PURWAREJA KLAMPOK — Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan gawai yang perlahan menjauhkan anak-anak dari aroma tanah dan makna kebersamaan, sebuah harapan justru tumbuh dari Lapangan Desa Suwuk. Harapan itu hadir dalam bentuk tenda-tenda sederhana, tongkat pionering, suara peluit, dan tawa anak-anak yang berlarian di bawah langit sore.
Rabu-Kamis, 17-18 Juni 2026, Pramuka Gugus Depan se-Gugus Gajah Mada Kwarran Purwareja Klampok menggelar Perkemahan Rabu Kamis (PRAKA) 2026 bertema MANDITA (Mandiri, Disiplin, dan Tangguh). Sebuah perkemahan yang tidak sekadar mengajarkan tali-temali dan sandi-sandi kepramukaan, melainkan menanamkan nilai kehidupan kepada generasi yang kelak akan memimpin bangsa.
Sebanyak 156 peserta Pramuka Penggalang kelas V dan VI ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari SDN 1 Pagak, SDN 3 Pagak, SDN 1 Sirkandi, SDN 2 Sirkandi, SDN 3 Sirkandi, dan SDN 4 Sirkandi. Selama dua hari, mereka akan dipersatukan dalam semangat persaudaraan dan pendidikan karakter yang menjadi ruh Gerakan Pramuka.
Di sinilah anak-anak belajar bahwa keberanian tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari kesediaan untuk bangun sebelum matahari terbit, salat berjamaah, memasak nasi bersama, serta saling menjaga dalam satu regu. Mereka belajar bahwa pemimpin bukanlah mereka yang berjalan paling depan, tetapi mereka yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang.
Selama dua hari, para peserta akan ditempa melalui berbagai kegiatan mulai dari latihan baris-berbaris, permainan penggalang, keterampilan tali-temali, sandi-sandi kepramukaan, pionering, hingga penjelajahan dan halang rintang yang menguji kekompakan dan daya juang mereka.
Malam hari akan menjadi saat yang paling menggetarkan. Ketika api unggun mulai dinyalakan, sesungguhnya yang menyala bukan hanya kayu-kayu yang disusun melingkar, tetapi juga semangat persaudaraan dan mimpi-mimpi kecil yang tersimpan dalam dada anak-anak itu. Di bawah cahaya api yang menari, pentas seni dan yel-yel regu akan menjadi panggung tempat keberanian tumbuh dan rasa percaya diri menemukan bentuknya.
Ketua panitia, Slamet Kurniadi, bersama jajaran dewan guru dan unsur Dewan Kerja Ranting Purwareja Klampok, menegaskan bahwa PRAKA bukan sekadar kegiatan bermalam di alam terbuka, melainkan ruang pembentukan karakter yang akan menjadi bekal penting bagi peserta dalam menghadapi kehidupan.
“Kami ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, dan tangguh. Karena bangsa ini kelak tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar, tetapi generasi yang berkarakter, mampu bekerja sama, dan memiliki jiwa kepemimpinan,” ujar Slamet Kurniadi.
Sementara itu, Anggita Sani, Wakil Ketua Urusan Pengabdian Masyarakat dan Hubungan Masyarakat Kwarran Purwareja Klampok, menilai bahwa PRAKA merupakan ruang pembelajaran yang sesungguhnya bagi generasi muda.
“Di tengah derasnya perubahan zaman, anak-anak membutuhkan ruang untuk belajar hidup bersama, saling menghargai, dan mengenal arti tanggung jawab. PRAKA menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga api pendidikan karakter tetap menyala. Sebab bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, tetapi juga oleh generasi yang memiliki empati, keberanian, dan semangat melayani sesama,” tutur Anggita Sani.
Menurutnya, kegiatan kepramukaan harus terus menjadi jembatan yang menghubungkan pendidikan dengan pengabdian kepada masyarakat. Dari kegiatan sederhana di bawah tenda, anak-anak diajak memahami bahwa menjadi manusia yang bermanfaat adalah bagian dari pengamalan Dasa Dharma Pramuka yang sesungguhnya.
Berbagai materi telah dipersiapkan oleh dewan guru, para pembina, serta unsur Dewan Kerja Ranting Purwareja Klampok. Mulai dari pemantapan materi kepramukaan, permainan penggalang, scouting skill, hingga penjelajahan yang akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi peserta.
Dan ketika fajar menyingsing di Desa Suwuk, ketika embun masih menggantung di ujung rerumputan dan suara anak-anak bersahutan membangunkan pagi, sesungguhnya yang sedang tumbuh bukan sekadar kenangan tentang sebuah perkemahan.
Yang sedang tumbuh adalah keberanian.
Yang sedang tumbuh adalah persaudaraan.
Dan dari tanah sederhana itu, dari enam sekolah di Pagak dan Sirkandi, Indonesia sedang menyiapkan pemimpin-pemimpin masa depannya.
Karena sejarah besar bangsa ini, sering kali, berawal dari api unggun yang sederhana.
***(abenn29_kapusdatin.bna)



















