BANJARNEGARA – Ada pelajaran yang tak selalu membutuhkan buku tebal, papan tulis, atau ruang kelas. Terkadang, cukup dengan menengadah ke langit, mengamati matahari, dan belajar memahami ke mana kaki harus melangkah.
Pagi Jumat, 16 Oktober 2026, pukul 08.00 WIB, Pramuka Siaga SD Negeri 2 Kutabanjarnegara, Gudep 06-661–06-662, berkenalan dengan arah mata angin. Materi yang tampak sederhana itu sesungguhnya menyimpan pelajaran besar: bagaimana seorang anak mengenali ruang, membaca petunjuk alam, dan perlahan menemukan keberanian untuk menentukan jalannya sendiri.
Timur dan barat bukan lagi sekadar nama yang harus dihafalkan. Matahari yang terbit dan tenggelam menjadi penanda alam yang mengajarkan bahwa lingkungan menyimpan banyak petunjuk bagi siapa saja yang mau mengamati. Dari sana, anak-anak diperkenalkan pada keterampilan membaca denah, mengenali posisi tempat, hingga memahami manfaat arah dalam perjalanan sehari-hari.
Bagi Kamabigus SDN 2 Kutabanjarnegara, Fakhrudin, S.Pd.SD, kegiatan kepramukaan seperti ini layak menjadi ruang tumbuh bagi pengetahuan sekaligus karakter. Dalam draf statmen untuk publikasi, ia menekankan bahwa pendidikan tidak cukup hanya membuat anak mengetahui sesuatu, tetapi juga membekali mereka keberanian untuk menggunakannya.
“Pramuka harus menjadi tempat anak-anak belajar menghadapi kehidupan melalui pengalaman nyata. Mengenal arah mata angin mungkin terlihat sederhana, tetapi dari sinilah tumbuh kebiasaan mengamati, berpikir, dan mengambil keputusan. Kami ingin anak-anak menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, serta mampu memanfaatkan pengetahuan untuk membantu dirinya sendiri dan orang lain,” pernyataan Fakhrudin.
Semangat itu menemukan ruang dalam pendampingan para pembina. Erni Suryaningsih, S.E., dalam pernyataannya, menyoroti pentingnya proses belajar yang memberi kesempatan kepada anak untuk mengalami sendiri apa yang mereka pelajari.
“Ketika anak diberi kesempatan mengamati alam dan mencoba menentukan arah, mereka sedang membangun pemahaman yang akan lebih melekat daripada sekadar menghafal. Tugas kami bukan hanya menyampaikan materi, melainkan mendampingi mereka agar berani mencoba, tidak mudah menyerah, dan semakin yakin terhadap kemampuan dirinya,” ujar Erni.
Kegiatan tersebut didampingi bersama Suyanti, S.Pd.SD.; Werdiningsih, S.Pd.SD.; Alex Rias Widiyastuti, S.E.; Ayudha Brilly Priatama; Sundiah, S.Pd.I.; Layli Saptorini, S.I.Pust.; Dewi Yuliani, S.Pd.; Anjana Nurul Isna; dan Moch Solechan.
Pada akhirnya, arah mata angin bukan semata-mata tentang utara, selatan, timur, dan barat. Ia adalah pintu kecil menuju kecakapan hidup yang lebih luas. Anak-anak belajar bahwa untuk sampai ke suatu tujuan, seseorang perlu mengenali posisi, membaca keadaan, dan berani melangkah dengan pertimbangan.
Di sanalah ruh pendidikan kepramukaan senantiasa tertiup: menyalakan keberanian dari hal-hal sederhana, menumbuhkan kemandirian melalui pengalaman, dan merawat harapan agar setiap anak kelak mampu menemukan arahnya sendiri, bahkan ketika perjalanan hidup tak selalu menyediakan penunjuk jalan.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber & Dokumentasi : Erni Suryaningsih, SE


















