BANJARNEGARA — Semangat solidaritas kembali ditunjukkan keluarga besar Gerakan Pramuka. Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Magelang menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp75 juta bagi warga terdampak bencana longsor di Desa Situkung, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, Selasa (30/12/2025).
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Kwarcab Magelang, Drs. H. Eko Triyono, kepada Wakil Bupati Banjarnegara sekaligus Ketua Kwarcab Banjarnegara, Wakhid Jumali, Lc, di Rumah Dinas Wakil Bupati Banjarnegara.
Dalam kesempatan tersebut, Wabup Banjarnegara didampingi jajaran pengurus Kwarcab Banjarnegara, antara lain Sagiyo, S.IP selaku Wakil Ketua Bidang Humas dan Abdimas, Teguh Handoko, S.Sos Wakil Ketua Bidang Aset, Usaha, Sarana Prasarana, Sekretaris Kwarcab Dwicahyo Ariwidodo, S.Si, serta Bendahara Tujono, S.IP.
Ketua Kwarcab Magelang, Eko Triyono, menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan wujud nyata kepedulian dan solidaritas antarsesama dalam keluarga besar Pramuka, khususnya kepada masyarakat yang tengah menghadapi musibah.
“Kita semua adalah saudara. Dulu Banjarnegara menggalang aksi peduli Merapi, sekarang kami dari Magelang ikut peduli Situkung Banjarnegara. Inilah nilai Pramuka—saling membantu dan saling menguatkan,” ujar Eko.
Ia menjelaskan, bantuan sebesar Rp75 juta tersebut disalurkan melalui dua mekanisme, yakni Rp50 juta ditransfer melalui rekening, sementara Rp25 juta diserahkan secara tunai pada kesempatan tersebut.
Sementara itu, Wakil Bupati Banjarnegara, Wakhid Jumali, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas perhatian dan kepedulian Kwarcab Magelang terhadap masyarakat Banjarnegara yang terdampak bencana longsor.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga bantuan ini menjadi amal saleh dan semakin mempererat tali silaturahmi antarsesama,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakhid juga menyampaikan perkembangan penanganan pascabencana longsor di Situkung. Ia menjelaskan bahwa masa tanggap darurat telah berakhir pada 27 Desember 2025.
Untuk penanganan lanjutan, kata dia, pembangunan hunian sementara (huntara) tahap pertama telah terealisasi 100 persen, dengan jumlah sekitar 50 unit rumah bagi warga terdampak. Adapun untuk tahap berikutnya masih dalam proses pelaksanaan.
Meski demikian, Wakhid mengakui masih terdapat sejumlah persoalan yang dihadapi warga, mulai dari rumah dengan kategori rusak berat hingga kehilangan ternak akibat longsor.
“Permasalahan-permasalahan tersebut masih terus kami upayakan penyelesaiannya bersama berbagai pihak,” pungkasnya.***MJ




















