PURWAREJA KLAMPOK – Ada cara sederhana untuk mengukur seberapa luas hati manusia: lihatlah sejauh apa ia mampu merasakan luka orang lain. Di SMA Negeri 1 Purwareja Klampok, ukuran itu menemukan bentuknya pada Rabu, 26 Agustus 2026. Guru, karyawan, dan murid tidak sedang sekadar mengumpulkan sembako. Mereka sedang mengirimkan sebuah pesan kepada Nusa Tenggara Timur: bahwa bencana boleh memisahkan rumah dengan rumah, pulau dengan pulau, tetapi tidak pernah berhasil memisahkan manusia dengan rasa kemanusiaannya.
Gerakan itu digerakkan Dewan Ambalan Imam Bonjol dan Cut Meutia. Bantuan sembako dikumpulkan dari lingkungan sekolah dan kemudian disalurkan melalui Pangkalan TNI AU Jenderal Besar Soedirman. Jalur tersebut mempertemukan dua kekuatan yang berbeda semangat kerelawanan anak muda dan dukungan institusi pertahanan dalam satu tujuan: memastikan kepedulian dari Banjarnegara dapat sampai kepada masyarakat NTT yang terdampak bencana.
Di sekolah, barangkali semuanya bermula dari sesuatu yang sederhana. Sebuah ajakan. Sebuah tangan yang membuka ruang untuk berbagi. Lalu satu per satu bantuan datang. Tidak selalu dalam jumlah besar, tetapi setiap pemberian membawa kisah tentang seseorang yang memilih mengurangi sedikit dari miliknya agar orang lain memiliki sedikit lebih banyak untuk bertahan.
Kamabigus SMAN 1 Purwareja Klampok, Asih Pangestuti, S.Sos., M.Si., melihat gerakan tersebut sebagai bagian penting dari pendidikan karakter melalui kepramukaan. Baginya, Dasa Darma bukan sekadar kalimat yang dihafalkan, melainkan nilai yang harus menemukan tubuhnya dalam tindakan. “Jarak Purwareja Klampok dan NTT boleh berjauhan, namun ikatan persaudaraan kita sebagai satu bangsa tidak terpisahkan,” katanya.
Pernyataan itu seperti menemukan pembenarannya ketika Kapten Lek Riyanto, perwakilan TNI AU Jenderal Besar Soedirman, menyatakan kesiapan untuk menjembatani dan mendukung penyaluran bantuan. Menurut dia, sinergi tersebut memperlihatkan bahwa semangat kebangsaan dan kepedulian sosial masih memiliki tempat yang kuat di kalangan generasi muda.
Ketua Gudep SMAN 1 Purwareja Klampok, Wahyu Sutrisno, S.Pd., menyebut aksi donasi itu sebagai cermin keberhasilan pembinaan kepramukaan dalam membentuk kader yang peka terhadap krisis kemanusiaan. Apresiasi juga diberikan kepada para donatur yang telah menyisihkan rezekinya untuk saudara-saudara di NTT.
Namun berita ini sesungguhnya bukan hanya tentang sembako. Barang-barang itu hanyalah bahasa pertama dari sebuah perasaan yang lebih dalam. Yang dikirim dari Purwareja Klampok adalah kerinduan untuk melihat saudara sebangsa kembali berdiri setelah dihantam bencana. Ada sesuatu yang tak kasatmata ikut bergerak bersama setiap paket bantuan semacam doa yang tidak mengenal peta, tidak mengenal batas pulau, dan tidak membutuhkan tiket untuk sampai ke tempat yang sedang terluka.
Mungkin suatu hari nanti, ketika bantuan itu tiba di NTT, tidak semua penerimanya akan tahu siapa yang mengumpulkannya. Mereka mungkin tidak mengenal nama-nama para siswa, guru, dan karyawan di sebuah sekolah di Banjarnegara. Tetapi semoga mereka merasakan satu hal: di sebuah tempat yang jauh, pernah ada anak-anak muda yang mengingat mereka.
Sebab persaudaraan bangsa sering kali tidak lahir dari kata-kata besar. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan ketulusan. Dari sepotong sembako, dari rezeki yang disisihkan, dari langkah yang digerakkan bersama. Dan malam ini, jika doa memang memiliki sayap, barangkali ia sedang terbang dari Purwareja Klampok menuju NTT membawa satu kalimat yang sederhana, tetapi penuh daya: bertahanlah, saudara; ada hati-hati yang masih menunggumu bangkit.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber : Jadilah Tangguh
Dokumentasi : Dewan Ambalan Imam Bonjol dan Cut Meutia



















