Ada hal yang menarik dari Musyawarah Gugus Depan (Mugus) SDN 3 Sirkandi, Sabtu (7/11/2026). Di ruang musyawarah itu, yang dibicarakan bukan semata-mata keberlangsungan kegiatan kepramukaan, melainkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: bagaimana orang-orang dewasa di sekitar anak bersedia mengambil bagian dalam membentuk masa depan mereka.
Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, wali murid, komite, tokoh masyarakat, hingga perwakilan Kwartir Ranting Purwareja Klampok hadir dalam satu ruang yang sama. Mereka membawa peran dan tanggung jawab masing-masing, tetapi dipertemukan oleh satu kepentingan: memastikan pendidikan karakter anak tidak berhenti sebagai slogan di lingkungan sekolah.
Mugus di SDN 3 Sirkandi menjadi ruang untuk menyatukan pandangan bahwa Pramuka membutuhkan lebih dari sekadar jadwal latihan dan seragam cokelat. Ia memerlukan dukungan, keteladanan, konsistensi, dan terutama lingkungan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki semangat kebangsaan.
Slamet Kurniadi, S.Pd., Ketaua Kwarran Purwareja Klampok melihat perkembangan ini sebagai tanda bahwa kehidupan kepramukaan di wilayahnya semakin menunjukkan denyut yang menggembirakan. Pertemuan dan keterlibatan berbagai unsur menjadi gambaran bahwa Gerakan Pramuka masih memiliki tempat penting dalam dunia pendidikan.
Menurutnya, Pramuka bukan sekadar aktivitas pelengkap di sekolah. Di dalamnya terdapat nilai-nilai kebangsaan dan pembentukan karakter yang perlu terus dirawat. Ia berharap geliat yang mulai tumbuh di setiap pangkalan dapat menjadi gerakan bersama, bukan hanya semangat sesaat yang muncul saat ada kegiatan.
“Pramuka sangat dinanti dan dibanggakan karena memiliki peran penting sebagai salah satu tonggak pembentukan jiwa nasionalisme dan karakter peserta didik. Semakin banyak pihak yang memberikan perhatian dan terlibat, semakin besar pula peluang kita untuk menghadirkan kegiatan kepramukaan yang benar-benar memberi pengaruh positif bagi perkembangan anak,” ungkapnya.
Bagi Saefullah, S.Pd.SD., selaku Kamabigus SDN 3 Sirkandi, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan kesepahaman tersebut menjadi kegiatan nyata. Ia menginginkan Pramuka hadir sebagai ruang belajar yang lebih aktif, tertib, tetapi tetap menggembirakan bagi peserta didik.
Sebab, pendidikan karakter tidak cukup dibangun melalui nasihat. Anak-anak membutuhkan pengalaman. Mereka perlu belajar bekerja sama, menyelesaikan persoalan, menghargai perbedaan, menaati kesepakatan, dan berani bertanggung jawab atas pilihan mereka. Nilai-nilai semacam itu akan lebih mudah tumbuh apabila kegiatan Pramuka dirancang dengan pendekatan yang dekat dengan dunia anak.
“Kami sepakat untuk bersama-sama memajukan kegiatan Pramuka di SDN 3 Sirkandi. Programnya harus lebih aktif, tertib, dan menyenangkan. Kami ingin anak-anak merasa senang mengikuti kegiatan Pramuka, tetapi pada saat yang sama mereka juga memperoleh pembelajaran yang membentuk sikap dan kepribadian. Untuk itu, dukungan semua pihak sangat diperlukan,” tegasnya.
Dukungan dari luar lingkungan sekolah pun memperoleh tempat penting dalam musyawarah tersebut. H. Sena selaku perwakilan komite sekolah menyatakan kesiapan untuk membantu program kepramukaan di pangkalan SDN 3 Sirkandi. Baginya, kemajuan kegiatan sekolah akan lebih mudah diwujudkan apabila komite tidak hanya menjadi pelengkap kelembagaan, tetapi turut hadir sebagai mitra yang memberikan dukungan.
Sementara itu, Suci M., perwakilan wali murid, menyampaikan komitmen orang tua untuk mendukung hasil musyawarah dan bekerja sama demi kemajuan Pramuka di sekolah tersebut. Pernyataan ini memiliki arti tersendiri. Sebab, nilai-nilai yang ditanamkan dalam latihan akan menemukan ujian sesungguhnya saat anak kembali ke rumah dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Di sinilah kolaborasi sekolah dan keluarga menjadi penting. Apa yang diajarkan pembina tentang kedisiplinan perlu mendapat penguatan di rumah. Semangat kemandirian yang dibangun melalui kegiatan kepramukaan perlu memperoleh ruang untuk tumbuh dalam kehidupan keluarga. Dengan demikian, pendidikan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menyambung.
Mugus SDN 3 Sirkandi pada akhirnya menghadirkan sebuah pesan sederhana, tetapi mendalam: membentuk karakter anak bukan pekerjaan satu orang, satu lembaga, atau satu kegiatan. Ia merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kesediaan banyak pihak untuk berjalan bersama.
Barangkali hasil paling berharga dari sebuah musyawarah bukan hanya rumusan program yang dibawa pulang, melainkan tumbuhnya kesadaran bahwa setiap anak membutuhkan lingkungan yang peduli terhadap masa depannya.
Dari SDN 3 Sirkandi, sebuah ikhtiar sedang dirajut. Tidak harus dimulai dengan langkah besar, tetapi dengan kesepakatan untuk saling menguatkan. Sebab, karakter yang kokoh tidak tumbuh dalam sehari. Ia bertumbuh dari kebiasaan baik yang terus dirawat, dari keteladanan yang tidak putus, dan dari kepedulian yang menemukan jalannya di sekolah, rumah, serta masyarakat.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber & Dokumentasi : AngitaSani
















Selangkah menuju Akreditasi Gudep dan Lomba Gudep sudah dilaksanakan