BANJARNEGARA – Ada pelajaran yang tak selalu bisa dituliskan di papan tulis. Ia tumbuh ketika kaki kecil berani melangkah, ketika tangan berusaha meraih pegangan, ketika seorang anak belajar mengikuti petunjuk, dan ketika rasa takut perlahan dikalahkan oleh keberanian. Di kawasan wisata The Pikas Banjarnegara, Selasa (20/10/2026), pelajaran semacam itulah yang menghidupkan Perkemahan Satu Hari (Persari) Pramuka Siaga Kwarran Madukara Tahun 2026.
Sebanyak 499 Pramuka Siaga calon Pramuka Garuda hadir membawa semangat yang mungkin lebih besar daripada tubuh kecil mereka. Sejak pukul 07.00 hingga 15.00 WIB, kawasan kegiatan menjadi ruang belajar yang bergerak, tempat keringat, keberanian, persahabatan, dan tawa berjalin dalam satu perjalanan. Mereka tidak sekadar berpindah dari satu pos ke pos lainnya, melainkan sedang mengenali kemampuan diri, memahami arti kebersamaan, dan menemukan bahwa belajar bisa menjadi pengalaman yang menggembirakan.
CEMARA: Ceria, Mandiri, dan Gembira, demikian tema yang diusung. Sebuah tema sederhana, tetapi menyimpan harapan besar tentang bagaimana anak-anak seharusnya tumbuh: memiliki keberanian untuk mencoba, kemauan untuk belajar, dan kegembiraan yang tidak mudah padam meskipun jalan yang ditempuh menguras tenaga.
Di bawah koordinasi Kwarran Madukara, penjelajahan dirancang melalui enam pos materi Syarat Kecakapan Khusus (SKK), yakni Berkemah, Penjelajah, Penunjuk Jalan, Pengamat, Gerak Jalan, dan Damkar. Satu pos tambahan berupa outbound meniti dan merayap menghadirkan pengalaman yang menguji keberanian sekaligus ketangkasan. Pemenuhan kecakapan calon Pramuka Garuda pun tidak sekadar menjadi urusan menyelesaikan persyaratan, tetapi kesempatan untuk mempraktikkan pengetahuan dalam pengalaman nyata.
Ada anak-anak yang harus menguatkan langkah ketika meniti, ada yang belajar lebih cermat saat mengamati, dan ada pula yang menemukan keberanian baru ketika berhadapan dengan tantangan. Di pos Damkar dan outbound, riuh suara mereka membuncah. Teriakan yang terdengar bukan sekadar tanda kegembiraan, melainkan juga luapan kelegaan setelah berhasil melewati sesuatu yang semula terasa menantang.
Di balik keriuhan itu, tersimpan makna pendidikan yang penting: anak-anak membutuhkan ruang untuk mengalami, bukan hanya mendengar; mencoba, bukan hanya menghafal; dan berani, bukan karena tidak memiliki rasa takut, melainkan karena belajar menghadapinya.
Wakil Ketua Bidang Pembinaan Anggota Muda Kwarcab Banjarnegara, Kak Rowi, M.Pd., mengingatkan bahwa tantangan pembinaan generasi muda pada era digital tidak cukup dijawab dengan larangan. Gerakan Pramuka, menurutnya, harus hadir dengan kegiatan yang mampu menarik anak-anak untuk terlibat dalam pengalaman positif dan membangun karakter.
“Di era digitalisasi, Pramuka harus tetap hidup dan relevan melalui kegiatan yang positif, kreatif, serta membahagiakan. Anak-anak perlu merasakan bahwa ada banyak hal menarik yang bisa mereka lakukan bersama teman-temannya, di alam terbuka, melalui permainan, keterampilan, dan tantangan yang mendidik. Di situlah karakter dibangun: ketika mereka belajar bekerja sama, mematuhi aturan, menghargai orang lain, dan berani mencoba. Jangan sampai arus digital justru menjauhkan generasi muda dari pengalaman sosial dan pembentukan karakter. Untuk seluruh calon Pramuka Garuda Madukara, teruslah berlatih, tetap bersemangat, dan jadilah anak-anak yang membawa kebaikan,” pesannya.
Bagi Ketua Mabiran Madukara yang juga Camat Madukara, Hari Arumbinuko, S.P., M.Si., kegembiraan yang terpancar dari wajah para peserta menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para pembina dan orang dewasa yang mendampingi mereka. Ia juga menyampaikan penghargaan kepada pengurus Kwarran yang mampu menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam rentang waktu berdekatan.
“Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pengurus Kwarran Madukara. Menyelenggarakan beberapa kegiatan secara beruntun dalam waktu yang relatif dekat bukan pekerjaan ringan. Diperlukan koordinasi, pengorbanan waktu, dan kesediaan untuk bekerja bersama. Apa yang kita lihat hari ini, anak-anak yang ceria, berani, dan menikmati setiap kegiatan, menjadi kebahagiaan bagi kami semua. Harapan saya, pengalaman ini tidak berhenti ketika Persari selesai. Bawalah pulang pelajaran tentang kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebiasaan untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai. Semoga nilai-nilai itu tumbuh dalam kehidupan mereka sehari-hari,” tuturnya.
Persari kali ini juga memperlihatkan bahwa kegembiraan anak-anak tidak lahir dengan sendirinya. Ada kerja panjang yang berlangsung di belakang panggung: panitia yang mengatur pos, pembina yang mendampingi, para pemangku kepentingan yang mendukung, serta orang tua yang mempercayakan anak-anaknya untuk belajar melalui pengalaman baru.
Ketua panitia, Tamrin Nugroho, menjelaskan bahwa kegiatan dengan peserta sekitar 500 Pramuka Siaga tersebut dilaksanakan melalui semangat gotong royong. Tema CEMARA menjadi pengingat agar setiap peserta tetap ceria, mandiri, dan gembira dalam menjalani seluruh rangkaian kegiatan, sekalipun harus menghadapi rasa lelah.
Koordinator kegiatan, Siti Syamsiyah, S.Pd., mengoordinasikan komunikasi dengan tamu undangan, para Kamabigus, anggota Mabiran, pengurus Kwarran, pemangku kepentingan, pembina pendamping, peserta, dan seluruh panitia. Pembagian tugas di setiap pos dilakukan agar kegiatan berlangsung tertib dan setiap petugas dapat bekerja sesuai kemampuan serta tanggung jawabnya.
Kehadiran unsur Mabiran, termasuk Camat Madukara, Kapolsek, Danramil, dan Korwilcamdikpora, bersama para Kamabigus, pembina pendamping, DKR, serta wali murid, memperlihatkan bahwa pendidikan karakter membutuhkan kepedulian bersama. Gerakan Pramuka menjadi salah satu ruang perjumpaan ketika sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat saling menguatkan dalam mendampingi pertumbuhan anak.
Upacara pembukaan pun memberikan ruang kepada peserta untuk mengambil peran. Andonia Zea Syahira dari SDN Kutayasa bertugas sebagai sulung, Almeera Niki Arinda dari MIN 3 Banjarnegara menjadi pembawa acara, dan Jasmin Safira dari SDN 1 Sered memimpin doa. Di hadapan para undangan dan sesama peserta, anak-anak itu tidak hanya menjadi penerima kegiatan, tetapi juga bagian dari mereka yang menggerakkannya.
Menjelang kegiatan berakhir, mungkin tak semua pelajaran hari itu akan segera mampu mereka ceritakan dengan kata-kata. Namun, pengalaman meniti, merayap, mengamati, mengikuti petunjuk, dan menyelesaikan tantangan akan meninggalkan jejaknya sendiri. Ada keberanian yang bertambah, ada rasa percaya diri yang tumbuh, dan ada persahabatan yang menemukan bentuknya di antara langkah-langkah kecil.
Persari Madukara 2026 pada akhirnya bukan semata tentang tujuh pos atau pemenuhan enam SKK. Ia adalah ikhtiar menanamkan nilai-nilai kehidupan melalui cara yang dekat dengan dunia anak-anak: bergerak, mencoba, tertawa, dan belajar bersama.
Sebab, Pramuka Siaga yang hari ini berlari dengan riang adalah generasi yang kelak diharapkan mampu berdiri dengan teguh. Dan di antara tawa yang bergema di The Pikas, tersimpan harapan yang terus ditiupkan: semoga kemandirian tumbuh, kedisiplinan mengakar, tanggung jawab menguat, dan kegembiraan menjadi cahaya yang menemani perjalanan mereka menuju masa depan.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber : Siti Syamsiyah
dokumentasi : Humas Kwarran Madukara















Alhamdulillah lega rasanya bisa secara bersama berdatunpadu menghadirkan kegiatan yng sangat berharga bagi anak dan takkan terlupakan walau sampai kapanpun