BAWANG – Agustus selalu datang membawa sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ada merah putih yang berkibar di udara, ada lagu-lagu lama yang tiba-tiba membuat kita rindu pada masa ketika Indonesia diperjuangkan dengan darah dan air mata. Dan di antara semua itu, selalu ada anak-anak yang berdiri dalam barisan wajah-wajah kecil yang mungkin belum sepenuhnya mengerti betapa mahal harga sebuah kemerdekaan.
Di SD Negeri 2 Binorong, Kecamatan Bawang, Jumat, 14 Agustus 2026, suasana itu kembali hadir. Sebanyak 157 murid mengikuti upacara peringatan Hari Pramuka sekaligus HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada saat yang hampir bersamaan, 54 Penggalang Ramu dari Gudep 047/048 memasuki ruang pembelajaran yang lain: Perkemahan Jumat-Sabtu, 14–15 Agustus 2026.
Barangkali tidak ada yang benar-benar istimewa dari sebuah perkemahan jika hanya dilihat sebagai jadwal kegiatan. Tetapi bagi anak-anak, malam yang dihabiskan bersama, tawa yang pecah di antara dinginnya udara, lelah yang ditanggung bersama, dan tangan yang terulur ketika seorang kawan membutuhkan bantuan, kelak bisa menjadi kenangan yang diam-diam menetap sepanjang hidup. Sebab pendidikan karakter sering kali tidak lahir dari pidato yang panjang. Ia tumbuh dari pengalaman. Dari keberanian seorang anak untuk bangun ketika jatuh. Dari kesediaan berbagi ketika memiliki sedikit. Dari kesanggupan tetap bersama ketika keadaan tidak nyaman. Dan mungkin, dari situlah Pramuka menemukan ruhnya.

Di Binorong, Hari Pramuka dan HUT RI tidak sekadar dipertemukan dalam satu agenda. Keduanya seperti dua sungai yang akhirnya bertemu di muara yang sama: membentuk manusia yang merdeka sekaligus bertanggung jawab.
Maryamah Supeni, S.Pd.SD, selaku Kamabigus SD Negeri 2 Binorong, bersama Tri Setiadi, S.Pd.SD, Ketua Gugus Depan, menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga agar nilai-nilai itu tetap hidup di tengah perubahan zaman. Sebab anak-anak hari ini akan menjadi pemilik negeri pada hari ketika generasi sebelumnya mungkin sudah tidak lagi berada di barisan.
Ada sesuatu yang menggetarkan ketika membayangkan 157 anak berdiri di bawah kibaran merah putih. Mereka belum tahu seperti apa Indonesia dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang. Mereka mungkin belum memahami seluruh kisah panjang tentang perjuangan. Namun di mata mereka, masa depan itu sedang menunggu.
Dan 54 Penggalang Ramu yang bermalam dalam Perjusa seolah sedang belajar sebuah rahasia sederhana: bahwa menjadi kuat tidak berarti harus berjalan sendirian.
Malam boleh berlalu. Api unggun boleh padam. Tenda akhirnya akan dibongkar. Seragam akan kembali disimpan. Tetapi semoga ada satu hal yang tidak ikut pulang bersama malam semangat untuk menjadi manusia yang berguna.
Karena suatu hari nanti, ketika anak-anak itu telah dewasa dan mungkin telah lupa banyak hal tentang Agustus 2026, bisa jadi mereka masih mengingat suara langkah teman-temannya, dinginnya malam, kibaran merah putih, dan rasa bangga ketika mengenakan seragam Pramuka.
Dan ketika kerinduan kepada masa kecil itu datang, mereka akan mengerti: di sebuah sudut kecil bernama Binorong, pernah ada hari ketika sebuah sekolah meniupkan ruh kemerdekaan ke dalam dada anak-anaknya.
Ruh itu sederhana, tetapi kuat. Ia bernama keberanian. Ia bernama persaudaraan. Ia bernama pengabdian. Dan semoga, sebagaimana api yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, ia tidak pernah padam.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber : Tri Setiadi
Dokumentasi : SD Negeri 2 Binorong



















