MADUKARA, BANJARNEGARA – Sabtu pagi itu, halaman SD Negeri 1 Sered tidak hanya dipenuhi langkah-langkah kecil anak-anak.
Ada sesuatu yang lebih dari sekadar kegiatan Pramuka.
Di tangan mereka ada bibit tanaman. Ada pupuk kandang yang dibawa dari rumah. Ada tanah yang siap menerima kehidupan baru. Dan ada semacam kesepakatan diam-diam antara seorang anak dengan tanaman yang baru saja ia tanam: aku akan merawatmu.
Sebanyak 70 anggota Pramuka Siaga dan Penggalang SDN 1 Sered mengikuti kegiatan rutin ekstrakurikuler pada Sabtu (8/8/2026). Dari pukul 08.00 hingga 12.30 WIB, halaman sekolah berubah menjadi ruang belajar yang berbeda.
Tidak ada dinding kelas.
Tidak ada papan tulis.
Tetapi pagi itu anak-anak belajar sesuatu yang mungkin jauh lebih panjang daripada satu jam pelajaran: tentang kehidupan, tanggung jawab, kesabaran, dan kepedulian.
Kegiatan penanaman Tanaman Obat Keluarga (Toga) dan tanaman hias tersebut menjadi bagian dari latihan Pramuka sekaligus mendukung pencapaian SKU dan SKK. Sebelum menerima materi kepramukaan seperti simpul, ikatan, dan pengetahuan kompas, para siswa telah datang membawa sesuatu dari rumah.
Sebuah bibit.
Mereka menanamnya.
Lalu membersihkan lingkungan.
Dan setelah itu, tanaman-tanaman tersebut tidak ditinggalkan begitu saja. Setiap siswa memiliki tugas untuk merawat tanaman yang dibawanya.
Sebab dalam pendidikan, ada hal-hal yang tidak bisa diajarkan hanya dengan kata-kata.
Anak-anak itu belajar bahwa sesuatu yang hidup tidak cukup hanya ditanam. Ia harus disiram, dijaga, dibersihkan, dan ditunggu. Tidak ada pertumbuhan yang instan.
Barangkali di situlah pesan paling dalam dari kegiatan Pramuka pagi itu.
Ketua Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Madukara, Taufiq Hidayat, S.Pd., memberikan apresiasi atas konsistensi SDN 1 Sered dalam melakukan pembinaan Pramuka.
Ia berharap semangat latihan yang dilakukan secara rutin dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain.
“Kesuksesan bukan bisa diraih secara instan,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun jika diletakkan di tengah halaman sekolah yang pagi itu dipenuhi anak-anak yang sedang menanam, maknanya menjadi berbeda.
Sebab setiap tanaman sedang mengajarkan hal yang sama.
Pelatih sekaligus ex officio Kamabigus, Siti Syamsiyah, S.Pd.SD, melihat kekuatan kegiatan sekolah bukan hanya berada di dalam sekolah. Ada keluarga yang ikut berdiri di belakangnya.
Menurutnya, komunikasi yang efektif antara sekolah dan wali murid, ditambah rasa kekeluargaan, menjadi modal penting agar berbagai kegiatan pendidikan dapat berjalan sesuai harapan.
Dan pagi itu, halaman SDN 1 Sered menjadi bukti kecil tentang bagaimana sekolah dan keluarga dapat berjalan dalam satu irama.
Bagi Pembina Penggalang, Kak Mugiyanto, S.Pd., para anggota Pramuka SDN 1 Sered memiliki karakter yang patuh terhadap arahan pembina dan menunjukkan kreativitas yang tinggi.
Mungkin prestasi akademik belum selalu menjadi cerita terbesar mereka.
Tetapi setiap anak mempunyai jalan tumbuhnya sendiri.
Ada yang tumbuh melalui angka.
Ada yang tumbuh melalui piala.
Ada pula yang tumbuh melalui keberanian memimpin, kesediaan membantu, kemampuan bekerja sama, atau sekadar keberanian menanam satu bibit lalu berjanji untuk merawatnya.
Pembantu Pembina Siaga Putra, M. Yardan Habibi, pun merasakan hal serupa. Sebagai pembina yang masih terus belajar dari para pembina senior, ia mengaku memperoleh banyak pengalaman dan kesan selama mendampingi pembinaan Pramuka di SDN 1 Sered.
Sementara bagi Eka Pujianti, pengurus komite sekaligus wali murid, kekompakan para pembina menjadi sesuatu yang patut diapresiasi.
Ia melihat sendiri bagaimana para pembina bekerja dan bagaimana dukungan positif datang dari para wali murid.
Di sisi lain, suara anak-anak menjadi penutup yang paling jujur.
Faiha, siswa kelas VI dan anggota Pramuka Penggalang, mengatakan dirinya senang mengikuti berbagai kegiatan Pramuka dan kegiatan sekolah.
Baginya, kegiatan-kegiatan itu menghadirkan pengalaman dan semangat baru.
Tidak ada kebosanan.
Tidak ada keluhan.
Yang ada adalah rasa ingin tahu tentang apa yang akan mereka temukan berikutnya.
Dan mungkin memang seperti itulah Pramuka seharusnya bekerja.
Bukan hanya mengajarkan simpul agar tali menjadi kuat.
Bukan hanya mengajarkan kompas agar anak tahu arah.
Tetapi juga mengajarkan bahwa manusia harus memiliki akar, sebagaimana pohon.
Memiliki arah, sebagaimana kompas.
Dan memiliki ikatan, sebagaimana simpul.
Pagi itu, 70 anak menanam tanaman di halaman sekolah.
Namun sesungguhnya mereka sedang menanam sesuatu yang jauh lebih besar.
Kebiasaan untuk peduli.
Kebiasaan untuk bertanggung jawab.
Kebiasaan untuk menjaga lingkungan.
Dan mungkin, tanpa mereka sadari, mereka juga sedang menanam masa depan mereka sendiri.
Sebab suatu hari nanti, ketika tanaman-tanaman itu telah tinggi dan rindang, anak-anak tersebut mungkin telah tumbuh menjadi pribadi yang berbeda.
Mereka mungkin tidak lagi mengingat jenis simpul yang diajarkan pada pagi itu.
Mungkin mereka lupa nama pupuk yang dibawa dari rumah.
Namun semoga mereka tetap mengingat satu hal:
bahwa pernah ada sebuah pagi di SDN 1 Sered, ketika seorang anak menanam sesuatu dengan tangannya sendiri, lalu belajar bahwa setiap kehidupan yang ingin tumbuh harus dirawat dengan kesabaran.
Dari halaman sederhana itu, Pramuka kembali menunjukkan wajahnya.
Bahwa pendidikan tidak selalu harus dimulai dari buku.
Kadang ia bermula dari tanah.
Dari sebutir bibit.
Dari tangan kecil seorang anak.
Dan dari sebuah keyakinan sederhana:
apa yang dirawat dengan ketulusan, suatu hari akan tumbuh menjadi sesuatu yang memberi kehidupan.***(abenn29_kapusdatin.bna)
Narasumber : Siti Syamsiyah
Dokumentasi : SDN 1 Sered

















