BANJARNEGARA – Masa depan sebuah gugus depan kadang tidak dimulai dari halaman perkemahan, peluit pembina, atau derap langkah upacara. Ia bisa lahir dari sebuah ruang sederhana, ketika sejumlah orang duduk bersama, membuka kembali lembar perjalanan, lalu bertanya dengan jujur: ke mana Pramuka akan dibawa setelah ini?
Pertanyaan itulah yang menemukan jawabannya dalam Musyawarah Gugus Depan Gerakan Pramuka Gugus Depan Banjarnegara 03.041-03.042 Pangkalan SD Negeri 4 Glempang, Kamis (27/8/2026). Selama tiga jam, sejak pukul 08.00 hingga 11.00, sekolah itu menjadi ruang untuk menimbang masa lalu sekaligus menyusun arah baru pendidikan kepramukaan.
Forum tersebut mempertemukan unsur yang tidak selalu berada dalam satu meja: Ketua Kwarran bersama dua Andalan Ranting Mandiraja, Kamabigus, pembina Pramuka, tokoh masyarakat, komite sekolah, serta perwakilan wali murid dari kelas I sampai VI. Kehadiran mereka menunjukkan satu hal penting: pendidikan kepramukaan tidak berdiri sendirian. Ia membutuhkan sekolah, keluarga, masyarakat, dan terutama kesediaan orang dewasa untuk berjalan bersama anak-anak.
Musyawarah kemudian menghasilkan sejumlah keputusan strategis. Peserta menetapkan visi, misi, dan rencana kerja gugus depan. Kepengurusan baru juga ditetapkan dan dilantik, meliputi Pengurus Pembimbing Gugus Depan, Pengurus Gugus Depan, serta Lembaga Pemeriksa Keuangan. Di saat yang sama, forum menyepakati anggaran kegiatan gugus depan untuk periode 2026-2028.
Ketua Kwarran Mandiraja, Slamet Purwanto, M.Pd., mengingatkan bahwa tantangan pendidikan generasi muda tidak berhenti pada kemampuan akademik. Di sanalah Gerakan Pramuka, menurut dia, memiliki posisi penting untuk membentuk ketangguhan, akhlak, dan kepemimpinan.
Ia meminta forum Mugus tidak berhenti sebagai agenda rutin organisasi. Gagasan, kritik yang membangun, dan inovasi perlu ditempatkan sebagai bahan bakar agar kegiatan Pramuka semakin menarik, edukatif, sekaligus memiliki dampak nyata bagi peserta didik.
Pandangan serupa disampaikan Kamabigus SD Negeri 4 Glempang, Arif Hidayat, S.Pd.SD. Ia menyebut Mugus sebagai forum tertinggi di tingkat gugus depan yang memiliki fungsi strategis: mengevaluasi program sebelumnya, menyusun program baru sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik, memilih kepengurusan, serta menetapkan kebijakan untuk kemajuan pendidikan kepramukaan.
Ada hal menarik dari musyawarah semacam ini. Keputusan-keputusannya tampak administratif: visi, misi, rencana kerja, kepengurusan, dan anggaran. Namun, di balik dokumen tersebut terdapat pertanyaan yang jauh lebih besar tentang bagaimana sebuah sekolah menyiapkan anak-anak menghadapi zaman yang berubah cepat.
Pramuka tidak sedang berlomba menjadi masa lalu. Ia justru sedang diuji untuk membuktikan bahwa nilai disiplin, kemandirian, gotong royong, keberanian, kepedulian, dan kepemimpinan masih menemukan tempatnya di tengah generasi yang tumbuh bersama teknologi.
Karena itu, perubahan kepengurusan bukan sekadar pergantian nama dalam struktur organisasi. Ia semestinya menjadi pergantian energi. Pengurus baru membawa tanggung jawab untuk menjadikan program kerja bukan sekadar daftar kegiatan, melainkan pengalaman yang membentuk watak.
Sidang pendahuluan dipimpin Andalan Ranting Endah Suprihatin, S.Pd.SD., dan Roza Junianto, S.Pd., sedangkan sidang utama dipimpin Pembina Pramuka Puji Hartoyo, S.Kom., Qonita Nuryanti, S.Pd., dan Wasis Darwoto, S.Pd.SD.
Dari Glempang, pesan itu terasa sederhana: Pramuka akan tetap hidup selama ada orang-orang yang bersedia merawat nilai-nilainya. Bukan hanya melalui seragam cokelat, tanda kecakapan, atau upacara, tetapi melalui kesediaan untuk mendampingi anak-anak menemukan dirinya sendiri.
Ada sesuatu yang tidak tercatat dalam berita acara musyawarah pagi itu. Sesuatu yang barangkali hanya bisa dirasakan: kerinduan pada masa ketika pendidikan tidak sekadar mengejar anak menjadi pintar, tetapi juga mengajarinya menjadi manusia.
Mungkin itulah ruh yang diam-diam ikut hadir di ruang musyawarah SD Negeri 4 Glempang. Ia tidak terlihat, tidak tercantum dalam agenda, tetapi seperti angin yang menyentuh dedaunan tanpa pernah meminta disebut namanya.
Ruh itu adalah harapan.
Harapan agar dari gugus depan yang sederhana lahir anak-anak yang kelak tidak hanya mampu memimpin dirinya sendiri, tetapi juga bersedia menggenggam tangan orang lain ketika kehidupan sedang tidak ramah.
Sebab pada akhirnya, sebuah gugus depan bukan tentang seberapa banyak kegiatan yang berhasil dilaksanakan. Ia tentang berapa banyak jiwa yang pernah disentuh, berapa banyak keberanian yang pernah ditumbuhkan, dan berapa banyak anak yang suatu hari nanti, setelah berjalan begitu jauh dalam hidupnya, masih merindukan halaman sekolah tempat untuk pertama kalinya ia belajar tentang pengabdian.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber & Dokumentasi : Endah Suprihatin





















