Pagi di Batur seperti menyimpan sesuatu yang lama dirindukan. Di halaman SMA Negeri 1 Batur, Jumat (14/8/2026), seragam cokelat bergerak dalam barisan. Ada wajah-wajah kecil para Siaga, langkah para Penggalang, dan tatapan para Penegak yang mulai mengenal arti perjalanan. Mereka datang bukan hanya untuk memperingati Hari Pramuka ke-65, tetapi seperti sedang mengetuk kembali pintu sebuah rumah bernama pengabdian.
Pukul 08.00, upacara dimulai. Siaga putra-putri, Penggalang putra-putri, dan Penegak putra-putri berdiri dalam satu halaman, dalam satu ikatan yang tak banyak membutuhkan kata. Di sana, perbedaan usia menjadi kecil. Yang tersisa adalah persaudaraan, disiplin, nasionalisme, dan kesediaan untuk menjadi manusia yang berguna.
Aries Setyawan, S.H., M.M., bertindak sebagai pembina upacara, sementara M. Azka Sabil dipercaya sebagai pemimpin upacara. Namun pagi itu terasa lebih dari sekadar susunan petugas dan rangkaian protokoler. Ada sesuatu yang pelan-pelan tumbuh di antara suara aba-aba, kibaran bendera, dan tatapan para peserta: kesadaran bahwa Pramuka selalu mempunyai cara untuk mempertemukan masa lalu dengan masa depan.
Hari Pramuka memang diperingati setiap 14 Agustus. Tetapi maknanya tidak pernah berhenti pada tanggal di kalender. Di Batur, peringatan itu diterjemahkan melalui upacara ulang janji, aksi bakti masyarakat, dan kemeriahan atraksi seni yang menghadirkan karya serta bakat siswa-siswi SMP Negeri 2 Batur dan SMA Negeri 1 Batur.
Seni menjadi warna lain dari pagi itu. Di atas panggung, anak-anak muda menunjukkan bahwa Pramuka tidak pernah kehilangan tempat bagi kreativitas. Mereka bernyanyi, bergerak, berkarya, dan menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu berbentuk langkah tegap. Kadang ia hadir sebagai keberanian seorang anak untuk berdiri di depan banyak orang dan berkata kepada dunia: “Inilah yang mampu kami lakukan.”
Pemandangan itu seperti menjawab sebuah pertanyaan yang sering muncul diam-diam tentang masa depan generasi muda. Jawabannya ternyata tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Ia ada di halaman sekolah, di mata anak-anak yang bersinar, di tangan yang mau bekerja, dan dalam hati yang masih percaya bahwa hidup akan menjadi lebih berarti ketika dijalani dengan pengabdian.
“Melihat penampilan, antusiasme, dan karya luar biasa dari adik-adik SD, SMP, SMA, hingga seluruh pangkalan di Batur hari ini membuat kita yakin: Batur punya masa depan yang cerah! Jangan pernah berhenti berkarya. Jadikan Pramuka sebagai panggung kalian untuk membuktikan bahwa anak-anak muda Batur mampu bersaing dan membanggakan!” ujar Aries Setyawan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi seperti menyimpan doa yang panjang. Bahwa anak-anak Batur kelak tidak hanya menjadi orang-orang yang berhasil untuk dirinya sendiri, tetapi juga manusia yang ingat dari mana mereka tumbuh. Sebab pendidikan sejatinya bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang melangkah, melainkan seberapa jauh ia masih bersedia menoleh dan mengulurkan tangan kepada sesama.
Mungkin itulah alasan mengapa Pramuka selalu terasa akrab dengan kerinduan. Ada masa ketika kita pernah mengenakan seragam yang sama, berdiri dalam barisan yang sama, menyanyikan lagu yang sama, dan bermimpi dengan cara yang hampir serupa. Waktu kemudian berjalan, tetapi kenangan itu tidak benar-benar pergi. Ia tinggal di dalam dada dan sesekali pulang ketika melihat anak-anak muda berdiri di bawah tiang bendera.
Peringatan Hari Pramuka ke-65 di Batur menjadi pengingat bahwa api itu belum padam. Api yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Api yang tidak hanya mengajarkan keberanian, tetapi juga kesetiaan, persaudaraan, kepedulian, dan pengabdian.
Dan pagi itu, di Batur, api tersebut kembali menemukan rumahnya. Ia menyala dalam sorot mata para Siaga, dalam langkah para Penggalang, dalam keberanian para Penegak, dan dalam karya anak-anak muda yang percaya bahwa masa depan masih layak diperjuangkan.
Barangkali kelak, ketika mereka telah dewasa dan dunia membawa mereka jauh dari Batur, yang tersisa bukan hanya foto upacara atau catatan peringatan Hari Pramuka ke-65. Yang tertinggal adalah rasa: kerinduan kepada sebuah pagi ketika mereka pernah berdiri bersama, belajar menjadi manusia, dan untuk pertama kalinya memahami bahwa hidup akan terasa lebih terang ketika dijalani dengan semangat mengabdi.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber : M. Romadhon
Dokumentasi : Humas Kwarran Batur





















