MANDIRAJA – Pagi itu, Sabtu, 4 April 2026, embun yang belum sepenuhnya luruh di lapangan SMP Negeri 2 Mandiraja seakan menjadi saksi bisu lahirnya sebuah perayaan yang tak sekadar meriah, namun juga sarat makna. Ribuan Pramuka Siaga dari berbagai penjuru berkumpul, membawa semangat, harapan, dan diam-diam kerinduan yang lama terpendam.
Pesta Siaga Ranting Kwartir Ranting Mandiraja tahun ini bukan hanya tentang perlombaan dan ketangkasan. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan rasa. Sebanyak 61 barung putra dan 62 barung putri, ditambah lima barung kehormatan dari SLB Negeri Mandiraja, larut dalam suasana yang penuh sukacita. Lebih dari seribu anak-anak berdiri, bergerak, dan tertawa dalam satu irama: kebahagiaan yang sederhana namun menggetarkan.
Di setiap sudut taman kegiatan dari Taman Ketakwaan hingga Taman Bumbung Kemanusiaan terlihat wajah-wajah kecil yang berbinar. Mereka belajar bukan sekadar dengan pikiran, tetapi dengan hati. Mereka berlari, berkompetisi, saling menyemangati, dan tanpa sadar sedang menanamkan benih-benih kehidupan: disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan keberanian untuk percaya pada diri sendiri.
Munjiati, Korwilcam Mandiraja sebagai anggota mabiran, menyampaikan saat upacara pembukaan, dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan bahwa Gerakan Pramuka bukan hanya kegiatan tambahan dalam dunia pendidikan, melainkan ruang pembentukan manusia seutuhnya. Ia menggambarkan bagaimana anak-anak yang hari ini bermain dan belajar di lapangan ini, kelak akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berkarakter, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Baginya, setiap langkah kecil anak-anak di arena Pesta Siaga adalah bagian dari perjalanan panjang menuju masa depan bangsa yang lebih cerah perjalanan yang dimulai dari tawa sederhana dan kebersamaan yang tulus.
Slamet Purwanto, Ketua Kwarran Mandiraja, memandang kegiatan ini sebagai oase kebahagiaan di tengah dinamika kehidupan anak-anak masa kini. Ia menuturkan bahwa di balik gelak tawa dan sorak sorai, tersimpan proses pembelajaran yang begitu dalam. Nilai-nilai Dwi Satya dan Dwi Darma tidak hanya dihafalkan, tetapi dihidupkan dalam setiap permainan, dalam setiap kerja sama, dalam setiap momen kebersamaan. Ia merasakan bahwa kegiatan ini bukan hanya membentuk karakter, tetapi juga menghidupkan kembali rasa-rasa kebersamaan yang mungkin mulai jarang dirasakan di tengah hiruk pikuk zaman.
Fajar Astuti, ketua panitia kegiatan, dengan mata yang tampak berbinar haru, mengungkapkan bahwa terselenggaranya kegiatan ini adalah buah dari gotong royong yang tulus. Ia menggambarkan bagaimana para panitia, pembina, dan seluruh pihak bekerja tanpa lelah, menyatukan tenaga dan hati demi menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak. Ia berharap, kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi tradisi yang terus hidup tradisi yang selalu dirindukan, yang selalu dinanti dengan penuh cinta, dan yang mampu menghadirkan kembali kenangan indah di setiap langkah generasi berikutnya.
Di tengah kemeriahan itu, semangat berkompetisi pun menemukan puncaknya. Untuk golongan putra, MI Maarif Kebanaran tampil gemilang dengan meraih Tergiat Utama 1, disusul SD Negeri Banjengan sebagai Tergiat Utama 2, dan kembali MI Maarif Kebanaran menorehkan prestasi pada posisi Tergiat Utama 3. Pada kategori Tergiat Madya, SD Negeri 2 Kaliwungu meraih peringkat pertama, diikuti SD Negeri 1 Kebanaran dan MI Muhammadiyah Kaliwungu. Sementara itu, pada Tergiat Purwa, SD Negeri 1 Mandiraja Wetan berada di posisi teratas, disusul SD Negeri 1 Purwasaba dan MI Al Ma’arif Mandiraja Wetan.
Untuk golongan putri, MI Maarif Kebanaran kembali menunjukkan dominasinya dengan meraih Tergiat Utama 1, diikuti SD Negeri Banjengan sebagai Tergiat Utama 2, dan MI Muhammadiyah Kaliwungu sebagai Tergiat Utama 3. Pada kategori Tergiat Madya, MI Al Ma’arif Blimbing menempati posisi pertama, disusul SD Negeri 1 Purwasaba dan SD Negeri 1 Kebakalan. Adapun pada Tergiat Purwa, SD Negeri 1 Kebanaran meraih peringkat pertama, diikuti SDN Blimbing dan SD Negeri 1 Mandiraja Wetan.
Namun lebih dari sekadar siapa yang berdiri di podium, hari itu kemenangan sejati terasa merata. Ia hadir dalam peluh yang jatuh, dalam tawa yang lepas, dan dalam pelukan hangat antar sesama. Tidak ada yang benar-benar kalah, karena setiap peserta pulang dengan cerita, pengalaman, dan rasa bangga yang tak ternilai.
Dan memang, ada sesuatu yang tak kasat mata namun terasa begitu kuat di Mandiraja hari itu sebuah rasa rindu. Rindu akan kebersamaan yang hangat. Rindu akan tawa tanpa beban. Rindu akan dunia yang sederhana, di mana kemenangan bukan sekadar piala, tetapi tentang keberanian mencoba dan kebahagiaan berbagi.
Ketika matahari mulai beranjak tinggi dan kegiatan perlahan menuju usai, yang tersisa bukan hanya daftar juara atau catatan kegiatan yang berjalan lancar. Yang tertinggal adalah jejak-jejak rasa yang akan pulang bersama setiap peserta, bersemayam dalam hati mereka, dan mungkin suatu hari nanti akan memanggil mereka kembali.
Karena di Mandiraja, Pesta Siaga bukan hanya sebuah kegiatan. Ia adalah kenangan yang hidup. Ia adalah pelukan hangat yang tak terlihat. Ia adalah rindu yang tumbuh diam-diam namun abadi.***(abenn29_pusdatin.bna)
Dokumentasi : Kwarran Mandiraja




















“Pesta” karakter. Sebuah momen “menanam” benih kepemimpinan sejak dini. Kelak negeri ini memanen pemimpin yg sesungguhnya.