PANDANARUM – Embun belum sepenuhnya pergi ketika ratusan anak berseragam cokelat memenuhi bumi perkemahan Dusun Lengsar, Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, Rabu (12/8/2026).
Tongkat-tongkat pramuka ditegakkan, tenda berdiri, dan salam pramuka bersahutan. Di tempat yang dikelilingi alam terbuka itu, Jambore Ranting Pandanarum Tahun 2026 resmi dimulai.
Berlangsung 12–14 Agustus 2026, jambore ini bukan sekadar perkemahan atau arena perebutan juara. Kegiatan dirancang sebagai pendidikan di alam terbuka untuk menempa watak, disiplin, kepemimpinan, keterampilan, sekaligus mempererat persaudaraan Pramuka Penggalang.
Mengusung tema “Pejuang Lingkungan: Pramuka Hijau, Aksi Hebat” dengan motto “Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan”, kegiatan diikuti 26 gugus depan dengan 480 peserta jambore dan unsur pendukung sehingga total mencapai 624 orang.
Saat membuka kegiatan, Camat Pandanarum Agung Dwiantoko, S.Sos., selaku Ketua Majelis Pembimbing Ranting (Mabiran) Pandanarum, menegaskan bahwa pengalaman di perkemahan harus meninggalkan jejak karakter bagi peserta.
“Jambore bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak belajar mandiri, disiplin, bertanggung jawab, mencintai alam dan menghargai sesama. Tiga hari di Lengsar ini mudah-mudahan menjadi pengalaman yang mereka bawa pulang bukan hanya dalam bentuk kenangan, tetapi juga karakter,” ujarnya.
Lengsar pun seolah mengambil peran sebagai guru.
Di sini anak-anak belajar bahwa mendirikan tenda membutuhkan kerja sama, penjelajahan membutuhkan keberanian, dan menjaga bumi perkemahan membutuhkan kepedulian.
Rangkaian kegiatan dikemas padat, mulai dari permainan besar, pionering, penjelajahan dan halang rintang, lomba keterampilan, pentas seni budaya, api unggun, hingga outbound dan kegiatan Bumi Hijau. Jadwal juga memuat sosialisasi kesehatan serta edukasi pemadam kebakaran sebelum kegiatan ditutup dengan Upacara Hari Pramuka.
Diat, S.Pd.I, Ketua Panitia Jambore Ranting Pandanarum, mengatakan perlombaan tidak semata-mata mengejar kemenangan.
“Perlombaan dalam Jambore ini meliputi pionering, penjelajahan, halang rintang, hingga keterampilan kepramukaan lainnya. Semua dirancang untuk menguji kerja sama, ketangkasan dan kepemimpinan regu. Jadi bukan siapa yang paling cepat saja, tetapi bagaimana mereka bekerja sebagai tim,” katanya.
Semangat itu semakin nyata dalam kegiatan bakti. Setiap regu diwajibkan membersihkan lingkungan bumi perkemahan dan mengikuti reboisasi.
Di sinilah tema “Pejuang Lingkungan” menemukan maknanya. Mencintai alam tidak berhenti pada kata-kata. Ia harus dikerjakan dengan tangan—membersihkan tanah, memungut sampah, menanam pohon, dan menjaga ruang hidup bersama.
Ketua Kwarran Pandanarum Joko Susilo, S.Pd.SD, mengatakan jambore diharapkan menjadi pengalaman utuh bagi para peserta.
“Harapan kami, anak-anak pulang dari Lengsar bukan hanya membawa piagam atau pengalaman mengikuti lomba. Mereka membawa keberanian, kemandirian, persaudaraan dan kecintaan terhadap lingkungan. Karena Pramuka pada akhirnya bukan tentang seragam yang dikenakan, tetapi tentang nilai yang dibawa setelah seragam itu dilepas,” ujarnya.
Malam di Lengsar kemudian menjadi cerita tersendiri. Api unggun menyala, pentas seni budaya menghadirkan kreativitas anak-anak, sementara doa dan ibadah menjaga sisi spiritual perjalanan mereka.
Di antara tenda, api unggun, permainan dan penjelajahan, ada pelajaran yang tidak tertulis dalam buku kegiatan: tentang seorang anak yang belajar berani, tentang teman yang memilih menunggu, tentang regu yang belajar bekerja bersama, dan tentang alam yang mengajarkan manusia untuk merawat.
Sebab kemenangan terbesar dalam sebuah jambore tidak selalu berbentuk piala.
Kadang ia berupa keberanian yang baru tumbuh.
Kadang berupa persahabatan yang lahir di bawah satu tenda.
Dan kadang berupa kesadaran sederhana bahwa bumi yang dipijak hari ini adalah titipan untuk generasi esok.
Di Dusun Lengsar, ratusan anak Pandanarum sedang menulis kisah itu.
Kisah tentang keberanian, persaudaraan, alam, dan pengabdian.
Sebuah kisah yang kelak harus dibawa pulang, jauh setelah tenda-tenda dibongkar:
“Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan.”***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber : Imam Rahmatulloh
Dokumentasi : Humas Kwarran Pandanarum


















