PURWANEGARA – Ada hal-hal yang tidak selalu terlihat dari sebuah tanda penghargaan. Di balik seorang Pramuka yang mencapai tingkat Garuda, ada proses panjang yang ditempuh dengan disiplin, pendampingan, ketekunan, dan tentu saja pembina yang memahami jalan yang harus dilalui.
Kesadaran itulah yang membawa para pembina Pramuka di wilayah Kwarran Purwanegara berkumpul di Aula KPRI Ganesa Purwanegara, Rabu (7/10/2026). Sejak pagi hingga siang, mereka mengikuti Gelang Ajar Kwarran Purwanegara Tahun 2026, sebuah ruang belajar yang diarahkan untuk memperkuat kompetensi, menyegarkan pengetahuan, sekaligus menyiapkan kader-kader pembina yang lebih siap menghadapi kebutuhan pembinaan di gugus depan.
Kegiatan yang secara khusus mendalami aplikasi Pramuka Garuda untuk golongan Siaga, Penggalang, dan Penegak, sekaligus memperkuat pemahaman terhadap SK Kwarnas Gerakan Pramuka Nomor 038 Tahun 2017 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Pramuka Garuda.
Pilihan materi tersebut memperlihatkan satu pesan penting: pembinaan tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman. Di tengah perubahan kebutuhan peserta didik dan tuntutan organisasi, pembina harus memiliki kemampuan untuk membaca aturan, memahami mekanisme, dan menerjemahkannya menjadi pembinaan yang benar-benar dirasakan anak.
Ketua Kwarran Purwanegara, Lusito, S.Pd.SD, menegaskan bahwa Gelang Ajar menjadi bagian dari ikhtiar Kwarran untuk membangun pembina yang tidak berhenti belajar.
“Gelang Ajar ini kami jadikan sebagai ruang untuk menyegarkan kembali pengetahuan para pembina. Kami ingin ada kesamaan pemahaman, khususnya terkait Pramuka Garuda, sehingga ketika diterapkan di gugus depan tidak terjadi perbedaan pemahaman yang justru dapat menghambat proses pembinaan,” kata Lusito.
Ia menambahkan, kaderisasi pembina menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan organisasi.
“Organisasi akan kuat apabila kadernya kuat. Pembina adalah salah satu ujung tombak Gerakan Pramuka. Karena itu, peningkatan kompetensi pembina harus terus dilakukan. Kita ingin pembina di Purwanegara tidak hanya aktif berkegiatan, tetapi juga memiliki kapasitas dan pemahaman yang terus berkembang,” ujarnya.
Bagi Lusito, Pramuka Garuda juga tidak boleh ditempatkan semata sebagai target akhir.
“Yang kita bangun sebenarnya bukan hanya anak yang mendapatkan predikat Garuda. Kita sedang membangun karakter. Predikat itu merupakan buah dari proses pembinaan. Karena itu prosesnya harus benar, pendampingannya harus baik, dan pembinanya harus memahami apa yang sedang mereka tanamkan kepada peserta didik,” katanya.
Pandangan senada disampaikan Sugeng Darmadi, M.Pd, anggota Mabiran Purwanegara yang juga Korwilcamdikpora Purwanegara. Ia melihat pembinaan kepramukaan sebagai bagian penting dalam membentuk pengalaman belajar peserta didik di luar ruang kelas.
“Anak-anak membutuhkan ruang untuk belajar bertanggung jawab, mengambil keputusan, bekerja sama, mandiri, dan peduli terhadap lingkungan. Pramuka memiliki ruang yang sangat luas untuk itu. Tetapi semuanya akan lebih kuat apabila pembinanya memiliki kompetensi dan pemahaman yang baik,” ujar Sugeng.
Ia mengapresiasi materi Gelang Ajar yang memberikan perhatian pada regulasi Pramuka Garuda.
“SK Nomor 038 Tahun 2017 harus dipahami bukan sekadar sebagai dokumen yang dibaca, tetapi sebagai pedoman agar proses pembinaan berjalan sesuai arah. Ketika pembina memahami aturan, maka anak-anak akan mendapatkan proses pembinaan yang lebih terukur dan tidak sekadar mengejar capaian,” katanya.
Sugeng juga mendorong agar hasil Gelang Ajar diteruskan melalui pengimbasan di satuan pendidikan.
“Saya berharap apa yang diperoleh hari ini tidak berhenti di Aula KPRI Ganesa. Setelah kembali ke sekolah atau gugus depan, pengetahuan itu harus menjadi praktik. Pembina saling berbagi, saling menguatkan, dan pada akhirnya peserta didik yang mendapatkan manfaat paling besar,” tuturnya.
Gelang Ajar Kwarran Purwanegara Tahun 2026 pun menjadi semacam titik temu antara pengalaman dan pembaruan. Para pembina datang membawa pengalaman masing-masing, kemudian duduk bersama untuk menyamakan pemahaman dan menyiapkan langkah berikutnya.
Dari sebuah aula, mungkin tidak banyak yang tampak berubah pada hari itu. Namun dari ruang belajar semacam inilah langkah-langkah kecil sering menemukan arah. Sebab jalan menuju Garuda tidak hanya membutuhkan sayap pada seorang peserta didik, tetapi juga tangan pembina yang tahu kapan mendampingi, kapan menguatkan, dan ke mana harus mengarahkan.***(abenn29_Kapusdatin.bna
Narasumber & Dokumentasi : Kwarran Purwanegara




















