BANJARNEGARA – Ada peristiwa yang tak selalu diukur dari ramainya tepuk tangan atau banyaknya peserta. Ada peristiwa yang nilainya justru lahir dari kesediaan banyak hati untuk duduk bersama, menyatukan langkah, lalu berjanji menjaga masa depan generasi berikutnya.
Suasana seperti itulah yang mengalir di SD Negeri 1 Sered, Kamis (30/7/2026). Di sebuah ruang kelas yang sederhana, Musyawarah Gugus Depan tidak sekadar menjadi forum organisasi Gerakan Pramuka. Hari itu berubah menjadi ruang perjumpaan antara sekolah, keluarga, tokoh masyarakat, dan Gerakan Pramuka dalam satu cita-cita besar: mendidik anak-anak dengan cinta, keteladanan, dan kebersamaan.
Sebelum sidang dimulai, para orang tua diajak menengok kembali peran paling mulia dalam kehidupan, yakni menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya. Melalui parenting bertema pola asuh Islami dengan pendekatan 7 KAIH, para wali murid diajak memahami bahwa karakter tidak dibangun hanya melalui nasihat, melainkan melalui kebiasaan yang hidup setiap hari di rumah dan di sekolah.
Setelah itu, forum Musyawarah Gugus Depan berlangsung dengan khidmat. Satu demi satu keputusan penting lahir dari musyawarah. Tata tertib siswa dideklarasikan sebagai komitmen bersama. Pengurus Mabigus, Gugus Depan, hingga Dewan Pemeriksa Keuangan dilantik. Visi, misi, serta arah perjalanan Gugus Depan tiga tahun ke depan disahkan sebagai peta perjuangan bersama.
Namun sesungguhnya, yang sedang dibangun hari itu bukan sekadar struktur organisasi.
Yang sedang dirajut adalah kepercayaan.
Kepercayaan bahwa pendidikan akan jauh lebih kuat ketika guru tidak berjalan sendiri, ketika orang tua tidak merasa menjadi penonton, dan ketika Gerakan Pramuka menjadi jembatan yang mempertemukan keduanya dalam semangat pengabdian.
Ketua Kwarran Madukara, Taufiq Hidayat, S.Pd., mengingatkan bahwa Gerakan Pramuka adalah ladang perjuangan yang tak pernah selesai.
“Terus bersemangat dalam berjuang di Gerakan Pramuka sebagai wadah pendidikan generasi muda,” pesannya.
Sementara Kamabigus SD Negeri 1 Sered, Siti Syamsiyah, S.Pd.SD, menyampaikan kalimat yang menjadi ruh dari seluruh rangkaian kegiatan.
“Berjuang itu pasti merasakan sulit dan sakit. Namun bila dilakukan dengan ikhlas dan penuh semangat, hasilnya kelak akan menjadi lebih baik. Mari berjuang bersama wali murid agar visi, misi, dan tujuan pendidikan kepramukaan di SD Negeri 1 Sered benar-benar terwujud.”
Ungkapan itu seolah menegaskan bahwa pendidikan karakter bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan ketulusan, kesabaran, dan kebersamaan.
Kebanggaan juga dirasakan Ketua Komite Sekolah, Sono, yang baru pertama kali mengikuti sidang Musyawarah Gugus Depan.
Baginya, pelantikan bukan sekadar menerima jabatan, melainkan menerima amanah untuk ikut menjaga mimpi anak-anak Sered agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berakhlak, dan mencintai bangsanya.
Di tengah derasnya perubahan zaman, ketika tantangan pendidikan semakin kompleks, apa yang dilakukan SD Negeri 1 Sered memberikan pesan sederhana namun mendalam: membangun generasi tidak pernah bisa diserahkan kepada sekolah saja.
Ia harus dimulai dari rumah, dikuatkan di sekolah, dipandu Gerakan Pramuka, dan dijaga bersama oleh masyarakat.
Barangkali, masa depan tidak selalu lahir dari gedung-gedung megah.
Kadang ia bermula dari sebuah ruang kelas sederhana, tempat guru, orang tua, dan para pembina Pramuka saling menggenggam tekad, lalu percaya bahwa setiap anak adalah cahaya yang pantas diperjuangkan.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber : Siti Syamsiyah
Dokumentasi : Gugus SDN 1 Sered



















