BANJARNEGARA – Tidak semua orang datang ke sebuah kegiatan dengan rasa yang sama. Ada yang datang karena tugas, ada yang datang karena amanah, dan ada pula yang datang dengan rasa ingin tahu yang belum menemukan jawabannya.
Bagi Dewi Merdekawati, utusan Kwartir Ranting Banjarnegara dari pangkalan MTs Negeri 1 Banjarnegara, Kursus Pengelolaan Gugus Depan (KPGD) Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Banjarnegara menjadi pengalaman yang membuka pintu baru.
Selama ini, ia mengaku belum terlalu banyak mengikuti kegiatan Pramuka. Namun, dua hari berada dalam lingkungan kursus justru membuatnya menemukan pengalaman yang tidak ia bayangkan sebelumnya.
“Selama ini saya memang belum begitu mengikuti kegiatan Pramuka. Tetapi setelah ikut KPGD, ternyata menyenangkan. Saya mendapatkan banyak hal baru, bertemu banyak orang, berdiskusi dan belajar bersama. Ternyata dunia Pramuka tidak seperti yang selama ini saya bayangkan,” kata Dewi.
Ada antusiasme yang tumbuh dari pengalaman itu. Bukan karena Pramuka tiba-tiba berubah, melainkan karena ia akhirnya melihat sisi lain dari kegiatan yang selama ini mungkin terasa jauh.
Menurut Dewi, proses belajar yang dikemas dalam suasana kebersamaan membuat materi terasa lebih mudah diterima.
“Ketika kita sudah masuk dan mengikuti prosesnya, ternyata banyak hal menarik. Kita bisa belajar sambil berinteraksi. Jadi bukan hanya soal materi, tetapi juga pengalaman. Saya jadi semakin tertarik untuk mengikuti kegiatan Pramuka ke depan,” ujarnya.
Pengalaman semacam itu menjadi bagian penting dari KPGD. Kursus bukan semata forum transfer pengetahuan mengenai pengelolaan Gugus Depan, tetapi juga ruang untuk mempertemukan orang-orang dari berbagai Kwartir Ranting dalam satu pengalaman belajar.
KPGD 2026 diikuti empat perwakilan dari masing-masing Kwartir Ranting se-Kabupaten Banjarnegara. Pada hari kedua, peserta memasuki materi yang lebih mengarah pada penerapan, antara lain penilaian Gugus Depan dan penyusunan rencana tindak lanjut, sebelum dilanjutkan dengan pelantikan Tim Pengembang dan penutupan.
Slamet Purwanto, M.Pd., Ketua Panitia KPGD Kwarcab Banjarnegara, melihat proses tersebut sebagai bagian dari tujuan besar kursus: membangun orang-orang yang mampu menggerakkan Gugus Depan setelah kembali ke daerah masing-masing.
“Kami ingin KPGD ini menjadi proses yang memberikan bekal nyata. Peserta tidak hanya memahami bagaimana Gugus Depan dikelola, tetapi juga mempunyai keberanian dan kemampuan untuk melakukan sesuatu setelah kembali,” ujar Slamet.
Menurutnya, tantangan terbesar sebuah kursus bukanlah ketika kegiatan berlangsung, melainkan ketika peserta kembali ke lingkungan masing-masing.
“Ukuran keberhasilan bukan hanya ketika peserta mampu mengikuti semua materi. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah pulang. Kalau ada perubahan dalam cara mengelola Gugus Depan, ada program yang diperbaiki, ada pembinaan yang semakin hidup, berarti kursus ini telah memberikan dampak,” katanya.
Karena itu, empat perwakilan dari setiap Kwartir Ranting bukan sekadar peserta. Mereka diharapkan menjadi simpul yang membawa energi baru dari ruang kursus menuju Gugus Depan.
Di antara materi, diskusi dan proses pembelajaran itu, kisah Dewi menjadi semacam pengingat kecil bahwa gerakan sebesar Pramuka sering kali tumbuh dari pengalaman yang sederhana.
Seseorang datang karena tugas. Lalu belajar. Kemudian menemukan teman. Setelah itu menemukan kesenangan. Dan tanpa disadari, mungkin mulai tumbuh rasa ingin kembali.
Begitulah sebuah ketertarikan kadang lahir—pelan, tanpa banyak suara. Dari sebuah pertemuan, dari sebuah pengalaman, dari satu kalimat sederhana yang justru memiliki daya paling panjang:
“Ternyata Pramuka itu menyenangkan.”
Barangkali dari sanalah ruh gerakan itu kembali menemukan jalannya.***(abenn29_kapusdatin.bna)





















