BANJARNEGARA – Pagi itu suasana di Kwartir Ranting Banjarnegara terasa berbeda. Ada semangat yang menyala, harapan yang berdenyut, dan tekad yang perlahan tumbuh dari puluhan calon pembina yang berkumpul dalam satu tujuan: mengabdi melalui Gerakan Pramuka.
Sebanyak 44 peserta eks Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) resmi memulai perjalanan baru mereka melalui Masa Narakarya Dasar, Kamis (12/03). Mereka datang dari berbagai gugus depan dengan latar belakang pembinaan golongan Siaga, Penggalang, hingga Penegak. Namun pagi itu, semuanya dipersatukan oleh satu tekad yang sama: menjadikan ilmu yang pernah dipelajari bukan sekadar pengetahuan, tetapi tindakan nyata.
Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Wakil Ketua Bidang Pembinaan Anggota Muda Kwartir Cabang Banjarnegara sekaligus Ketua Kwarran Banjarnegara, Kak Rowi, M.Pd.I. Dalam arahannya, ia mengingatkan bahwa perjalanan seorang pembina tidak berhenti pada pelatihan, melainkan justru dimulai dari sana.
“Punya ilmu tetapi tidak diamalkan itu sia-sia,” tegasnya di hadapan para peserta.
“Perlu diingat, Narakarya berasal dari kata nara yang berarti manusia, dan karya yang berarti tindakan. Maka Narakarya adalah saat di mana manusia membuktikan ilmunya melalui karya nyata.”
Kata-kata itu seolah menjadi pengingat bahwa Gerakan Pramuka tidak dibangun oleh teori semata, melainkan oleh langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan pengabdian.
Kak Rowi juga menegaskan bahwa ke-44 peserta yang hadir di ruangan tersebut bukan sekadar peserta kegiatan, melainkan calon penggerak pembinaan di pangkalan masing-masing.
“Kelak, dari tangan para pembina inilah akan lahir generasi yang berkarakter, berani, dan siap menghadapi masa depan,” pesannya.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Karang Pamitran, sebuah forum penguatan wawasan bagi para pembina. Pada sesi ini, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Cabang (Kapusdik) Kwarcab Banjarnegara, Kak Sugeng Wiyono, S.Pd, memberikan pembekalan mendalam mengenai telaah Syarat Kecakapan Umum (SKU), Syarat Kecakapan Khusus (SKK), serta Pramuka Garuda.
Dalam penjelasannya, Kak Sugeng menekankan bahwa tujuan besar pembinaan Pramuka bukan sekadar menyelesaikan kegiatan latihan rutin, melainkan mengantarkan peserta didik mencapai tingkatan tertinggi dalam Gerakan Pramuka: Pramuka Garuda.
Untuk mencapai tujuan tersebut, para pembina diminta benar-benar memahami dan menelaah SKU dan SKK secara mendalam. Dua instrumen tersebut bukan hanya daftar persyaratan semata, melainkan peta perjalanan pembentukan karakter, keterampilan, dan kepemimpinan peserta didik.
Menutup sesi pembekalan, Kak Sugeng memberikan pesan motivasi yang menggugah semangat para peserta.
“Milikilah tekad, bukan sekadar niat. Niat bisa saja berubah di tengah perjalanan, tetapi tekad yang kuat akan menjaga langkah kalian tetap tegak hingga akhir,” ujarnya penuh keyakinan.
Di ruangan itu, kata-kata tersebut terasa lebih dari sekadar pesan motivasi. Ia menjadi pengingat bahwa menjadi pembina Pramuka adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, ketulusan, dan komitmen.
Dengan dimulainya Masa Narakarya Dasar ini, harapan baru pun tumbuh bagi pembinaan Pramuka di Banjarnegara. Dari ruang sederhana di kwartir ranting itu, langkah-langkah kecil para pembina mulai dirajut langkah yang kelak akan membentuk generasi muda yang tangguh, berkarakter, dan siap menerangi masa depan bangsa.
Sebab pada akhirnya, Narakarya bukan sekadar program.
Ia adalah awal perjalanan pengabdian.***(rivagrants07)



















