BANJARNEGARA – Ada masa ketika manusia tidak lagi menghitung hari dari kalender, melainkan dari berapa lama hujan belum datang. Langit menjadi ruang penantian, awan menjadi kabar yang terus ditunggu, sementara tanah menyimpan kesunyian yang semakin dalam. Di Desa Gumiwang, Kecamatan Purwanegara, Jumat (21/8/2026), kerinduan itu menemukan bentuk lain: tangan-tangan Pramuka menggali bumi untuk mencari air.
Aksi Pramuka Peduli Kwartir Cabang Banjarnegara berlangsung sejak pukul 07.30 WIB hingga selesai sebagai bagian dari upaya membantu penanganan kekeringan melalui pembuatan sumur. Kegiatan ini memperlihatkan satu hal yang kerap luput dari pemberitaan tentang kemarau: di balik statistik kekeringan, selalu ada manusia yang menunggu air untuk mempertahankan kehidupan sehari-hari.
Sepuluh personel diterjunkan dalam aksi tersebut. Muhammad Farhan Muzaqi, Faisya Yanuar Putra, Agus Riski Alif Ramadan, Diono, Rhasya Jingga, I Putu Wahyu Kris, M Muslim, Libya, Maulida, dan Tiwi bergerak di lapangan dengan pendampingan Kak Slamet Riyadi. Kegiatan berlangsung lancar dan aman.
Namun, sumur yang digali di Gumiwang sesungguhnya membawa cerita yang lebih panjang daripada ukuran kedalamannya. Air adalah perkara paling sederhana sekaligus paling menentukan dalam kehidupan. Ia hadir di gelas, dapur, kamar mandi, ladang, dan tubuh manusia. Ketika air menghilang, kehidupan tidak serta-merta berhenti, tetapi menjadi jauh lebih berat untuk dijalani.
Karena itu, aksi Pramuka Peduli kali ini terasa seperti pertemuan dua ikhtiar: manusia mencari air ke dalam bumi, sementara manusia yang sama masih menengadah ke langit, menunggu hujan. Ada sesuatu yang lirih dalam keadaan itu. Bumi diminta membuka rahasianya ketika langit belum juga menepati janji musimnya.
Pramuka memilih untuk tidak hanya menunggu. Di saat hujan menjadi kerinduan yang belum terjawab, mereka menghadirkan kerja nyata. Tanah digali, tenaga diberikan, dan harapan diletakkan sedikit demi sedikit di kedalaman bumi. Sebuah ikhtiar yang barangkali sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya ia terasa begitu dekat dengan makna kemanusiaan.
Di tempat seperti Gumiwang, kepedulian tidak membutuhkan panggung. Ia membutuhkan keberanian untuk datang dan bekerja. Tidak ada suara gemuruh sebagaimana hujan yang dirindukan. Hanya bunyi alat yang menyentuh tanah dan langkah orang-orang yang memilih untuk tidak berpaling dari kesulitan sesamanya.
Dan mungkin, di situlah ruh pengabdian menemukan tempatnya. Ketika langit masih sunyi, manusia menyalakan harapan dari bumi. Ketika hujan belum tiba, sebuah sumur digali. Ketika kehidupan terasa semakin haus, kepedulian datang menjadi air pertama yang menyentuh jiwa.
Gumiwang hari itu mengajarkan bahwa kekeringan bukan hanya tentang tanah yang kehilangan air. Ia juga tentang kerinduan manusia kepada sesuatu yang begitu sederhana, tetapi begitu berharga. Dan di tengah kerinduan itu, Pramuka Peduli hadir untuk mengatakan: selama masih ada tangan yang mau bekerja dan hati yang mau peduli, harapan belum pernah benar-benar kering.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber : Slamet Riyadi
Dokumentasi : Pramuka Peduli Banjarnegara



















