Banjarnegara — Ada denyut yang berbeda di jantung pembinaan generasi muda Banjarnegara. Ia berdetak lebih kuat, lebih berani, seakan membawa kabar gembira yang melintasi batas waktu: ribuan anak negeri telah menapaki puncak pencapaian tertinggi dalam Gerakan Pramuka.
Dalam rentang masa uji 1 November 2025 hingga 14 Februari 2026, Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Banjarnegara menorehkan capaian monumental. Sebanyak 7.749 Pramuka Garuda resmi dilantik—sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan denyut harapan masa depan.
Dari jumlah tersebut, 7.105 Pramuka Siaga, 595 Pramuka Penggalang, dan 49 Pramuka Penegak berdiri tegak sebagai simbol ketekunan, disiplin, dan keteladanan. Mereka bukan hanya peserta didik, tetapi cahaya kecil yang siap menerangi lingkungannya.
Seperti embun pagi yang jatuh tanpa suara namun memberi kehidupan, proses pembinaan Pramuka Garuda di Banjarnegara berjalan dalam kesenyapan kerja keras—dari Kwartir Ranting, Pembina, Mabigus, hingga orang tua. Semua bergerak dalam satu irama: membentuk karakter, bukan sekadar angka.
“Capaian ini bukanlah tujuan akhir, melainkan gerbang awal untuk melahirkan generasi yang tangguh dan berintegritas,” ungkap Eko Prayitno Kurniawan, Tim Pengembang Pramuka Garuda Kwartir Cabang Banjarnegara.
Menurutnya, Pramuka Garuda adalah wujud konkret pendidikan karakter yang utuh. “Di dalamnya tidak hanya ada kecakapan keterampilan, tetapi juga nilai kejujuran, tanggung jawab, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Inilah investasi jangka panjang bangsa. Kita tidak sedang membentuk peserta didik biasa, tetapi calon pemimpin masa depan,” tegasnya.
Sementara itu, Sugeng Wiyono, yang juga tergabung dalam Tim Pengembang Pramuka Garuda, menambahkan bahwa capaian ini adalah hasil dari kolaborasi yang terstruktur dan berkelanjutan.
“Keberhasilan ini lahir dari sinergi. Pembina yang sabar membimbing, Mabigus yang memberi ruang, kwartir yang menguatkan sistem, serta orang tua yang mendukung dari rumah. Semua adalah satu ekosistem pendidikan karakter,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan jumlah, tetapi meningkatkan kualitas. “Pramuka Garuda harus menjadi teladan—di gugus depan, di sekolah, dan di masyarakat. Mereka harus hadir sebagai solusi, bukan sekadar simbol prestasi,” imbuh Sugeng.
Capaian ini terasa lebih dari sekadar angka. Ia seperti gema yang memantul dari lembah ke lembah, menyampaikan pesan bahwa pembinaan yang konsisten akan selalu menemukan jalannya menuju keberhasilan.
Banjarnegara kini tidak hanya mencetak Pramuka Garuda—ia sedang menumbuhkan karakter unggul yang berakar kuat dan menjulang tinggi. Dalam setiap pelantikan, terselip doa yang tak terucap: agar setiap Garuda yang terbang tidak hanya tinggi, tetapi juga membawa manfaat bagi sesama.
Di tengah arus zaman yang terus berubah, Gerakan Pramuka Banjarnegara membuktikan bahwa nilai-nilai luhur tidak pernah usang. Ia justru semakin relevan—menjadi kompas di tengah kabut, menjadi lentera di tengah gelap.
Dan dari Banjarnegara, pesan itu meluncur jauh:
bahwa masa depan bangsa sedang ditempa—pelan, pasti, dan penuh makna—oleh tangan-tangan yang setia mendidik.
Satu Garuda mungkin hanya seekor burung. Namun ribuan Garuda adalah langit yang penuh harapan.***(abenn29_pusdatin)



















“Memaksa” para pembina untuk menarapkan SKU, SKK, dan SPG di Banjarmegara. Hakikat berpramuka menjadi semakin ditemukan.