Banjarnegara – Krisis air bersih selalu memiliki wajah yang sederhana sekaligus getir. Ia hadir dalam jeriken yang kosong, bak penampungan yang menipis, dan keluarga yang harus menunggu datangnya air untuk memenuhi kebutuhan paling dasar. Di sejumlah wilayah Banjarnegara, persoalan itu dijawab bukan dengan banyak kata, melainkan dengan mengirimkan air. Sebanyak 6.000 liter air bersih didistribusikan melalui kolaborasi Lazis Jateng Banjarnegara bersama MA Ma’arif Bawang serta Pramuka Peduli Kwartir Cabang Banjarnegara, Sabtu (12/9/2026), menyasar warga di Desa Kaliajir, Kecamatan Purwanegara, dan Desa Kebondalem, Kecamatan Bawang.
Distribusi dilakukan sejak pukul 10.00 hingga 17.00 WIB. Di Desa Kaliajir, air bersih dikirim masing-masing satu trip dengan kapasitas 2.000 liter ke Dukuh Ciledok dan Dukuh Bulukuning. Sementara di Desa Kebondalem, Dukuh Petir, Kecamatan Bawang, satu trip berkapasitas 2.000 liter disalurkan pada dua titik. Seluruh proses berlangsung lancar dan aman. Air pun terdistribusi dengan baik kepada masyarakat yang membutuhkan.
Di balik agenda tersebut, kolaborasi menjadi kata kunci. Lazis Jateng Cabang Banjarnegara bersama unsur Pramuka MA Ma’arif Bawang memperlihatkan bahwa kerja kemanusiaan tidak selalu membutuhkan struktur yang rumit. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk bergerak ketika kebutuhan masyarakat datang lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk memenuhinya sendiri.
Kegiatan itu didampingi Kak Prihatin, Kak Tuhari, Kak Sodikin, Kak Masrur, dan Pak Sarip selaku Ketua Lazis Jateng Cabang Banjarnegara. Sementara personel yang bertugas melibatkan Eka Lestari, Fian, Helsi Putri, Meli Rahmawati, Dini Tri Wahyuni, Septiyani Laelatul, Putri Elita, Nadhif, Ali, serta Pramuka MA Ma’arif Bawang.
Ada hal menarik dari distribusi air bersih yang kerap luput dari perhatian: yang dipindahkan bukan semata-mata air, melainkan juga rasa aman. Ketika air tiba di tengah masyarakat, yang datang bersamanya adalah kesempatan untuk kembali menjalani rutinitas dengan lebih tenang. Memasak, membersihkan diri, mencuci, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga menjadi sesuatu yang kembali mungkin dilakukan tanpa kegelisahan yang berlebihan.
Dalam perspektif yang lebih luas, aksi semacam ini juga memperlihatkan wajah lain gerakan Pramuka. Pendidikan kepramukaan tidak berhenti pada latihan baris-berbaris, perkemahan, atau keterampilan lapangan. Ia menemukan relevansinya ketika nilai kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan. Anak-anak muda belajar bahwa keberanian bukan hanya tentang mampu berdiri paling depan, tetapi juga tentang bersedia turun tangan ketika orang lain membutuhkan pertolongan.
Pada akhirnya, air mempunyai cara sendiri untuk mengajarkan manusia tentang kehidupan. Ia mengalir, mencari celah, melewati jarak, dan tiba di tempat yang membutuhkan. Begitu pula kepedulian. Ia tidak mengenal batas antara satu kelompok dengan kelompok lainnya ketika tujuan akhirnya adalah kemanusiaan. Dari Kaliajir hingga Kebondalem, dari Ciledok hingga Bulukuning dan Petir, 6.000 liter air hari itu menjadi semacam penanda bahwa Banjarnegara masih menyimpan mata air kepedulian yang tak pernah benar-benar kering.
Barangkali kelak ketika wadah-wadah itu kembali kosong, yang tertinggal bukan hanya ingatan tentang air yang pernah datang. Ada jejak tentang orang-orang yang memilih hadir ketika keadaan sedang membutuhkan. Ada langkah yang mungkin sederhana, tetapi menyimpan makna panjang. Sebab dalam setiap pengabdian selalu ada ruh yang senantiasa tertiup—diam-diam menjaga kemanusiaan agar tidak kehilangan arah, dan membuat kerinduan kepada kehidupan yang lebih baik tetap menyala. ***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber : Prihatin Sediono


















