BANJARNEGARA – Kemarau memiliki caranya sendiri untuk menguji manusia. Ia tidak selalu datang dengan suara, tetapi meninggalkan jejak pada tanah yang retak, sumur yang menyusut, dan keluarga yang mulai menghitung sisa air untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah situasi itu, Sabtu, 15 Agustus 2026, sebuah perjalanan kecil bergerak dari satu titik ke titik lain di Banjarnegara: membawa 10.000 liter air bersih sekaligus menghadirkan kembali sesuatu yang lebih penting dari air itu sendiri rasa bahwa mereka tidak sendirian.
Bersama BPBD Kabupaten Banjarnegara, personel Pramuka membantu distribusi bantuan air bersih ke tiga wilayah yang terdampak kekeringan. Dari Desa Karanganyar, Dusun Kempyang, Kecamatan Purwanegara, dua trip mengantarkan 4.000 liter air. Dari sana perjalanan berlanjut ke Desa Jalatunda, Kecamatan Mandiraja, dengan volume yang sama, sebelum satu trip terakhir membawa 2.000 liter menuju Desa Merden, Kecamatan Purwanegara. Total 10.000 liter air bersih berpindah dari kendaraan bantuan menuju tangan-tangan warga.
Angka itu penting, tetapi bukan angka yang paling penting. Sebab 10.000 liter dapat dihitung dengan kalkulator, sementara rasa lega seorang ibu ketika air akhirnya tiba tidak mudah diterjemahkan ke dalam angka. Di tengah kekeringan, air memiliki nilai yang berbeda: ia adalah dapur yang kembali menyala, tubuh yang dapat dibersihkan, anak-anak yang dapat menjalani hari dengan lebih tenang, dan keluarga yang tidak lagi harus menunggu terlalu lama untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar.
Di bawah pendampingan Kak Prihatin, Kak Slamet Riyadi, dan Kak Mukhlis, tujuh personel Reni Areta, Salman Rizal K, Refa Wicaksana, Tiwi Umaeroh, Maulidya, Lidya Resti, dan Diono bergerak memastikan distribusi berlangsung tertib, aman, dan lancar. Tidak ada panggung besar dalam kegiatan tersebut. Tidak ada sorotan lampu. Yang ada hanyalah jalan, kendaraan pengangkut air, warga yang menunggu, dan kerja kemanusiaan yang berjalan dari pagi hingga selesai.
Ada sesuatu yang selalu menarik dari kerja-kerja kemanusiaan: ia sering kali tidak membutuhkan banyak kata. Orang-orang datang, bekerja, lalu pulang. Tetapi jejaknya tinggal lebih lama daripada suara mesin kendaraan. Di tempat-tempat yang sedang kekurangan air, kehadiran bantuan dapat menjadi semacam pesan batin bahwa kesulitan warga tidak luput dari perhatian.
Pramuka, dalam konteks ini, tidak berhenti pada seragam dan kegiatan lapangan. Nilai pengabdian menemukan bentuknya ketika seseorang bersedia hadir untuk orang lain. Semangat itu terasa semakin kuat ketika bantuan tidak hanya dipandang sebagai kewajiban kelembagaan, tetapi sebagai panggilan jiwa untuk merawat sesama.
Kemarau memang belum selesai. Langit masih menyimpan rahasia tentang kapan hujan akan kembali mengetuk halaman rumah-rumah warga. Namun hari itu, sebuah mata air kecil telah hadir melalui tangan manusia. Ia tidak berasal dari langit, melainkan dari kepedulian.
Dan mungkin begitulah kemanusiaan bekerja: ketika hujan belum turun, manusia saling menjadi hujan. Ketika tanah masih menunggu, hati tidak boleh ikut mengering. Sebab di setiap tetes air yang dibagikan, selalu ada ruh yang berbisik bahwa kehidupan harus terus dijaga dengan tangan yang rela mengulurkan, dengan langkah yang tidak lelah mendatangi, dan dengan kerinduan yang senantiasa mengarah kepada satu harapan: semoga hujan segera pulang ke tanah Banjarnegara.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber : Slamet Riyadi
Dokumentasi : Pramuka Peduli Banjarnegara





















