Pagi itu, embun masih setia menggantung di dedaunan Desa Sikapat. Kabut tipis belum sepenuhnya pergi ketika puluhan langkah mulai menyusuri jalan setapak menuju rimba. Di sanalah alam seakan membuka lembaran baru, mengundang setiap peserta untuk berdialog dengan tanjakan, sungai, bebatuan, dan sunyi yang hanya dipahami oleh mereka yang berani melangkah.
Lomba Lintas Alam Sahabat Rimba Indonesia 2026 bukan sekadar perlombaan menuju garis akhir. Di sepanjang rute sejauh 10 kilometer yang melintasi Desa Sikapat hingga Gandatapa, setiap peserta diuji tentang ketangguhan, kekompakan, kecerdasan membaca medan, dan kesetiaannya menjaga alam. Hutan tidak pernah memilih siapa yang akan menang. Ia hanya menerima mereka yang menghormati setiap jengkal tanah yang dipijaknya.
Di tengah perjalanan itu, Kontingen Banjarnegara berjalan membawa sesuatu yang tak terlihat oleh mata. Mereka membawa nama daerah, doa para pembina, harapan keluarga, dan kerinduan untuk membuktikan bahwa setiap latihan yang melelahkan akan menemukan maknanya pada waktu yang tepat.
Ketika pengumuman juara menggema di penghujung acara, rimba seolah ikut bersorak. Banjarnegara berhasil meraih Juara 1 Kategori Tunggal Putra, Juara 1 Beregu Putra, Juara 2 Beregu Putri, sekaligus membawa pulang Piala Bergilir Sepulau Jawa. Namun rupanya alam belum selesai menghadiahkan kebahagiaan.
Nama Banjarnegara kembali dipanggil menuju panggung penghormatan. Kali ini bukan karena kecepatan ataupun ketangguhan melewati lintasan, melainkan karena jati diri yang mereka tunjukkan selama perjalanan. Penghargaan Best Costume dan Laskar Muda Rimba menjadi penanda bahwa kemenangan bukan hanya diukur dari siapa yang lebih dahulu mencapai garis akhir, tetapi juga dari bagaimana seseorang menjaga identitas, semangat, serta menghormati alam yang telah memberinya ruang untuk belajar.
Di balik setiap capaian itu berdiri para pendamping yang tak pernah lelah menjaga bara semangat, yakni Kak Tuhari, Kak Sri Hartati, Kak Slamet Riyadi, dan Kak Muhammad Muklis. Bersama Muhamad Farhan Muzaqi, Agliz Nenta Pratama, Agus Riski Alif Ramadhan, Diono, Muhammad Reffa Wicaksana, Faisya Yanuar Putra, Tangguh Ingza Nur Alam, Yemima Lia Purwandari, Tiwi Umairoh, dan Novalia Faridatun Mahmudah, mereka menulis kisah yang kelak akan dikenang sebagai perjalanan yang mengubah lelah menjadi kebanggaan.
Dengan mata yang masih menyimpan rasa haru, Slamet Riyadi mengucapkan syukur.
“Alhamdulillahirobbil’alamin, dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Alhamdulillah dalam Lomba Lintas Alam Sahabat Rimba Indonesia Tahun 2026 Kontingen Banjarnegara masih diberi kesempatan memperoleh kategori khusus, yakni Best Costume dan Laskar Muda Rimba. Bagi kami, penghargaan ini memiliki makna yang sangat dalam karena melengkapi keberhasilan anak-anak meraih Juara 1 Tunggal Putra, Juara 1 Beregu Putra, Juara 2 Beregu Putri, serta Piala Bergilir Sepulau Jawa. Ini bukan sekadar tentang piala, tetapi tentang karakter, kebersamaan, disiplin, dan kecintaan kepada alam yang telah mereka tunjukkan sepanjang perjalanan. Semoga setiap langkah yang mereka jejakkan hari ini menjadi jejak-jejak kebaikan yang kelak akan mengantarkan mereka pada kemenangan-kemenangan yang lebih besar.”
Ketika matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan Banyumas, rimba kembali sunyi. Namun sunyi itu kini menyimpan cerita yang akan lama hidup di hati para pesertanya. Sebab hari itu Banjarnegara tidak hanya pulang membawa piala. Mereka pulang membawa keyakinan bahwa setiap langkah yang ditempuh dengan keikhlasan akan selalu menemukan jalan menuju kemenangan.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber : Slamet Riyadi
Dokumentasi : Pramuli Kwarcab Banjarnegara






















