Banjarnegara – Ada yang berbeda di tepian Kali Desa Cendana, Kecamatan Banjarnegara, Kamis (18/6/2026). Di tengah peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, sekelompok generasi muda memilih merayakannya bukan dengan seremonial yang gemerlap, melainkan dengan cara yang lebih bermakna: menyentuh bumi dengan tangan mereka sendiri.
Sejak pagi, suasana di Desa Cendana dipenuhi semangat kepedulian. Di bawah langit yang teduh, para peserta bergerak menyusuri aliran kali, memunguti sampah yang tersangkut di bebatuan dan rerumputan. Tak hanya itu, mereka juga membuat lubang resapan biopori, sebuah ikhtiar sederhana namun sarat makna untuk mengembalikan kemampuan tanah menyimpan air dan menjaga keseimbangan alam.
Kegiatan puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 ini berlangsung aman dan lancar dengan pendampingan Kak Slamet Riyadi.
Sebelas personel yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah Muhammad Farhan Muzaqi, Faisya Yanuar Putra, Agus Riski Alif Ramadan, Diono, Rhasya Jingga, I Putu Wahyu Krisna Pradika, Lydia Ristiani, Tiwi Umairoh, Roifah Zahro, Syifa Auliya Yusup, dan Nanda Dwi Khasanah.
Bagi mereka, sungai bukan sekadar aliran air yang membelah kampung. Ia adalah nadi kehidupan yang harus dijaga agar tetap mengalir membawa keberkahan. Setiap sampah yang diangkat dari dasar kali seolah menjadi doa yang dipanjatkan kepada bumi, agar alam tetap bersahabat dengan manusia.
Pendamping kegiatan, Slamet Riyadi, mengatakan bahwa menjaga lingkungan tidak harus menunggu langkah besar, tetapi dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan dengan kesadaran dan keikhlasan.
“Lingkungan yang bersih bukanlah warisan dari leluhur, melainkan titipan bagi anak cucu kita. Hari ini adik-adik telah menunjukkan bahwa mencintai bumi bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata. Aksi bersih kali dan pembuatan biopori ini mungkin sederhana, tetapi jika dilakukan bersama dan berkelanjutan, dampaknya akan sangat besar bagi masa depan,” ujar Slamet Riyadi. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Desa Cendana menjadi pengingat bahwa bumi selalu berbicara dengan caranya sendiri. Ia tidak meminta banyak, hanya menghendaki manusia kembali bersahabat dengannya. Dan pada Kamis pagi itu, di antara gemericik air kali dan tanah yang dilubangi untuk biopori, harapan itu tumbuh pelan-pelan, seperti benih yang kelak menjelma menjadi kehidupan.***(abenn29_kapusdatin.bna)



















