BANJARNEGARA – Kabut yang perlahan terangkat dari dataran tinggi Dieng pada Kamis (2/7/2026) seakan membuka panggung bagi lahirnya sebuah ikrar. Di Lapangan Pandawa, Dieng Kulon, Kecamatan Batur, delapan generasi muda berdiri dalam barisan yang tegak. Mereka bukan sekadar mengikuti sebuah upacara, melainkan sedang memasuki lorong panjang bernama pengabdian.
Upacara Pelantikan Saka Bakti Husada Pangkalan UPTD Puskesmas Batur 1 dan UPTD Puskesmas Batur 2 memang hanya berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Namun bagi tujuh Penegak putri dan satu Penegak putra yang dilantik, waktu empat jam itu menjadi penanda berubahnya status sekaligus bertambahnya amanah.
Di negeri yang udara paginya selalu mengajarkan kesegaran, para anggota baru itu memilih jalan yang lebih sunyi: menjadi kader kesehatan yang bekerja bukan demi tepuk tangan, melainkan demi hadirnya masyarakat yang lebih sehat dan lebih peduli terhadap sesama.
Prosesi berlangsung dengan penuh kekhidmatan di bawah pembinaan Eta Dian Sukmawati, SKM. Setiap aba-aba upacara terdengar tegas, namun di balik ketegasan itu tersimpan pesan bahwa pengabdian tidak pernah lahir dari seremoni semata. Pengucapan Tri Satya, penyematan tanda anggota, hingga doa penutup menjadi simpul yang mengikat tekad mereka dengan nilai-nilai Saka Bakti Husada.
Dalam amanatnya, Eta Dian Sukmawati mengingatkan bahwa anggota SBH bukan sekadar peserta didik yang mempelajari ilmu kesehatan, melainkan mitra Puskesmas yang harus hadir di tengah masyarakat.
“Sebagai generasi penerus Saka Bakti Husada, kita mengemban amanah besar untuk menjadi jembatan kesehatan di masyarakat. Tugas kita bukan hanya belajar, tetapi bergerak nyata mendampingi Puskesmas dalam setiap program yang disalurkan kepada warga. Selain itu, mari jadikan diri kita sebagai agen perubahan salurkan ilmu-ilmu SBH yang kita miliki kepada teman-teman sebaya, agar virus kebaikan dan pola hidup sehat ini menular ke seluruh generasi muda,” pesannya.
Kalimat itu seolah menemukan penegas ketika Maradhani Megaputra, S.Pd., memberikan pesan yang membumi. Baginya, pelantikan tidak boleh berhenti sebagai seremoni yang hanya dikenang lewat foto dan tepuk tangan.
“Selamat atas pelantikan rekan-rekan sekalian. Namun ingat, kehormatan hari ini datang bersama tanggung jawab yang besar. Saya tidak ingin melihat ada pengurus yang hilang arah atau lepas tangan di tengah jalan. Keberhasilan kita tidak diukur dari megahnya acara pelantikan hari ini, melainkan dari seberapa besar dampak dan aksi nyata yang kita berikan setelah ini,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi semacam kompas moral bagi para anggota baru. Sebab dalam Saka Bakti Husada, tanda pelantikan bukanlah lambang kehormatan yang selesai dipakai hari itu juga. Ia adalah pengingat bahwa setiap ilmu yang dipelajari harus menemukan jalannya menuju Masyarakat melalui edukasi, pendampingan, aksi sosial, hingga teladan hidup sehat yang sederhana tetapi konsisten.
Nada yang sama kembali disampaikan Sukadi. Ia mengingatkan bahwa organisasi tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu sepakat, melainkan oleh mereka yang mau saling mendengar.
“Kunci keberhasilan program kita ada pada komunikasi. Saya mengajak seluruh teman-teman seorganisasi SBH untuk lebih terbuka satu sama lain. Kalau ada kendala, sampaikan. Kalau ada ide baru, diskusikan. Dengan saling terbuka, kita bisa saling mengisi kekurangan dan melangkah lebih kompak demi kemajuan SBH,” ujarnya.
Menariknya, hampir seluruh jalannya upacara dipercayakan kepada para anggota muda. Sepwika Fitria Lestari menyusun rangkaian acara, Syahdan Syafiq Abitha memimpin doa, Syefeqa Atsel membawa baki pelantikan, M. Gazi Fayi Islami menjadi pemimpin upacara, M. Kasfa Ariza Kamil bertugas sebagai ajudan, Indriyani Puji Rahayu memimpin lagu-lagu upacara, sementara M. Azka Sabil mengemban tugas membawa Sang Merah Putih. Di tangan mereka, pelajaran tentang kepemimpinan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi tumbuh melalui kepercayaan yang diberikan.
Ketika upacara usai, kabut Dieng pun telah benar-benar menyingkir. Namun yang sesungguhnya tersingkap bukan hanya langit pegunungan, melainkan harapan baru. Delapan anggota yang dilantik hari itu pulang dengan seragam yang sama seperti saat datang, tetapi membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Sebab kesehatan masyarakat tidak selalu dimulai dari ruang perawatan. Kadang ia lahir dari satu langkah kecil seorang Pramuka yang berani mengetuk pintu rumah warga, mengajak hidup bersih, mengedukasi teman sebayanya, lalu melakukannya berulang-ulang tanpa pernah meminta untuk dikenang.
Dan mungkin, dari lereng Dieng yang sejuk itulah, pengabdian selalu menemukan cara paling sunyi untuk menjadi cahaya.***(abenn29_pusdatin.bna)
Narasumber : M. Romadhon
Dokumentasi : Humas Kwarran Batur























