BATUR – Udara sejuk dataran tinggi Batur seolah menyambut langkah-langkah kecil 147 anggota Pramuka Siaga, Sabtu (7/11/2026). Di antara bentang pegunungan dan hamparan pertanian yang menjadi wajah khas kawasan Dieng, anak-anak itu datang bukan sekadar untuk mengikuti permainan kepramukaan. Mereka sedang memasuki sebuah ruang belajar yang berbeda: alam terbuka, pengalaman nyata, dan keberanian untuk mencoba.
Halaman Kecamatan Batur menjadi titik awal perjalanan dalam Perkemahan Satu Hari (Persari) Kwarran Batur 2026. Tujuh pangkalan hadir membawa semangat yang sama, yakni SDN 1 Batur, SDN 2 Batur, SDN 4 Batur, SDN 6 Batur, SDN 7 Batur, SD Muhammadiyah Batur, dan MI Islamiyah Pekasiran.
Ketua Kwarran Batur, Kak Maradhani Mega Putra, S.Pd.SD., secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam pesannya, ia mengajak seluruh peserta untuk tidak membiarkan Persari berlalu hanya sebagai kenangan tentang permainan dan kegembiraan. Ada pengetahuan yang harus dibawa pulang, ada pengalaman yang perlu direnungkan, dan ada nilai-nilai kehidupan yang semestinya tumbuh dari setiap aktivitas.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan mengikuti kegiatan bukan semata-mata ditentukan oleh siapa yang paling cepat atau paling unggul dalam permainan. Kesungguhan, kepatuhan terhadap arahan Yanda dan Bunda, keberanian mencoba, serta kesediaan bekerja sama justru menjadi bagian penting dari proses pembentukan karakter seorang Pramuka Siaga.
Pesan itu kemudian menemukan bentuknya dalam Scout Rally. Empat pos disiapkan untuk mengajak peserta mengenali dunia di sekeliling mereka: Pos Pertendaan, Ketakwaan, Penjelajahan, dan KIM (Kemampuan Indera Manusia).
Anak-anak bergerak menyusuri lingkungan Kecamatan Batur. Mereka tidak hanya berpindah dari satu pos ke pos lainnya, tetapi juga belajar membaca keadaan, mengenali fasilitas umum, mengasah kepekaan indera, dan membangun keberanian dalam kelompok. Hal-hal sederhana yang mungkin tampak seperti permainan sesungguhnya menyimpan pelajaran tentang kehidupan bersama.
Di kawasan Batur, pembelajaran semacam itu memiliki latar yang istimewa. Alam pegunungan yang mengitari wilayah ini menghadirkan panorama yang sulit dipisahkan dari identitas masyarakatnya. Hamparan ladang sayuran di lereng-lereng perbukitan, udara dingin khas dataran tinggi, serta cakrawala Dieng yang memikat menjadikan Batur lebih dari sekadar tempat persinggahan.
Tidak jauh dari kawasan ini, wisatawan dapat menemukan pesona Dataran Tinggi Dieng, Kompleks Candi Arjuna yang menyimpan jejak peradaban masa lampau, Kawah Sikidang dengan fenomena geologinya, hingga Telaga Merdada yang menawarkan ketenangan lanskap pegunungan. Semua itu merupakan kekayaan alam dan budaya yang menempatkan Batur sebagai salah satu pintu penting untuk menikmati keistimewaan wisata Banjarnegara.
Di tengah lingkungan yang begitu kaya, ada pelajaran lain yang tak kalah penting: manusia harus mengenal alam sekaligus memahami cara menjaga keselamatan di dalamnya.
Pelajaran itu hadir melalui kunjungan edukatif dari Pos Pemadam Kebakaran Karangkobar. Kak Ragil Setiawan, didampingi Kak Dwi Hermanto dan Kak Haping Sukma W., memperkenalkan dunia tugas pemadam kebakaran kepada para peserta.
Bagi sebagian anak, mobil pemadam kebakaran mungkin selama ini hanya dikenal dari kejauhan, melalui suara sirene yang sesekali melintas di jalan. Namun, di Persari ini, mereka mendapat kesempatan mengenal lebih dekat orang-orang di balik tugas penyelamatan tersebut.
Mereka belajar bahwa Damkar bukan hanya hadir saat api membesar dan melalap bangunan. Ada pekerjaan penyelamatan lain yang membutuhkan keberanian, ketangkasan, dan keterampilan khusus, seperti mengevakuasi manusia maupun hewan, menangani pohon tumbang, membantu korban kecelakaan, serta mengevakuasi sarang tawon.
Satu per satu perlengkapan diperkenalkan. Jaket pemadam, helm, sepatu boots, sarung tangan, nozzle, palu, kapak, hingga APAR menjadi benda-benda yang mengundang rasa ingin tahu. Benda yang bagi petugas merupakan perlengkapan kerja, bagi anak-anak Siaga menjadi jendela untuk memahami arti kesiapsiagaan dan perlindungan diri.
Materi tersebut juga dikaitkan dengan tiga keterampilan TKK terkait api, yakni menyalakan api, memadamkan api, dan memahami manfaat api. Sebuah pesan penting disampaikan melalui pembelajaran sederhana itu: api dapat memberikan manfaat bagi kehidupan, tetapi tanpa pengetahuan dan kehati-hatian, api juga dapat berubah menjadi ancaman.
Puncak pengalaman datang saat teori beralih menjadi praktik. Bersama para pembina, peserta berkesempatan mencoba pemadaman api menggunakan APAT (Alat Pemadam Api Tradisional), kemudian menyaksikan dan mengikuti simulasi pemadaman dengan mobil pemadam kebakaran.
Antusiasme terlihat dalam kesempatan tersebut. Pengalaman yang sebelumnya hanya mereka bayangkan kini hadir di depan mata. Mereka belajar bahwa keberanian bukan berarti bertindak sembarangan, melainkan mengetahui apa yang harus dilakukan, memahami batas kemampuan diri, dan mengikuti petunjuk keselamatan.
Di situlah makna pendidikan kepramukaan menemukan salah satu bentuk terbaiknya. Anak-anak tidak hanya diminta menghafal pengetahuan, tetapi diberi ruang untuk mengalami, mengamati, bertanya, dan mencoba. Dari pengalaman itulah keberanian dapat tumbuh bersama tanggung jawab.
Persari Kwarran Batur 2026 akhirnya bukan sekadar pertemuan sehari bagi 147 Pramuka Siaga. Ia menjadi perjumpaan antara pendidikan karakter dan kehidupan nyata, antara semangat persaudaraan dan kekayaan alam daerah sendiri.
Mungkin esok, sebagian dari mereka akan kembali memandang perbukitan Batur seperti biasa. Namun, ada kemungkinan sesuatu telah berubah dalam cara mereka melihat dunia. Mereka telah mengenal lebih dekat lingkungan tempat tinggalnya, memahami tugas para petugas penyelamat, dan merasakan bahwa belajar dapat berlangsung di mana saja.
Sebab, bagi seorang Pramuka Siaga, petualangan tidak selalu harus menempuh perjalanan jauh. Terkadang, cukup dengan melangkah keluar dari ruang kelas, menyapa alam, berani mencoba hal baru, dan pulang membawa pelajaran yang akan terus hidup dalam ingatan.
Di Batur, sehari itu, alam menjadi ruang kelas dan pengalaman menjadi guru yang menanamkan makna.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber & Dokumentasi : Fauzi Santoso















