WANAYASA – Ada janji yang selesai ketika kalimat terakhir diucapkan. Tetapi ada pula janji yang justru baru dimulai setelah seseorang menandatangani namanya, menerima amanah, lalu kembali kepada kehidupan sehari-hari dengan beban tanggung jawab yang lebih besar.
Di Aula Kantor Kecamatan Wanayasa, Sabtu (12/9/2026), janji semacam itu kembali diucapkan. Pengurus Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Wanayasa Masa Bakti 2026–2029 dilantik untuk melanjutkan sebuah pekerjaan yang barangkali tidak pernah benar-benar selesai: mendidik manusia agar tumbuh menjadi pribadi yang berguna.
Santo, S.Pd. berdiri sebagai Ketua Kwartir Ranting Wanayasa untuk masa bakti empat tahun mendatang. Di sampingnya terdapat Ardian Dwi Prasetyo, S.Pd., Kurniawan Ubaidilah, S.Pd., Taufik Gunadi, S.Pd.I., serta jajaran sekretaris, bendahara dan andalan ranting yang akan bekerja dalam satu tarikan napas pengabdian.
Mereka datang dari latar tugas yang berbeda. Ada yang mengurus organisasi dan sarana prasarana, ada yang menjaga administrasi dan keuangan, ada yang diberi tanggung jawab membina Siaga, dan ada yang akan berjalan bersama para Penggalang. Namun seluruhnya bermuara pada satu pekerjaan besar: memastikan pendidikan kepramukaan tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Pelantikan dilakukan oleh Ketua majelis Pembimbing Ranting Sri Wahjuni, S.E. Bagi Sri Wahjuni, momentum tersebut tidak semestinya berhenti sebagai pergantian atau pembentukan kepengurusan. Ia harus menjadi awal dari gerak yang lebih nyata.
“Yang kita lantik hari ini bukan hanya pengurus, tetapi orang-orang yang bersedia mengambil bagian dalam perjalanan pembinaan generasi muda. Karena itu, setelah pelantikan harus ada kerja nyata. Jangan sampai amanah berhenti pada dokumen dan seremoni. Pengurus harus hadir di tengah pembina, gugus depan, peserta didik, dan masyarakat,” kata Sri Wahjuni.
Wakil Ketua Bidang Pembinaan Anggota Dewasa Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Banjarnegara, Aris Sudaryanto, S.Pd., M.M, saat menyaksikan pelantikan mengingatkan bahwa tantangan Gerakan Pramuka hari ini tidak semakin ringan. Dunia anak dan remaja berubah begitu cepat. Teknologi membawa banyak kemudahan, tetapi pada saat yang sama membutuhkan penguatan karakter, keteladanan dan kemampuan untuk membangun relasi sosial yang sehat.
Karena itu, menurut Aris, pembinaan anggota dewasa harus berjalan seiring dengan pembinaan anggota muda. Para pembina membutuhkan penguatan kapasitas agar mampu menjadi pendamping sekaligus teladan yang relevan bagi peserta didik.
“Anak-anak membutuhkan figur yang bisa mereka percaya. Maka pembina harus terus belajar dan memberikan keteladanan. Kalau kita ingin membentuk generasi yang baik, kita harus memulainya dari orang-orang dewasa yang mendampingi mereka,” ujarnya.
Di balik struktur kepengurusan yang tersusun rapi, sesungguhnya ada wajah-wajah manusia yang akan menghabiskan waktu mereka untuk pekerjaan yang sering kali sunyi. Tidak selalu ada panggung. Tidak selalu ada penghargaan. Bahkan tidak selalu ada orang yang mengetahui berapa banyak tenaga yang telah mereka keluarkan.
Namun Pramuka memang tumbuh dari kesediaan semacam itu.
Dari pembina yang datang lebih awal ketika lapangan masih basah. Dari seseorang yang tetap mendampingi anak-anak ketika kegiatan hampir selesai. Dari tangan yang membantu mengikat tali, mendirikan tenda, membersihkan halaman, mengajarkan sandi, atau sekadar memberi keberanian kepada seorang anak yang sedang takut mencoba.
Hal-hal kecil itulah yang kelak mungkin justru menjadi ingatan paling panjang.
Sebab seseorang bisa saja lupa siapa ketua sebuah kwartir pada suatu masa. Tetapi seorang anak sering kali tidak lupa kepada pembina yang pernah mengatakan kepadanya bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Ia mungkin lupa tanggal sebuah kegiatan, tetapi mengingat perasaan ketika untuk pertama kalinya dipercaya memimpin regu. Dan di situlah pendidikan kepramukaan menemukan maknanya.
Wanayasa kini memasuki lembar baru. Santo bersama seluruh pengurusnya membawa amanah hingga 2029. Perjalanan itu masih panjang, dan tidak semuanya akan mudah. Akan ada perbedaan pendapat, keterbatasan, kesibukan, bahkan mungkin kelelahan. Tetapi sebuah gerakan tidak pernah dibangun oleh mereka yang hanya menunggu keadaan menjadi sempurna.
Ia dibangun oleh orang-orang yang memilih tetap berjalan.
Maka Sabtu itu bukan hanya tentang pelantikan. Ia tentang sebuah kerinduan yang diam-diam terus hidup kerinduan agar Pramuka tetap menjadi rumah bagi anak-anak untuk belajar menjadi manusia; rumah bagi para pembina untuk mengabdikan pengalaman; dan rumah bagi masyarakat untuk menemukan kembali arti kebersamaan.
Ruh itu senantiasa tertiup, dari generasi yang pergi menuju generasi yang datang. Ia tidak gaduh, tetapi terasa. Tidak meminta banyak, tetapi memberi banyak.
Dan di Wanayasa, api itu kembali dijaga.
Bukan agar ia menjadi nyala yang paling besar, melainkan agar tak pernah padam ketika suatu hari generasi berikutnya datang mencari cahaya. .***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber, dokumentasi : wiyong

















