wajah bangga. Di balik seragam rapi dan lambang Garuda yang berkilau, tersimpan perjalanan panjang penuh latihan, pengorbanan, dan pembiasaan nilai. Dari GOR Desa Lawen, Pandanarum menegaskan satu pesan penting: Pramuka Garuda bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang paling siap menjadi teladan.***(abenn29_pusdatin)
Dokumentasi : Kwarran Pandanarum
Narasumber : Rifqia Sandra Nastiti




















