PAGEDONGAN – Lapangan Lebakwangi, Kecamatan Pagedongan, pada 28–29 Agustus 2026, bukan sekadar menjadi hamparan tanah tempat 160 Pramuka Penggalang berkumpul. Di tempat itu, delapan pangkalan SMP dan MTs se-Kecamatan Pagedongan mempertemukan keberanian, keterampilan, persaudaraan, dan sebuah semangat yang tak mudah diterjemahkan dengan kata-kata: jiwa korsa.
Sebanyak 80 Pramuka Penggalang putra dan 80 putri mengikuti Lomba Tingkat II (LT II) Kwartir Ranting (Kwaran) Pagedongan. Selama dua hari, mereka tidak hanya berhadapan dengan perlombaan, tetapi juga dengan diri sendiri seberapa jauh mampu bertahan, bekerja bersama, mengambil keputusan, dan tetap berdiri ketika tantangan datang silih berganti.
Di balik seragam cokelat dan setangan leher yang dikenakan, ada proses panjang tentang bagaimana seorang anak belajar menjadi manusia yang lebih tangguh.
Packing, pertendaan, pionering, dan wide game menjadi medan pengujian. Tangan-tangan muda sibuk menata perlengkapan, mendirikan tenda, mengikat simpul, menyusun konstruksi pionering, hingga menaklukkan tantangan dalam wide game. Namun yang sesungguhnya sedang diuji bukan sekadar keterampilan teknis.
Yang diuji adalah kekompakan.
Sebab dalam kepramukaan, satu orang mungkin dapat berlari lebih cepat, tetapi sebuah regu hanya akan sampai tujuan jika semua anggotanya bergerak dalam irama yang sama.
Ketua Kwaran Pagedongan, Ardi Hermawan, M.Pd., mengatakan LT II dirancang sebagai ruang pembentukan karakter sekaligus persiapan menuju Lomba Tingkat III Kwartir Cabang Banjarnegara.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kemandirian, jiwa korsa, dan kepercayaan diri Pramuka Penggalang. Selain itu, LT II juga menjadi ajang persiapan menghadapi Lomba Tingkat III Kwarcab Banjarnegara sebagai langkah menuju Lomba Tingkat IV di tingkat Kwarda.”
Pernyataan itu membuat LT II memiliki makna lebih luas daripada sekadar perlombaan. Di Lebakwangi, kemenangan tidak hanya dihitung dari siapa yang tercepat menyelesaikan tantangan atau paling rapi membangun tenda.
Ada kemenangan lain yang jauh lebih sunyi: ketika seorang anggota regu memilih membantu kawannya daripada meninggalkannya; ketika kelelahan tidak menjadi alasan untuk menyerah; ketika kesalahan tidak berubah menjadi pertengkaran, tetapi menjadi alasan untuk mencoba kembali.
Di sanalah jiwa korsa menemukan bentuknya.
LT II juga menjadi bagian dari proses seleksi untuk menentukan peserta terbaik yang akan membawa nama Kwaran Pagedongan menuju Lomba Tingkat III Kwarcab Banjarnegara. Dari sana, jalan masih panjang menuju Lomba Tingkat IV di tingkat Kwarda.
Panitia menetapkan tiga kategori penghargaan, yakni Tergiat Pratama, Tergiat Madya, dan Tergiat Utama. Gelar itu kelak mungkin hanya tertulis dalam sebuah daftar pemenang. Tetapi pengalaman selama dua hari di Lebakwangi akan tinggal lebih lama dalam ingatan para peserta.
Sebab barangkali, bertahun-tahun setelah seragam itu tak lagi dikenakan, yang mereka ingat bukan siapa yang memperoleh nilai tertinggi.
Mereka akan mengingat bagaimana mereka pernah berdiri bersama di bawah langit Pagedongan.
Tentang tenda yang didirikan dengan tangan sendiri.
Tentang tali yang harus diikat dengan benar.
Tentang kawan yang hampir menyerah lalu kembali bangkit.
Tentang lelah yang dibagi.
Tentang tawa yang muncul setelah sebuah tantangan berhasil dilewati.
Dan tentang sebuah pelajaran sederhana: bahwa manusia tidak selalu menjadi kuat karena mampu berjalan sendirian. Kadang ia menjadi kuat justru karena tahu kepada siapa harus menggenggam tangan ketika jalan terasa berat.
Lebakwangi pada dua hari itu seolah menyimpan cerita kecil tentang masa depan. Di sana, 160 Penggalang sedang belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu dimulai dari podium, keberanian tidak selalu berbentuk teriakan, dan kemenangan tidak selalu berupa piala.
Kadang kemenangan hadir dalam bentuk yang paling sederhana sebuah regu yang tetap utuh sampai garis akhir.
LT II Kwaran Pagedongan pun akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menjadi Tergiat Pratama, Madya, atau Utama. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan untuk menemukan bahwa di balik setiap simpul, tenda, permainan, dan perlombaan, ada sesuatu yang sedang dibangun secara perlahan:
karakter.
Dan mungkin, di antara suara langkah 160 Penggalang yang beradu dengan tanah Lebakwangi, masa depan sedang belajar berjalan.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber : Marzy
Dokumentasi : Kwarran Pagedongan


















