BANJARNEGARA – Ada sesuatu yang berbeda dari upacara di dataran tinggi. Udara tidak hanya dingin; ia seperti membawa kembali ingatan. Senin pagi, 14 September 2026, Lapangan Pandawa, Desa Dieng Kulon, menjadi ruang pertemuan antara masa lalu, hari ini dan masa depan ketika Gerakan Pramuka Banjarnegara memperingati Hari Pramuka ke-65.
Barisan cokelat memenuhi lapangan. Di hadapan mereka, bendera Merah Putih bergerak perlahan mengikuti angin pegunungan. Tidak ada kemewahan yang perlu dijelaskan dari sebuah upacara. Yang berbicara justru ketertiban barisan, suara komando, langkah kaki dan kesediaan ratusan manusia untuk berdiri bersama dalam satu kesadaran: bahwa bangsa ini masih membutuhkan pendidikan yang tidak hanya membuat anak-anak pintar, tetapi juga membuat mereka memiliki watak.
Pasukan peserta upacara memasuki lapangan dengan langkah tegap diiringi Mars Jayalah Pramuka, dipimpin masing-masing Ketua Majelis Pembimbing Ranting (Mabiran). Penampilan setiap kontingen dalam defile turut menjadi bagian penilaian, terutama dari aspek kerapian, kekompakan, ketertiban, dan semangat peserta.
Wakil Bupati Banjarnegara H. Wakhid Jumali, Lc. memimpin momen itu sebagai pembina upacara. Dari mimbar, peringatan enam setengah dekade Pramuka menemukan relevansinya dengan zaman yang sedang berubah cepat. Tri Satya dan Dasa Darma tidak ditempatkan sebagai hafalan yang selesai setelah upacara, melainkan sebagai fondasi untuk menghadapi dunia yang semakin rumit.
Tema tahun ini “Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan” seperti sengaja meletakkan Pramuka di tengah persoalan bangsa. Ketahanan pangan, energi dan air tidak lagi bisa dilihat sebagai urusan orang dewasa semata. Generasi muda harus mulai mengenal persoalan itu dari lingkungan terdekatnya, kemudian belajar menciptakan gagasan dan menyelesaikan masalah dengan kemampuan yang mereka miliki.
Di titik itu, Pramuka seolah sedang melakukan koreksi terhadap dirinya sendiri. Pendidikan tidak cukup berhenti pada learning by doing. Dunia yang berubah menuntut satu langkah lebih jauh: belajar, mencipta dan memecahkan persoalan. Anak-anak muda tidak cukup hanya mampu melakukan sesuatu. Mereka perlu memahami mengapa sesuatu harus dilakukan, bagaimana memperbaikinya, dan untuk siapa manfaatnya.
Ketua Panitia Peringatan Hari Pramuka ke-65 Banjarnegara, Aji Piluroso, S.STP., melihat peringatan tersebut sebagai ruang untuk mempertemukan nilai kepramukaan dengan tantangan nyata yang dihadapi generasi muda. “Peringatan Hari Pramuka menjadi pengingat bahwa pendidikan kepramukaan harus terus bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Kita ingin adik-adik tumbuh bukan hanya terampil, tetapi juga mandiri, berani berinovasi dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat,” ujarnya.
Pesan itu tidak berhenti di mimbar. Setelah upacara, lapangan berubah menjadi panggung keterampilan. Penggalang SMPN 2 Batur dan SDN 1 Dieng Kulon menunjukkan atraksi yang menjadi bagian dari gelar keterampilan Pramuka. Paduan suara SMPN 1 Pejawaran mengisi ruang upacara, sementara Paskibra Kecamatan Batur mengambil bagian dalam prosesi pengibaran Merah Putih. Setiap kelompok datang dengan tugas masing-masing, tetapi seluruhnya bermuara pada satu pekerjaan besar: merawat pendidikan generasi muda.
Pemandangan itu menarik jika dilihat dari jarak yang sedikit lebih jauh. Di antara peserta upacara terdapat pengurus kwartir ranting dari berbagai kecamatan, Pramuka Garuda, peserta Jamnas 2026, peserta Jamda MTs 2026 dan barung Siaga. Mereka datang dari pengalaman yang berbeda, usia yang berbeda, bahkan mungkin dengan alasan yang berbeda. Tetapi pada pagi itu mereka dipertemukan oleh satu nama: Pramuka.
Di sinilah peringatan Hari Pramuka menjadi lebih dari sekadar kalender organisasi. Ia adalah kesempatan untuk bertanya apakah nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu masih menemukan rumah di dalam diri generasi hari ini. Sebab tantangan mereka tidak sederhana. Ada perubahan iklim, kecerdasan buatan, perkembangan teknologi digital, persoalan energi dan pangan, juga ancaman sosial seperti narkotika, perundungan, kekerasan, hoaks dan perjudian daring.
Maka barangkali Pramuka memang tidak boleh sekadar dikenang sebagai cerita masa lalu. Ia harus menjadi energi yang bekerja di masa kini. Tangan yang menolong. Kaki yang mau melangkah ke tempat yang sulit. Kepala yang berani berpikir. Hati yang masih peka ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan.
Ketika matahari mulai meninggi dan kabut Dieng semakin menjauh, upacara itu selesai. Tetapi ada kesan yang tidak ikut meninggalkan lapangan. Seperti sesuatu yang tak kasatmata namun terasa ruh yang senantiasa tertiup di antara barisan, melewati peluit, bendera dan ikrar, lalu mencari tempat baru di dada anak-anak muda yang hari itu berdiri tegak.
Mungkin itulah alasan sebuah gerakan bisa bertahan hingga 65 tahun. Bukan karena ia memiliki seragam, lambang atau upacara. Melainkan karena selalu ada generasi yang bersedia menerima api dari tangan sebelumnya, menjaganya agar tidak padam, lalu menyerahkannya kembali kepada mereka yang datang setelahnya.
Dan di Dieng, pagi itu, api tersebut masih menyala. Pramuka Banjarnegara seperti sedang berkata kepada waktu: kami belum selesai. Kami masih di sini, masih belajar, masih berbuat, masih mengabdi dan masih merindukan Indonesia yang tumbuh melalui tangan-tangan muda yang berkarakter.***(abenn29_kapusdatin.bna)




















Menyatukan antara tugas dan refresing, antara upacara dan wisata.